Skip to main content

Catatan Dari Kairo: Penjahat Kelamin


Cairo, 2009

“Maria!!!, hati-hati. Berdiri saja di samping supir, lebih aman” teriak Rita*, teman satu perjuangan di asrama dan kampus. Tanpa pikir panjang, saya langsung mencoba keluar dari sesaknya penumpang menuju tepat di samping sopir. Tempat ini seakan jadi favorite bagi para mahasiswi Asia, termasuk Thailand dan Malaysia, jika bis sudah penuh sesak. Bayangkan saja, rata-rata bis di Kairo dapat mengangkut sekitar seratus bahkan lebih penumpang. Sangat dipaksakan. Saking banyaknya, bis dapat berjalan dengan kemiringan yang tidak seimbang. Jika belok, rasanya kami seperti mau tumpah ke pinggir jalan.
           
Delapan Puluh Coret, Dua Empat Jim, Enam Lima Kuning dan Enam Lima Putih, adalah nama-nama bis favorit kami. Nama yang unik bukan? Di bis inilah kami harus extra waspada dan hati-hati. Bukan hanya terhadap para pencopet, tapi juga para pelaku kriminal lainnya yang hobi menyalurkan hasrat seksualnya dengan sengaja memegang, menyerempet bahkan mendempet para wanita yang kebetulan terdesak di dalam kerumunan penumpang bis. Sama sekali tidak beradab. Parahnya lagi, mereka suka membidik mahasiswi Asia, karena mereka pikir wanita Asia tidak akan berani berteriak bahkan mendamprat para penjahat itu.
            
Eh da, bita’mali ehHaraaam ya ‘Am !!. Yahrabbaytak !!!”.”Hey, sedang apa kamu??? Haraaam...!!” 

Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat lantang di belakang. Dan saya tau, itu adalah suara senior saya, Rani*. Dia teriak sekencang-kencangnya, mengeluarkan kata-kata kasar. Seketika, penumpang lain ikut beramai-ramai membela Rani.

 “Dasar laki-laki Mesir kurang ajar!!!”, maki dia dengan kesal. 

Bahkan saking kesalnya dia ngomel dengan bahasa Indonesia. Entahlah, dia hanya ingin melampiaskan perasaan geramnya. 

Laki-laki itu dengan tanpa berdosa, hanya menjawab “Fi eh?”“Ada apa, ada apa?”. 

Rani kembali geram, dan langsung berteriak “Inzil, enta musy mu’addab kholish”. “Turun kamu, dasar laki-laki ga beradab”.

Seketika semua pun tau, bahwa laki-laki itu telah melakukan perbuatan memalukan. Sontak, seluruh penumpang membela Rani, dan laki-laki itu, dengan wajahnya yang pura-pura bodoh, turun dan tersenyum.

 “Sialan!!!”, batinku.        
     
Bukan hanya sekali, kejadian ini terjadi berkali-kali. Hampir di setiap naik bis saya harus waspada, memilih tempat pinggir, atau lebih baik bersanding dengan kondektur bis atau sopir. Posisi ini lumayan aman, dibanding jika saya harus berada di tengah kepadatan penumpang, yang jika ingin bernafaspun seolah-olah saya harus mengeluarkan kepala keluar jendela bis. Sangat menantang. 

Sebagai antisipasi, di setiap kami ingin bepergian dan harus menggunakan transportasi bis, kami selalu siapkan jarum. Satu-satunya senjata yang sangat efektif untuk membalas para penjahat itu. Suatu kali, saya hampir menjadi korban. Tiba-tiba saya di desak oleh laki-laki Mesir. Tanpa basa-basi, seketika saya mencabut jarum yang telah terkait di kerudung saya. Dengan penuh keganasan, saya balas laki-laki itu dengan satu tusukan maut dari sang jarum. Aduhai, betapa senangnya saya dapat membalas dan melakukan “self defense” dengan cukup baik. Puas...
            
Cukup menegangkan hidup di Mesir. Negara yang terlihat aman, namun suatu ketika dapat berubah menjadi ganas. Kultur arab yang keras nampak begitu kentara. Entah, mungkin banyak disebabkan juga oleh faktor lingkungan dan makanan. Cuaca panas ketika musim panas selalu dijadikan tameng bahwa temperatur panas sangat berdampak terhadap prilaku masyarakat Arab. Jika saja, global warming sudah mengancam di seluruh bagian dunia, akankah semua manusia di bumi ini akan berlaku keras seperti orang Arab?
            
Kami sering menyebutnya keturunan Fir’aun jika mendapati mereka yang bertingkah layaknya penjahat. Namun, tak sedikit pula warga Mesir yang sangat ramah dan baik. Dermawan, bersahaja, dan alim. Kami menyebutnya sebagai keturunan Nabi Musa. Orang Arab tidak selalu kasar, emosional dan pemarah. Siapa saya bisa menilai orang dari ‘luar’nya saja. 

Jika Ramadlan tiba, inilah hari yang paling membahagiakan bagi mereka untuk ber-shadaqah. Tidak tanggung-tanggung mereka akan membagi-bagikan uang kepada siapa saja yang sedang berlalu-lalang di jalan, masjid, dan pertokoan. Pecahan dua puluh sampai lima puluh pound bertebaran disana-sini. Biasanya, mereka juga mengirimkan banyak sekali bantuan kepada pelajar asing yang ada di Kairo. Terkadang berbentuk pecahan uang, atau sembako.
            
Tidak ada keterputusan peradaban Islam di negri ini, seperti halnya yang terjadi dinegara-negara baru pecahan Uni Soviet. Mereka sengaja di buat ‘lupa’ akan Islam, yang sejatinya telah mengakar di negara-negara seperti Kazakhstan,Turkmenistan, Tajikistan dan Stan-Stan lainnya oleh sang penguasa, Lenin. Maka wajar saja jika kultur Barat terlihat sangat dominan, meskipun sebenarnya mereka adalah seorang muslim. Mesir mempunyai akar yang kuat, baik Islam Sunni atau Syi’ah. Beragam madzhab-pun tumbuh subur di negri ini, meski saat ini mayoritas masyarakat Mesir adalah penganut Islam Sunni, sekaligus bermadzhab Hanafi sekaligus Syafi’i dalam orientasi fiqh-nya.

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Dari Kairo: Kuchuk Hanem

Cairo, 2005 Melayang-layang di atas awan tidak begitu membekas bagi saya. Sesekali hanya merasa gugup, dan pasrah. Sesekali juga kagum. Melihat gugusan awan yang terlihat saling mendahului dengan pesawat yang kami tumpangi. Biru dan orange. Dua warna inilah yang mendominasi langit dikala siang mendekati senja. Guratan-guratan awan terlihat jelas. Mungkin itu merupakan garis batas yang membelah langit, sebelah kiri milik Arjuna dan yang kanan milik Gatot Kaca (?)   Pukul delapan malam tepat waktu Abu Dhabi, pesawat yang saya tumpangi harus istirahat, mengisi perut yang sudah mulai kosong. Saya harus transit semalam di negara ini. Sambil membenahi beberapa barang bawaan, tiba-tiba saya ditodong pertanyaan panjang, “Ambil cuti berapa bulan mbak?”, tanya seorang perempuan manis berkulit sawo matang kepada saya. “Cuti?”. Saya mendadak bingung. Dia pun kembali menanyakan hal tersebut dengan lebih jelas. “Mbak dulu berangkat dari mana? Dapat cuti ya, berapa bula

Menelusuri Situs-situs Peninggalan Mamalik

Oleh : Maria Ulfa Fauzy Banyak hal yang harus dieksplorasi lebih lanjut dalam menguak sejarah peradaban Islam, baik berupa manuskrip, tradisi, atau bangunan-bangunan kokoh nan klasik. Bukti sejarah inilah yang nantinya justru banyak berkisah tentang berbagai peradaban masa silam, meskipun ada beberapa diantaranya yang hanya meninggalkan sebuah kisah. Dalam catatan sejarah, Mesir termasuk salah satu penyimpan varian peradaban eksotik dunia. Dimulai sejak zaman Pharaonic 3200 SM, kemudian periode Hellenistic yang dimulai ketika Iskandar Agung berhasil mengalahkan Persia 332 SM. Dilanjutkan era Romawi 30 SM, dan dekade peradaban Islam yang diprakarsai oleh Amru bin Ash 640 M. Sejarah peradaban Islam mencatat, Mesir termasuk salah satu kawasan yang sempat dihinggapi oleh beberapa dinasti kenamaan. Sebut saja dinasti Tholouniyah, didirikan oleh Ahmad bin Thouloun pada tahun 868-905 M. Kemudian dinasti Ikhshidiyah 935-969 M, Fathimiyah 969-1171 M, Ayyubiyah 1171-1250 M, Mamalik 1250-1517

Berdiri di Kota Mati, “The City of The Death”

The City of The Death. Nama inilah yang membuat saya tergoda untuk melirik dan meniliknya. Yah , kawasan ini terletak di Kairo. Tepat di jantung kota Kairo, ibu kota Mesir. Melihat namanya, seolah saya akan melihat sebuah kota yang mati, tidak berpenghuni, karena mungkin tidak difungsikan lagi oleh pemerintah setempat sebagai lokasi pemukiman penduduk. Ini merupakan perjalanan saya dua tahun yang lalu ke sebuah kawasan bernama Duwaiqoh , atau orang Mesir menyebutnya sebagai Duweah , karena huruf Qhof sering hilang pe lahfadz an-nya dalam dialek Arab 'amiyah (bahasa pasaran). Kawasan inilah yang sering dirujuk oleh banyak wisata asing, yang terlena dengan sebutan The City of The Death, atau Cairo Necropolis, atau Qarafa/ el- Arafa . Cukup mengejutkan, ternyata kawasan ini sebenarnya adalah kawasan pekuburan. Namun, pekuburan yang mempunyai banyak penghuni. Loh kok bisa? Yah, dan penghuninya bukanlah sesosok hantu melainkan warga masyarakat pinggiran Kairo, yang ma