<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624</id><updated>2012-02-16T13:23:26.525-08:00</updated><category term='Der Artikel'/><category term='My Stories'/><category term='Book Review'/><category term='Woman Affair'/><category term='Sebuah Catatan'/><category term='Amazing Journey'/><title type='text'>Just Me</title><subtitle type='html'>I awake underground, in solitude, and i implore God to be my friend...( by; Harawi )</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-3236332346479591269</id><published>2009-03-17T06:36:00.000-07:00</published><updated>2009-03-17T06:47:44.206-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review'/><title type='text'>Khwarizmi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/Sb-o2h5jrVI/AAAAAAAAAFw/SvdY4vsgjmA/s1600-h/khawarizmi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5314151740086660434" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 144px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/Sb-o2h5jrVI/AAAAAAAAAFw/SvdY4vsgjmA/s200/khawarizmi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Judul Buku : Mafatihul ‘Ulum&lt;br /&gt;Penulis : DR. Muhammad Hasan ‘Abdul ‘Aziz&lt;br /&gt;Tahun Terbit : 2004&lt;br /&gt;Tebal buku : 328 halaman&lt;br /&gt;Penerbit : Al- Hay’ah al- ‘Ammah&lt;br /&gt;Resentator : Maria el Fauzy&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Segala hal yang sistematis sejatinya akan mudah untuk ditangkap dan dicerna oleh akal. Berangkat dari nilai-nilai filosofis tersebut seorang intelek muslim abad ke-4 H Abi Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Yusuf Al- Khawarizmi 387 M mulai mengawali sebuah karya besarnya. Khawarizmi memulai dengan pengklasifikasian cabang ilmu pengetahuan produk Arab dan non- Arab, karena sejarahnya memang sebagian lain telah mengadopsi istilah- istilah asing dari Yunani, Persia dan India seperti halnya logika, filsafat, aritmatika, geometri dsb, meskipun dalam beberapa waktu kemudian telah diislamisasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas, buku yang telah di tahqiq oleh orientalis Belanda Van Vloten (1866-1903 M) sedikit banyak mendeskripsikan awal perkembangan dan pentahbisan sebuah istilah yang ternyata mempunyai sosio historis tersendiri. Misalnya, istilah yang digunakan dalam ilmu Kalam banyak dipengaruhi oleh Mu’tazilah yang ketika itu berperan penting dalam pembentukan madrasah rasional. Perhatian dan konsentrasinya yang banyak tercurahkan untuk ilmu-ilmu Ketuhanan, Metafisika dan Akhlaq, maka tak heran jika muncul sederetan istilah seperti “al-‘adlu” ,“al-tauhid” dan al-manzilah bayna al-manzilatain dst. Adapun beberapa istilah yang ber-aromakan filsafat misalnya; “al- jauhar”, “al-fardu”, “al-jism”dsb. Begitu pula dalam ilmu Nahwu yang memang asli produk Arab tanpa adanya akulturasi dari budaya non-Arab. Dijelaskan pula bahwa pioneer atau pencetus awal ilmu Nahwu adalah Ibnu Abi Ishaq (188 H) dan ‘Isa bin ‘Umar (149 H) dalam wajah yang belum tersistematiskan, yang kemudian oleh Sibaweh dan Abu Aswad mulai disistematiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Penerjemahan buku besar- besaran yang digalang oleh khalifah al-Ma'mun merupakan faktor terbesar masuknya budaya asing, termasuk berbagai macam ilmu pengetahuan dari bahasa Yunani, Persia, Syria bahkan dari Ibrani yang dialih bahasakan ke Arab. Ibnu Muqoffa’ (142 H) termasuk intelektual Arab yang mempelopori masuknya ilmu- ilmu filsafat dan logika, dan banyak menerjemahkan beberapa karya Aristoteles, yang kemudian sangat berpengaruh terhadap pola pikir keilmuwan bangsa Arab. Disusul kemudian dengan munculnya Al-Kindi (252 H), sarjana kenamaan ini juga telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan filsafat Islam, logika dan kedokteran. Ia merupakan intelektual Arab pertama yang menulis beberapa buku filsafat dalam bahasa Arab beserta istilah-istilahnya, sebagai misal; “al- ‘illah al- ula”, “ al- ‘aql wa al- jazm” dsb. Yang juga ikut andil dalam diskursus ini adalah seorang ahli filsafat muslim dan juga sejarawan Abu Nasr Al-Farabi (339 H), beliau telah banyak menerjemahkan buku filsafat karya Plato dan Aristoteles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Arab sejatinya banyak mengadopsi ilmu kedokteran sekaligus istilahnya dari Yunani. Adalah Hunain bin Ishaq (194-264 H) yang paling banyak menerjemahkan buku- buku kedokteran Yunani ke bahasa Arab dan Syria, seperti yang dilansir oleh Ibnu al- Nadiim bahwa Hunain sangat fasih dan handal berbahasa Yunani dan Arab. Kepercayaan ulama terdahulu sangat besar atas kepiawaian beliau mempermainkan kata dan mengibaratkannnya tanpa merubah substansi. Hunain juga produktif dalam penulisan buku kedokteran, hampir sekitar puluhan buku beliau terbitkan yang ketika itu banyak dijadikan referensi utama. Karya beliau yang paling masyhur adalah “ al- ‘Asyru Maqalaat fi al- ‘Aini” dan dijadikan pengantar dalam ilmu kedokteran. Beliau juga banyak memberikan istilah- istilah penyakit khususnya dalam spesialis mata seperti ;”al- Ramad wa al- Sabal”, “al- Sya’iiroh”, al- Syatroh”, serta mengklasifikasikan al- Ramad ada tiga jenis yang masing- masing menggunakan bahasa Yunani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Abu Bakar Al-Razy juga tercatat ikut berpartisipasi dalam perkembangan ilmu kedokteran Arab sekitar abad ke 4 H (311- 320 H). Ilmu kedokteran ketika itu sangat populer dan beliau termasuk ahli filsafat sekaligus kontributor dalam kemajuan ilmu kedokteran. Al-Razi banyak berkarya dalam bentuk penulisan buku tentang pengobatan alternatif yang dapat dimanfaatkan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Khawarizmi hidup pada abad ke 4 H dengan nama Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Yusuf Al-Khawarizmi. Beliau sangat peduli terhadap perkembangan ilmu ketika itu, karena telah banyak diwarnai aroma asing. Pengklasifikasian cabang ilmu pengetahuan oleh Al- Khawarizmi terbagi menjadi dua sub tema besar yaitu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ilmu dasar yang mendasari berbagai ilmu pengetahuan Arab meliputi ; Fiqh, Kalam, Nahwu, Kitabah (tulisan), Sya’ir, Akhbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ilmu asing yang diadopsi dari Yunani, Persia dan India meliputi ; Falsafah, Logika, Kedokteran, Aritmatika, Arsitek, Astronomi, Musik, Mekanika, Kimia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Khawarizmi, sub-sub besar tersebut di klasifikasikan lagi sesuai dengan perkembangannya. Misalnya, Ilmu Fiqh terbagi lagi menjadi beberapa bab; Ushul Fiqh, Thaharah, Sholat dan Adzan, Puasa, Zakat, Haji, Jual Beli, Nikah dan Thalaq, Addiyat, Al Faridhoh, dan Nawadir. Dan logika terbagi lagi menjadi 9 bab; al- Madkhal, al- Maquulaat, al-Tafsir, al- ‘Aks (antologi), al- Iidloh, al- Jadl, al- Tahakum, al- Khithobah (retorika) dan al- Syi’r.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah adalah yang membahasakan suatu pengetahuan, yang pada hakekatnya tidak menjadi sebuah keharusan, tapi juga tidak masuk dalam pelarangan. Sehingga banyak ditemukan satu kata yang mempunyai istilah tersendiri sesuai dengan cabang ilmu masing- masing. Ketika dijumpai kata “ruju’”, astronom akan memaknai sebagai berbaliknya arah laju planet dari garis orbitnya, kemudian ahli Fiqh akan memaknai ruju’ nya suami istri yang tidak termasuk di dalamnya tholak baa'in, adapun sebagian orang syi’ah akan memaknainya sebagai kembalinya sang Imam setelah wafat. Sekiranya sebuah istilah memegang peranan penting dalam ilmu pengetahuan, maka al- Khawarizmi dengan kesungguhannya mencoba untuk mengklasifikasikan cabang ilmu pengetahuan yang tak terbatas. Kepiawaiaan Khawizmi dalam mengklasifikasikan sebuah istilah di setiap cabang ilmu sangat beragam. Di dalam kedokteran beliau memulai dari nama obat-obatan yang mayoritas menggunakan Shigat ( fa’uul) bi fathil fa’ misal; al- Ghasuulaat, al- Nathuulaat, al- Sakuubaat, al- Wajuuraat, al- Sa’uuthaat dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. Muhammad Hasan Abdul Aziz dalam buku ini juga menyuguhkan komparasi antara pembagian cabang ilmu pengetahuan oleh al-Khawarizmi, al-Farabi dan al-Fihrisaat nya Ibnu Nadiim. Ihshaaul ‘ulum karya al- Farabi adalah paling awal karena beliau wafat sekitar 48 tahun sebelum Khawarizmi wafat. Sedangkan karya Ibnu Nadiim termasuk yang terakhir. Ketiganya mempunyai persamaan dalam pengklasifikasian masing-masing cabang besar ilmu pengetahuan, hanya saja perbedaan diantara ketiganya terletak pada tujuan ataupun sasarannya. Jika Farabi lebih membatasi cakupan tema pada setiap cabang ilmu pengetahuan dan tujuan akhirnya, maka Khawarizmi lebih pada pembatasan dan penggunaan istilah dalam setiap cabang ilmu. Berbeda dengan apa yang diusung oleh Ibnu Nadiim, beliau lebih banyak menjelaskan awal perkembangan ilmu itu sendiri sekaligus nama pengarang lengkap dengan biografinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farabi membagi ilmu pengetahuan menjadi 8 cabang besar, meliputi; Ilmu Lisan, Logika, ‘Uluum al- Ta’alim, Metafisika, Ketuhanan, Kewarganegaraan (berkenaan dengan masyarakat), Fiqh dan ilmu Kalam. Dan setiap cabangnya mempunyai bagian tersendiri. Ketika Khawarizmi membagi ilmu Mantik menjadi 9 bab, maka Farabi hanya membaginya menjadi 8 bab; al- Maquulaat, al- ‘Ibaaroh, al- Qiyas, al- Burhan, al- Hikmah al- Mamuhah, Retorika dan Syi’r. Perbedaan yang nampak dalam karya Farabi adalah tidak adanya pembagian antara ilmu asli Arab dan ilmu yang diadopsi dari non- Arab. Kemudian dalam pengertiannya ilmu Kitabah, menurut Farabi merupakan bagian dari ilmu Lisan sebagai dasar dalam Qawa’idul Imla’. Tetapi Khawarizmi memberikan pengertian sebagai cabang ilmu independen yang digunakan dalam perkantoran dan madrasah- madrasah. Ibnu Nadiim lebih menjelaskan secara detail tentang buku- buku pada setiap cabangnya sekaligus pengarangnya selain melakukan pembagian terhadap cabang ilmu pengetahuan, yang sama sekali tidak dilakukan Khawarizmi dan Farabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian kedua dari buku ini akan disuguhkan pula muqaddimah Van Vloten yang diterjemahkan dari bahasa latin oleh DR. Hamdi Ibrahim. Dan sekaligus pada bab berikutnya adalah kutipan dari buku Mafatihul ‘Ulum yang disertai tahqiqan Van Vloten. Sangat tidak diragukan, kepiawaian Khawarizmi telah memberikan banyak kontribusi dalam dunia pengetahuan yang kemudian banyak diadopsi Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-3236332346479591269?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/3236332346479591269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=3236332346479591269' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/3236332346479591269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/3236332346479591269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2009/03/khawarizmi-judul-buku-mafatihul-ulum.html' title='Khwarizmi'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/Sb-o2h5jrVI/AAAAAAAAAFw/SvdY4vsgjmA/s72-c/khawarizmi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-2242124677979114819</id><published>2009-02-17T05:50:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T06:00:53.521-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Der Artikel'/><title type='text'>Asy'ariyah, Sebuah Gagasan Berlaku Moderat</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SZrCLZFV4FI/AAAAAAAAAFY/sjhjtmHsJTA/s1600-h/asy"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303765012149821522" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 130px; CURSOR: hand; HEIGHT: 144px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SZrCLZFV4FI/AAAAAAAAAFY/sjhjtmHsJTA/s200/asy%27ari.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;by ; Maria el Fauzy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Teologi Asy'ari yang banyak berkembang di Indonesia oleh kalangan Sunni, (baca; Nahdliyyin), dalam beberapa dekade ini banyak mengundang problematika baru, terlebih jika dikaitkan dengan situasi kontemporer sekarang. Upaya untuk selalu melegetimasikan pokok-pokok akidah dan keimanan yang dipelopori Imam Asy'ari secara kontinue lambat laun akan dihadapkan pada sebuah pergolakan baru. Polemik-polemik baru dan nyata inilah sebenarnya yang menantang keberadaan kaidah paten ala Asy'ari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dipandang dalam kerangka utuh, kita akan temukan kisah panjang ahlu sunnah yang pada awalnya sebagai ahlu hadist. Tepatnya, adalah mereka yang mengikuti sunnah Nabi dan sunnah sahabat. Pendapat lain menyebutkan, bahwa madzhab ahlu sunnah adalah kelanjutan dari apa yang pernah dilakukan Nabi dan sahabat. Nah, dalam teologi Asy'ari dan al-Maturidi inilah pokok dan ajaran Ahlu Sunnah banyak dibincangkan, bahkan lebih jauh lagi Imam Asy'ari sebagai pelopor madzhab ini mencoba mematenkan landasan dalam berakidah ala Ahlu Sunnah. Dalam wacana ini penulis hendak menelusuri perjalanan panjang konsep aswaja dalam akidah Asy'ari. Sekaligus sepak terjangnya serta clash-clash yang terjadi antara teologi Asy'ariyah dengan kaum filosof.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Berawal dari peristiwa Tahkim yang terjadi antara Ali dan Mu'awiyah sekitar abad II Hijriah, setidaknya telah menimbulkan berbagai corak pemikiran yang terlampau ekstrem, termasuk dalam masalah akidah yang saling bertentangan. Munculnya kaum rasionalis (baca; mu'tazili), khawarij, syi'ah dan golongan lainnya serta paham-paham mujassamah dan musyabbahah menjadikan kondisi ketika itu semakin panas dan tak menentu arahnya. Kerusuhan teologi semakin tidak terbendung, pengkafiran dan pembid'ahan antara satu dengan yang lainnya bahkan sudah menjadi tradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun disisi lain, penalaran model logika dan filsafat Yunani mulai banyak diminati oleh beberapa dari mereka (baca; filosof dan mu'tazili). Identitas dan ciri utamanya adalah pendekatan takwil atau interpretasi metaforis terhadap nash-nash dalam Kitab dan Sunnah yang tergolong mutasyabihat. Jika dikomparasikan dengan kaum salaf, maka mereka akan lebih memilih diam dan mengembalikan sepenuhnya kepada otoritas Tuhan. Pun dalam beberapa masalah lainnya seperti, af'alu al-'ibad dan penciptaan al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Hasan Ali al-Asy'ari dari Basrah hidup tepat ketika masa konsolidasi dan pembukuan paham Sunnah, sekitar tahun 260 H/873 M, maka tak heran jika didapati aroma ortodoks dalam segelumit metodenya, yaitu yang bersumber pada al-Kitab dan Sunnah. Tidak hanya itu, metode jitu lainnya yang beliau lontarkan adalah, penggunaan nalar sebagai pisau analisa sekaligus piranti, guna membela paham-paham ahlu hadist. Sebenarnya tidaklah heran ketika Asy'ari menggunakan metode logis nan dialektis dalam berargumen, dilihat dari background awalnya sebagai seorang mu'tazili. Baru diumurnya yang ke empat puluh tahun, dia mulai bergabung dengan komunitas ahlu hadist yang dipelopori Imam Hanbali. Oleh sebab inilah keberadaan Asy'ari pada awalnya belum dapat diterima secara lapang oleh kaum hadist. Namun, dalam beberapa loncatan selanjutnya teori kalam Asy'ari mendapatkan posisi yang dapat dikatakan cukup memuaskan, meskipun hingga saat ini masih banyak polemik yang saling bersautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah seperti apa yang tertulis diatas, bahwa dalam teologinya Imam Asy'ari menempatkan logika aristhy pada posisi sekunder setelah nash Qur'an dan Hadist. Posisi tengah yang diambil Asy'ari sangatlah tepat, yaitu sebagai penghubung antara kaum tekstualis (hanbali) dan rasionalis (mu'tazili). Sehingga dengan metodenya yang 'tengah-tengah', menjadikan paham ini dapat dengan mudah diterima oleh khalayak umat Islam. Terlebih disaat Al-Baqilani (1103 M), Juwaini (1028 M), dan Ghazali (1058 M) mulai tampil ke permukaan. Dengan kepiawaian berargumen ala Ghazali serta prilaku zuhudnya, menjadikan rumusan teologi ini dirasakan mantap sebagai landasan akidah bagi kaum Sunni, yang seolah-olah tidak dapat diganggu gugat lagi. Berangkat dari titik poin inilah, sehingga paham Asy'ari dipandang moderat. Terlebih jika dibandingkan dengan mu'tazili yang lebih mendahulukan posisi 'aql dari pada naql, dan sebaliknya kaum tekstualis yang sama sekali mengingkari keberadaan 'aql sebagai landasan pengetahuan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Subki dalam Thabaqatnya pernah mengatakan, " Ketahuilah bahwa Abu Hasan Al-Asy'ari tidak membawa ajaran baru atau madzhab baru, beliau hanya menegaskan kembali madzhab salaf dan menghidupkan ajaran-ajaran Rosul". Dari statement diatas dapat disimpulkan bahwa kepastian hubungan antara Asy'ari dan kaum salaf sangat terlihat jelas, terutama dalam konsep baru-nya, yang teringkas dalam tiga point utama ; 1) Bahwasanya al-Qur'an adalah KalamuLLah, dan bukan makhluk. 2) Bahwa kaum beriman akan dapat melihat Allah di akhirat. 3) dan Allah bersemayam diatas arsy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, seperti yang dikisahkan para sejarawan, bahwa pada masa ini filsafat dan ilmu-ilmu yang beraromakan Yunani belum dapat diterima, bahkan cap kafir dan atheis seringkali disematkan kepada mereka para filosof. Seorang Ghazali dengan Sunni-Asy'ari-nya pun sering kali didengung-dengungkan sebagai panglima utama dalam ofensi ini, terutama serangan terhadap ideologi filosofis yang berseberangan dengan ideologinya. Yaitu dengan menghabiskan langkah demi langkah kekurangan filosof dan mulai membantainya dengan pola pikir Asy'ariah. Tujuannya tidak lain adalah untuk menjelaskan ketidakmampuan akal menggapai kebenaran. Dan sayangnya, bukan malah sebagai pencari kebenaran yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergumulan selanjutnya, teologi ini dihadapkan pada sebuah dialektika hebat dengan kaum filosof. Sebut saja sebagai panglimanya Ibnu Rusyd, sarjana Islam kenamaan dari bumi Andalus. Terdapat tiga point penting yang dianggap misunderstanding, dan yang menjadi argumentasi pengkafiran para filosof. Pertama adalah mengenai qudum al-'alam, Kedua, bahwa Tuhan hanya mengetahui hal-hal yang bersifat parsial. Ketiga, tentang pembalasan terhadap jasad manusia disamping ruh-nya pada hari kebangkitan. Anggapan para mutakallimin, khususnya oleh Ghazali bahwa alam hadis mendapatkan lawan dari kaum filosof yang justru menyatakan bahwa alam qadim, dengan argumentasi bahwa alam secara kolektif keluar dari 'ilmuLLah' yang qadim, menuju ruang yang terikat oleh waktu (timeless). Allah yang qodim adalah penyebab adanya alam, atau dengan makna lain bahwa alam adalah akibat dari Allah yang qodim. Maka sesuatu yang qodim akan bersifat qodim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, pilihan para mutakalimin pun beralasan, mengenai penolakannya terhadap teori sebab dan akibat. Karena Asy'ari menganggap bahwa konsep ini akan membatasi kehendak Tuhan (iradatuLLah), dan iradah menurut Asy'ari adalah kemampuan untuk berkeinginan melakukan sesuatu atau tidak. Lagi-lagi kita akan menemukan sebuah kesalahpahaman tentang teori kausalitas Ibnu Rusyd yang dianggap nyeleweng. Menurut Ibnu Rusyd sendiri, hukum kausalitas juga termasuk ciptaan Allah, sehingga tidak akan membatasi keinginan Tuhan, karena teori sebab akibat ini adalah bentukan akal Illahi yang diciptakan Allah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya dalam masalah terciptanya alam, namun teori sebab-akibat juga berlaku pada manusia. Artinya, tidak juga membatasi kehendak manusia. Erat kaitannya dengan terma "kasab" yang dirumuskan Asy'ariah, yang hakekatnya sama sekali tidak berbeda, yaitu sama-sama diciptakan Allah. Disatu sisi manusia mempunyai kebebasan dalam melakukan segala hal, tapi disisi lain semua telah ditentukan Allah, jelas merupakan suatu perkara yang kontradiktif. Maka Ibnu Rusyd pun berpendapat, bahwa manusia harus menuntut sebuah pengetahuan (ilmu), dan dari titik tolak inilah dapat diketahui mekanisme beserta struktur-struktur alam semesta yang tunduk pada hukum "sebab-akibat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali juga menolak teori sebab dan akibat dalam rangka mempertahankan nubuwwah (kenabian) dan mukjizat. Menurut nalar logis Ghazali, dengan hukum kausalitas maka kenabian bisa diperoleh siapa saja, dan otomatis keyakinan terhadap mukjizat yang diyakini sebagai justifikasi kenabian akan lenyap. Namun Ibnu Rusyd menilai bahwa justifikasi kenabian bukanlah semata-mata dari mukjizat an-sich, namun justru terletak pada kandungan syari'at yang dibawa Nabi. Yaitu sebuah syari'at yang baik, bermanfaat bagi kehidupan manusia dan rasional, maka syari'at itulah yang benar-benar diturunkan Allah kepada Nabi-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih banyak lagi point-point lain dalam perdebatan sengit antara mutakallimin Asy'ariyah versus filosof, namun bisa dikatakan bahwa pusat argumentasi Asy'ari berada pada upayanya untuk membuktikan adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta, dan alam raya ini ada karena diciptakan Tuhan dari ketiadaan (ex nihilo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy'ariah selaku madzhab yang 'terlanjur' dinilai moderat, seharusnya-pun dapat bersikap moderat dalam menanggapi hal-hal baru yang bersentuhan dengan kawasan Ketuhanan. Tanpa meninggalkan wahyu dan akal sebagai hukum dasar dalam berijtihad, seperti halnya yang dilakukan Imam Asy'ari ketika itu. Dan terlepas dari itu semua, bahwa Asy'ari dengan segala metodenya mampu memperkokoh konsep Ketuhanan yang patut untuk diakui.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-2242124677979114819?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/2242124677979114819/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=2242124677979114819' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/2242124677979114819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/2242124677979114819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2009/02/asyariah-sebuah-gagasan-berlaku-moderat.html' title='Asy&apos;ariyah, Sebuah Gagasan Berlaku Moderat'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SZrCLZFV4FI/AAAAAAAAAFY/sjhjtmHsJTA/s72-c/asy%27ari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-4432480999514008382</id><published>2009-02-17T05:30:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T05:43:33.165-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Woman Affair'/><title type='text'>Tradisi yang Melegenda</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SZq9jCOYZ3I/AAAAAAAAAFI/nY-0JWVmoXY/s1600-h/Mieris%20woman.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303759920772441970" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 171px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SZq9jCOYZ3I/AAAAAAAAAFI/nY-0JWVmoXY/s200/Mieris%2520woman.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;by; Maria el Fauzy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melawan tradisi sejatinya memang menantang, terlebih ketika tradisi tersebut berada dibawah otoritas teologi atau social masyarakat. Sedikit berkaca terhadap kisah beberapa abad yang lalu, Galileo Galilei seorang ilmuan kenamaan yang mengakhiri masa hidupnya di tiang gantungan, sebagai akibat dari penemuan terbarunya ketika melawan tradisi gereja. Perihal seperti itulah yang banyak menumbuhkan sikap 'fobia' beberapa kaum intelektual disaat hendak mengusung hal baru yang melawan arus atau tradisi setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ranah teologis, tradisi bukanlah diciptakan masyarakat hanya untuk mengatur kehidupannya semata, namun hal tersebut merupakan perwujudan dari sikap yang harus ditempuh untuk lebih dapat memfokuskan diri dalam menjalankan aqidah, ibadah, olah pikiran dan berprilaku yang sesuai dengan etika agama. Sebuah upaya yang seharusnya patut dihargai, dalam rangka menciptakan keharmonisan nilai-nilai agama dan kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Budaya sebagai hasil konstruksi masyarakat setempat, yang kemudian mendapati kesepakatan secara bersama dan mulai diberlakukan, paling tidak akan melahirkan sebuah konsekuensi dimana masyarakat wajib mengikutinya. Komunitas masyarakat (civil society) yang termasuk didalamnya laki-laki dan perempuan, dituntut untuk selalu menghargai dan menghormati tradisi setempat meskipun terkadang tidak bersepakat. Jika direnungkan kembali tata cara busana Islami yang diberlakukan bukan hanya formalitas belaka, tetapi berdasarkan pertimbangan terhadap kondisi dari masing-masingnya guna menjaga keluhuran akhlak, pemeliharaan terhadap diri sendiri dan merefleksikan rasa malu yang itu merupakan keutamaan manusia yang paling tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari pada itu, faktor lingkungan (environment) merupakan kontributor terbesar dalam membentuk pribadi seseorang, seperti yang dilansir oleh Max Weber pakar sosiolog dunia. Terlebih di era globalisasi, dimana masyarakat dunia akan saling berinteraksi tanpa sekat. Akulturasi budaya asing dengan budaya setempat akan melahirkan sebuah kultur baru, entah itu baik atau bahkan sebaliknya. Nah, disinilah pertahanan diri seorang wanita sangat dibutuhkan, dalam artian kepribadian wanita ber-agama. Spirit keagamaan yang tertanam kemungkinan akan luntur jika tidak dipertahankan dan diperkuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip perkataan Ibnu Khaldun, sejarawan klasik sekaligus sarjana Islam kenamaan, bahwa sebuah peradaban besar terlahir dari budaya membaca dan tulis menulis. Meskipun selikas terlihat sepele, namun dari sinilah akar peradaban dunia dimulai. Sangat ironis memang ketika asumsi buruk tentang wanita mulai marak bermunculan, yaitu ketika wanita hanya dianggap mumpuni dalam kehidupan rumah tangga saja. Padahal jika kita menghargai wanita dengan segala daya kemampuannya maka jangan heran jika nanti bangsa Indonesia khususnya, akan menjadi pusat peradaban dunia. Artinya, ketika seorang wanita hanya beraktivitas selaras dengan tradisi yang pasif dan tidak produktif, maka jangan bermimpi untuk menjadi Alexandria, Bagdad, Cordova yang dulunya dijadikan rujukan keilmuan dunia. Nah, hal terdekat yang akan mampu mewujudkan impian itu adalah dengan menciptakan sebuah kultur baru, yaitu cinta akan reading and writing. Sejenak kita tinggalkan dulu propaganda-propaganda yang diusung kaum feminis untuk berpartisipasi dalam ranah politik, karena yang paling utama adalah pendidikan. Penulis pribadi sepakat dengan gagasan cerdas Abduh dan Qasim Amin, bahwa pendidikan bagi seorang wanita sangatlah urgent. Karena bagaimanapun, seorang wanita atau ibu merupakan aset pendidik putra-putri bangsa yang sangat diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa melawan disini bukan dalam artian yang negatif, namun lebih menuju kesebuah pemaknaan yang membangkitkan. Ketika lingkungan belum bisa sepenuhnya mendukung, maka usaha pencarian hal baru di komunitas lain dapatlah dibenarkan. Situasi semacam ini dapat kita lihat di beberapa lingkungan, yang sejatinya mahasiswi putri dapat lebih bersinergi satu dengan yang lainnya. Tidak hanya membudayakan tradisi ikut-ikutan tanpa tau asal muasal dan tujuan sebenarnya. Hal lain yang patut digaris bawahi adalah motivasi, bahwa motivasi dari diri sendiri adalah sebuah bentuk manifestasi yang paling langgeng. Yah, karena kita dituntut untuk bersikap dewasa, independent tanpa selalu bergantung kepada orang lain. Hal ini sangatlah jelas, ketika semua faktor yang mendukung dinilai sempurna, namun nihil motivasi, maka keinginan tersebut hanyalah bersifat utopis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah sebenarnya wanita diuji, bagaimana dia dapat menggunakan akal serta emosionalnya melawan budaya dan tradisi yang pasif dan tidak produktif. Tuhan, sebagai Sang Kreator sama sekali tidak membatasi usaha manusia dalam meraih sebuah cita. Maka, perlulah kiranya kita mulai membebaskan diri untuk berpikir secara dinamis, yaitu menginsyafi bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang tetap, semuanya terus maju dan berubah. Dengan model berpikir semacam ini kita akan menjadi "progress minded" dalam menentukan sikap.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-4432480999514008382?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/4432480999514008382/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=4432480999514008382' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/4432480999514008382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/4432480999514008382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2009/02/tradisi-yang-melegenda.html' title='Tradisi yang Melegenda'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SZq9jCOYZ3I/AAAAAAAAAFI/nY-0JWVmoXY/s72-c/Mieris%2520woman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-3546254593708191930</id><published>2009-02-17T05:21:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T05:48:21.372-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Amazing Journey'/><title type='text'>Sekelumit Kisah "Cities of The Dead", Cairo</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SZq6W4YBtcI/AAAAAAAAAFA/5-aLnKrXvvo/s1600-h/toCidatel03.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303756413435229634" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SZq6W4YBtcI/AAAAAAAAAFA/5-aLnKrXvvo/s200/toCidatel03.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;by ; Maria el Fauzy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dengar kumsari tramco menyebut nama Duwaeqoh atau Duwea?? Atau berita tanah longsor yang menimpa kawasan ini beberapa bulan lalu?? Jawabannya pasti sering dan pernah. Bagaimana tidak, lokasi ini dengan setia selalu menjadi pemandangan indah para mahasiswa yang hendak bersekolah. Alias menjadi satu dari beberapa kawasan yang paling sering dilewati, khususnya bagi mahasiswa yang tinggal di Madinat al-Buuts al-Islamiyah (Asrama Mahasiswa Asing). So, maksudnya?? Yah..ntar dulu bro, sabar yah:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bgini, selain Duwea dikenal sebagai tempat pekuburan terluas di Kairo ada hal menarik lainnya loh. Apa coba?? Hmmm…mari kita bandingkan sejenak dengan pekuburan yang ada di Indonesia. Namanya pemakaman pasti terkesan syereeeemm, bahkan kalo kita melewati area pekuburan tak jarang bulu kuduk mendadak merinding dan ilusi yang nggak-nggak mulai pesta di otak kita. Ya ga?? Halah ngaku aj…gitu aj malu-malu, kekekke….&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Nah menariknya, justru di Kairo ga kenal ilusi-ilusi seperti itu, meskipun tradisi mitos di Mesir tak kalah kental jika dibanding dengan Indonesia. Malahan mereka dengan jantan dan penuh keberanian menempati tempat pekuburan itu sebagai rumah tinggal. Kebayang ga seh?? Perlu nyali kuat tuh hehehhe…atau bisa jadi setannya cakep-cakep, jadi kan tambah bikin betah hihihihi…:D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, kapan yah kira-kira awal mula budaya mukim di pekuburan? Ataukah memang ada semacam warisan tradisi yang melegenda tentang kawasan ini? Mari kita eksplore…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam literature arsitek modern yang ditulis oleh Galila el Kadi dan Alain Bonnamy, dengan judul "Architecture for the Dead Cairo’s Medieval Necropolis", ia menceritakan bagaimana tradisi klasik dengan varian mitosnya mampu membangkitkan skala religiusitas massif bagi warga Mesir, khususnya abad pertengahan. Kawasan Duwea bagi para orient sering disebut dengan " The City of The Dead ", penamaannya itu pun baru mencuat pada abad pertengahan. Jadi dulu Fir'aun belum kenal ama duwea heheh…J&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usut punya usut, beberapa sejarawan mengidentifikasikan adanya kesinambungan model peribadatan orang pagan terhadap tradisi Islam dan Kristen koptik yang terkadang justru semakin kental, termasuk dalam ritualnya. Nah, disinilah kisah awal itu akan dimulai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon ne yah, warga Mesir sangat getol dalam sesembahan. Dan daerah ini memang digunakan untuk pemakaman para khalifah dan imam, yah… gampangnya 'orang besar' lah. Layaknya di Indonesia, ziarah makam wali merupakan sebuah tradisi bagi komunitas tertentu dan telah menjamur. Begitu halnya di Mesir. Makam khalifah dan para imam layaknya tempat pariwisata yang sanggup meraup devisa besar. Dan ditunjang dengan keyakinan budaya setempat bahwa dengan mengasingkan diri selama berhari-hari di kawasan pemakaman tersebut akan mendapatkan berkah yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dikatakan Louis Massignon orientalis asal Prancis, bermula pada dinasti Fatimiyah, tradisi tersebut berkembang semakin marak. Biasanya kaum lelaki melakukan sholat di masjid, sedangkan kaum wanitanya hanya dapat melaksanakan ritual keagamaan di kuburan-kuburan tersebut. Hal ini awalnya berlaku bagi komunitas bangsawan, namun lambat laun justru yang terjadi malah sebaliknya, bahkan sekarang ini mayoritas yang bermukim disitu adalah warga kumuh dan ekonomi rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut cerita, pada masa Sultan Ayyubid Malik al-Kamil 1237 H, sang khalifah menciptakan tradisi baru. Apa itu??? Hmm…jadi tradisi baru bagi masyarakat kala itu adalah melakukan perayaan dengan mengitari tujuh tombs (makam besar), yang dimulai dari tomb Sayyidah Nafisah sampai penghujung pekuburan duwea. Waow jauh kalllee…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, karena tradisi dan anggapan tersebut maka banyak warga yang menjadikan tempat pekuburan sebagai pengganti masjid, yang terkesan sakral dan penuh mitos-mitos . Sehingga untuk mukim di area ini diharapkan dapat membangkitkan religiusitas seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So…kalau kita tilik kembali Duwea yang sekarang, rupa-rupanya tradisi yang dulu tumbuh subur sudah mulai pupus dan mengalami pergeseran makna. Faktanya, yang tinggal di area pemakaman itu bukan lagi kaum bangsawan, namun justru masyarakat ekonomi dibawah rata-rata. Bisa jadi karena kepadatan penduduk di daerah ini, maka mereka mencari tempat bermukim yang tidak keluar banyak duit. Bukankah begitu para pembaca yang budiman…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-3546254593708191930?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/3546254593708191930/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=3546254593708191930' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/3546254593708191930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/3546254593708191930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2009/02/sekelumit-kisah-tentang-cities-of-dead.html' title='Sekelumit Kisah &quot;Cities of The Dead&quot;, Cairo'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SZq6W4YBtcI/AAAAAAAAAFA/5-aLnKrXvvo/s72-c/toCidatel03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-2690703050770542730</id><published>2008-11-07T05:31:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T05:47:25.664-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Catatan'/><title type='text'>Kuchuk Hanem</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SZq_jKTDjZI/AAAAAAAAAFQ/rCklyu4SXAc/s1600-h/kuchuk+hanem.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303762121962786194" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 120px; CURSOR: hand; HEIGHT: 140px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SZq_jKTDjZI/AAAAAAAAAFQ/rCklyu4SXAc/s200/kuchuk+hanem.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;by; Maria el Fauzy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Mengingatkanku akan Kuchuk Hanem. Nama seorang wanita pinggiran Nil yang melulu didengungkan oleh Flaubert. Ia layaknya prototipe kesuburan dan sensualitas wanita Timur yang menjadi inspirator terhebat dalam karya novel dan teatralnya. Layaknya Nerval, Burton dan Lane, Flaubert pun lebih tertarik akan pesona Timur dari beberapa objek sensualitas, termasuk pengalaman malamnya bersama Kuchuk Hanem. Cita rasa dan tarian Hanem "L'Abeille" nampak memukau, spektakuler!. Tak sebanding sedikitpun dengan pelacur-pelacur kota Paris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad 18. Borjuisme Eropa semakin meningkat. Tatanan masyarakat elit terlembaga dengan apik dan elegan. Sistem pemerintahannya tersusun rapi. Dan perihal seks, telah dilembagakan pada tingkatan yang sangat tinggi. Seks, akan berbuntut pada masalah hukum, moral, politik dan ekonomi. Layaknya Indonesia, terutama untuk beberapa saat kedepan. Masyarakat akan dibuat shock oleh aparat hukum. Entahlah, kabarnya, barang siapa yang menyuguhkan dengan sengaja adegan-adegan syur akan dikenai sanksi 9 bulan-2 tahun penjara. "Tak jera!" begitulah kira-kira respon dari beberapa oknum masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Untung, Eropa saat itu gencar berkolonial ke beberapa kawasan orient. Kisah selanjutnya, Timur menjadi tempat bagi terlahirnya anak-anak haram para kolonialis, termasuk tempat dimana orang dapat mencari pengalaman seksual yang tidak didapatkan di Eropa. Wanita Timur tak lebih dari sekedar mesin, dan sekali lagi, Wanita Timur adalah kesempatan dan peluang bagi renungan jejaka Barat. Praktis, hingga pada saatnya, "Seks Timur" menjadi komoditi asusila terlaris hingga abad 20-an. Kuchuk Hanem seperti terlahir kembali, yang kemudian dijadikan tameng inspirasi dunia seni yang katanya bernilai tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibelahan bumi lain, tepatnya beberapa ratus tahun silam, Yunani telah berhasil menguak sedikit celah tentang sensualitas. Peradaban pertama yang begitu gemilang. Sampai-sampai dalam hal pornografi-pun, Yunani telah menyimpan manuskrip klasik berupa tulisan mengenai Harlot. Konon dikisahkan, Kaisar Romawi Tiberius memiliki setumpuk perbendaharaan buku pornograf yang berderet rapi dalam kerajaannya. Namun pada periode modern, produsen terbesar atas lukisan dan patung pornografi beralih ke Timur, tepatnya India dan Jepang. Selebihnya, Indonesia. Bahkan, tidak hanya produsen, melainkan sebagai konsumen aktif dari prilaku dan pengumbar budaya amoral itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, Kuchuk Hanem kembali diperebutkan, didefinisikan, hingga sejelas-jelasnya. Sampai batasan mana Kuchuk Hanem terelakan dalam mengumbar sensualitas dan nilai seninya?. Harus jelas dan detail ! begitu kira-kira permintaan pihak pers dan para pengelola media. Bisa dibayangkan, jika Aristoteles masih hidup, ia akan tersenyum melihat beberapa otak manusia diributkan oleh teori 'definisi' (al-Ta'rif) ciptaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai detik ini, perdebatan definisi pornografi belum menemui titik terang dan masih saling berbeda. Bagaimana tidak, lawong definisi tentang pornografi itukan relatif, tergantung pada waktu, tempat dan pribadi manusia itu sendiri terkait dengan budaya yang diyakini masing-masing warga. Tak cukup itu. Warga kemudian dibuat kebingungan, tentang siapakah yang berwenang untuk menangani kasus pornografi secara mutlak?. Sehingga tampaklah undang-undang seperti teks yang multiinterpretasi. Ditarik kesana kemari. Dan permufakatanpun semakin tipis adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lupakan sejenak mengenai definisi. Saatnya kita berbicara moralitas. Dunia pers kebakaran jenggot. Dituding sebagai aktor utama yang memfalisilitasi peredaran pornografi dan pornoaksi Indonesia. Teori Tanggung Jawab Sosial sebagai fungsi utama pers kembali dibidik. Terlihat sangat runyam. Dewan pers tidak tinggal diam, ia kembali mempertanyakan, apakah berbagai bentuk pornografi yang marak itu bagian dari pers Indonesia? Padahal, tabloid dan majalah liar justru yang banyak mengeksploitasi aksi-aksi cabul (obscenity). Sangat tidak objektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penudingan kembali menyeruak. Ditujukan kepada pihak kepolisian yang dianggap tidak sigap dan lambat dalam memberangus asusila ini. Perangkat hukum yang pincang dihadapkan aksi pornografi yang terlampaui kronis menjadikan permintaan hati masyarakat patut dipikirkan. Yah, untuk merancang sebuah undang-undang. Betapapun itu, penggodokkan materi akan terus digulirkan sampai akhirnya matang, meskipun harus menunggu satu hingga dua tahun kedepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, menyoal efektivitas dalam hal ini terkesan tidak realistis. Hingga akhirnya, pengaturan yang bersifat pembatasan mulai digalakkan. Sangat perlu, susunan kesepakatan universal yang diakui bahwa sesuatu itu dilarang atau sekedar dibatasi. Pembatasan peredaran media cetak yang berbau porno bagi konsumen dewasa, jam tayang yang aman dari jangkauan anak, merupakan contoh kecil dari aturan-aturan pembatasan yang lumayan realistis untuk saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, rasanya Kuchuk Hanem kembali dijadikan objek perdebatan para pemangku kepentingan. Pun, dalam keeksotikan tubuhnya. Tak ketinggalan, para pembela perempuan mulai aktif berpropaganda untuk menolak undang-undang itu. Mungkin yang mereka pikirkan adalah nasib para Kuchuk Hanem, yang harus siap menerima hukuman ganda jika nantinya semua yang terlibat dalam penyebarluasan pornografi akan dikenai pasal. "Its not fair", jelasnya. Kuchuk Hanem harus dibela. Keterlibatannya dalam beragam keasusilaan itu sejatinya didorong oleh beberapa faktor ekonomi, keterpaksaan sosial, bahkan korban penipuan dan penculikan. Kenapa Kuchuk Hanem harus menerima dua kali kenaasan?? Semakin adilkah dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Kuchuk Hanem hanya bisa diam. Tak bergeming. Ia ingin terbebaskan dari segala macam bentuk penindasan. Sungguh, dunia wanita sangat dilematis. Lain pihak, beberapa kalangan wanita juga merasa tertindas dengan pengumbaran sensualitas yang tak kunjung habis. Yah, hal itu juga patut diperjuangkan. Sampai pada waktunya, kemana undang-undang itu akan berpihak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-2690703050770542730?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/2690703050770542730/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=2690703050770542730' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/2690703050770542730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/2690703050770542730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2008/11/kuchuk-hanem.html' title='Kuchuk Hanem'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SZq_jKTDjZI/AAAAAAAAAFQ/rCklyu4SXAc/s72-c/kuchuk+hanem.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-1465944977560705181</id><published>2008-10-17T10:31:00.000-07:00</published><updated>2008-11-03T08:47:07.945-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Woman Affair'/><title type='text'>Obrolan Wanita ; Tentang Sensualitas</title><content type='html'>by : Maria el Fauzy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata obrolan tentang wanita belumlah final meskipun sudah dilegalkan sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan beberapa pakar turut andil dalam menyumbangkan ide-ide segar, serta cukup loyal untuk sekedar menjadi pemerhati dan pengkritik sejati mereka. Patut dimaklumi, karena menyoal tentang wanita sama halnya dengan membincangkan satu dari dua jenis manusia di dunia yang jumlah serta problematikanya bisa dikatakan lebih kompleks, dilematis, dan jamak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa obrolan wanita menarik untuk dikaji, banyak diminati, bahkan menjadi sebuah disiplin keilmuan?? Pertanyaan itulah yang sekilas terbesit dihati penulis. Padahal, jika dapat dikatakan, pada awalnya diskursus wanita terkesan rigid, tidak berkembang dan monoton. Pembahasannya hanya berkutat itu-itu saja, muter-muter, dan ujung-ujungnya dapat disimpulkan bahwa dalam problematika wanita terdapat semacam kontradiksi bawaan, yaitu tawaran konsep yang menginginkan pembebasan individu, namun dalam prakteknya justru menjadikan individu lain tidak terbebaskan atau bahkan tertindas. Menurut analisa penulis, dari kontradiksi inilah yang kemudian menjadikan terma wanita semakin asik untuk diangkat, disertai fenomena-fenomena aktual baik berupa pornografi, pelecehan, sampai hal-hal sensitif lainnya yang up to date.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, isu-isu wanita dapat bebas merambat ke berbagai disiplin keilmuan, baik agama ataupun non agama meskipun tidak secara menyeluruh. Katakanlah ilmu Fiqh, Tafsir, Kedokteran, Politik, Sastra, Hukum dsb. Terdapat didalamnya bab serta intrik-intrik khusus yang berhubungan dengan wanita, bagaimana sepak terjang, penafsiran-penafsiran, estetika, serta alat-alat reproduksi yang patut dijelaskan secara detail. Bukan maksud untuk menggeneralisasikan, namun sejatinya masalah perempuan, sekali lagi, lebih rumit. Buktinya, dalam membahas wanita saja kita harus lebih dahulu mempunyai bekal pendekatan, akankan kita memakai pendekatan sejarah, feminis, isu gender, teologi, hak asasi, kriminalitas atau tentang politik praktis ?. Entahlah, mungkin Tuhan terlalu sayang terhadap wanita, sehingga "kita" melulu diperhatikan oleh publik, yang kemudian menjadikan "kita" semakin manja. Atau justru "kita" merasakan telah banyak dieksploitasi publik? yang pasti semua tergantung dari kacamata mana "kita" dipandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyoal Sensualitas Wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis, ketika membaca salah satu majalah nasional bahwa Indonesia termasuk negara konsumen terbesar nomor tiga dalam hal pornografi. Sekilas yang nampak adalah, masyarakat Indonesia yang jauh dari moralitas agama, didukung dengan faktor ekonomi dan pendidikan yang jauh dari rata-rata, serta lingkungan tak berperadaban yang menjangkit hampir mayoritas warga, baik laki-laki dan perempuan. Saya katakan laki-laki dan perempuan, karena keduanya sama-sama memiliki peran utama dalam kelanggengan hal tersebut, tanpa terkecuali. Namun, yang patut diperhatikan selanjutnya adalah mana diantara keduanya yang paling banyak dirugikan? Secara aklamasi dapat terjawab, bahwa wanita lebih banyak dirugikan, baik secara psikis ataupun sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, ketika kita berani membincang masalah pornografi dan kriminalitas, kita juga harus berani mengangkat masalah hukum dan pemerintahan. Sayangnya, sampai saat ini baik hukum atau pemerintah belum berhasil dalam menumpaskan pornoaksi Indonesia, karena masyarakatnya-pun belum siap untuk menghadapi perubahan. Layaknya isu penerapan Negara Syari'at yang beberapa waktu lalu sempat ramai. Para konseptornya terlihat semangat untuk kembali mengadakan upaya-upaya puritansi keagamaan dan menerapkan syari'at-syari'at Islam yang memang problematis jika diterapkan di Indonesia sebagai negara Pancasila, namun apalah daya, masyarakat kita dengan santai me-lenggang kangkung dan acuh atas isu-isu tersebut, dikarenakan mentalnya yang kurang siap dalam menerima beberapa resiko. Pun, dalam hal pornografi yang terlanjur kronis. Hal itulah yang mungkin patut dijamah, masyarakat kita yang bermental ikut-ikutan ternyata telah berhasil membuktikan khas ke-ikut-ikutan-nya itu. Tanpa berani menerima resiko untuk melangkah kesebuah perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan kesepakatan bersama bahwa pornografi sekaligus pornoaksi merupakan kejahatan, yang nampak dilegalkan. Berapa ratus iklan yang terpampang dipinggir jalan dengan menggunakan icon wanita?, bahkan terkadang sama sekali tidak berhubungan antara produk dan si bintang iklan yang ber-adegan terlampaui senonoh. Tidak hanya itu, hampir semua media Indonesia turut menyuguhkan adegan semi-sensualitas terhadap konsumennya, baik majalah maupun dunia perfilman. Lebih parahnya lagi adalah fasilitas internet yang tak kenal batas, siapapun dapat mengakses situs-situs tersebut dengan hanya mengeluarkan beberapa perak saja dari kantong sakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita amati secara detail, kaum laki-laki yang paling banyak mengkonsumsi perihal tersebut. Herannya hal itu dianggap biasa-biasa saja, wajar, dan legal. Ada yang kemudian mengatakan hal tersebut merupakan fitrah kaum lelaki. Dinilai dari hukum agama saja dapat dikatakan bahwa hal itu bertentangan, dan tidak dilegalkan. Namun gara-gara sudah men-tradisi maka kesemuanya menjadi sebuah kebiasaan yang dalam prakteknya justru dilestarikan. Sejatinya bukan bermaksud untuk tuding menuding, namun hal ini bertujuan untuk mengangkat akar permasalah sekaligus faktor-faktor pendukung lainnya, yang didapatkan dari sebuah kebiasaan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika budaya mengumbar sensualitas perempuan dianggap biasa oleh beberapa kalangan, namun saya yakin para pembaca menganggapnya sebagai sebuah pelecehan. Disinilah letak problematikanya, ketika sebagian wanita merasa sangat dilecehkan dengan maraknya budaya tersebut, namun sebagian yang lain justru merasakan sebuah kebanggaan tersendiri. Karena sisi-sisi keindahan wanita mulai dihargai oleh publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kajian sastra misalnya, fenomena yang banyak menjadi perhatian para pengkaji sastra perempuan beberapa tahun yang lalu adalah tema-tema seks, gay, dan kelainan kelamin. Wacana dan forum diskusi dengan tajuk utama sensualitas wanita ini menjadi perbincangan hangat yang tak kunjung habis. Pastinya, trend semacam ini semakin membahana sejak diprakarsai oleh Ayu Utami dengan Saman, yang kemudian dilanjutkan oleh para penulis wanita lainnya, katakanlah Djenar Meisya Ayu, Dewi Dee Lestari, Herlienatiens dan masih banyak lagi. Awalnya, pengangkatan tema seputar sensualitas wanita bertujuan untuk mengusung upaya pembebasan dari sistem patriarkhal, namun ternyata kenyataan berkata lain, bahwa membincang masalah ini menjadikan persoalan wanita semakin tidak berkembang, yang dibahas hanya berputar masalah sensualitas dan seks, seakan-akan wanita tidak punya kelebihan lain yang patut digali dan kemudian dikembangkan. Animo yang muncul kemudian adalah, ketika terlintas nama perempuan maka yang pertama kali hadir adalah wacana sensualitasnya. Apakah wanita dilahirkan hanya untuk diekploitasi dalam hal sensualitas? Saya rasa Tuhan tidak sekejam itu terhadap makhluk yang bernama wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelisik diskursus kewanitaan dengan menggunakan pendekatan psikologi wanita sejatinya memang dilematis. Kita tidak bisa mengklaim suatu hal tanpa mempertimbangkan individu yang lain. Apalagi terdapat segudang faktor pendukung, misalnya ekonomi, adat, agama dsb. Sengaja penulis hadirkan perbincangan ini tanpa jauh menganalisa melalui sudut teologi, karena penulis yakin pembaca sudah mempunyai kapasitas yang cukup untuk membandingkan hal tersebut dengan doktrin-doktrin keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari isu hangat mengenai UU Pornografi yang marak akhir-akhir ini, hal lain yang perlu digaris bawahi adalah soal kerugian. Tanpa diragukan, wanita akan dijadikan objek utama demi terwujudnya beberapa kepentingan. Menjamurnya praktek prostitusi, dan trafficking (penjualan wanita ilegal) yang hampir ada di setiap kota adalah bukti nyata sebagai pelanggeng dari pada devisa kabupaten, kota-kota besar, bahkan sebagai devisa negara. Keuntungan ekonomi yang diraih pihak pengelola dapat mencapai hasil yang berlipat tanpa sedikitpun memperhatikan kesejahteraan dan keamanan si korban (baca; wanita). Maka tak heran jika pemerintahan setempat sampai saat ini gagal dalam menindak lanjuti pelayanan prostitusi yang jelas-jelas merusak masyarakat. Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa kepentingan ekonomi-lah yang menurut penulis banyak merugikan etika dan budaya sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranjak dari faktor ekonomi yang kemudian dilestarikan, maka tak heran jika selanjutnya budaya semacam ini menjadi wajar adanya. Ekonomi kemudian dijadikan tameng utama untuk melegitimasikan hal tersebut. Seakan-akan semua kepentingan baik pribadi maupun golongan berlindung dibawah bayang-bayang ekonomi. Karena menjadi hal yang wajar, maka sudah semestinya merebaknya isu sensualitas semakin tak terkontrol, parahnya doktrin-doktrin agama layaknya sebuah teks mati. Sama sekali tidak berpengaruh, bisa jadi karena agama dianggap sebagai sesuatu yang tidak mempunyai kepentingan konkret yang menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun hukumnya, ternyata masyarakat Indonesia belumlah jera. Hukum agama yang transenden sekalipun masih dianggap biasa-biasa saja. Entahlah, apa jadinya nanti jika UU pornografi tidak berhasil di goal kan. Akankah wanita masih terus merasa bangga atas apa yang dimilikinya, ataukah merasa risih dan tersiksa sebagai kaum yang selalu dijadikan objek sensualitas?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-1465944977560705181?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/1465944977560705181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=1465944977560705181' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/1465944977560705181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/1465944977560705181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2008/10/obrolan-wanita-tentang-sensualitas.html' title='Obrolan Wanita ; Tentang Sensualitas'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-3592643715172276780</id><published>2008-10-12T04:25:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T07:07:37.605-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Woman Affair'/><title type='text'>Dilema Wanita Timur</title><content type='html'>&lt;a style="font-family: courier new;" href="http://3.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SPHfqKRDdHI/AAAAAAAAAD4/qTpdgA5FbUw/s1600-h/Safie-One-of-the-Three-Ladies-of-Baghdad-Giclee-Print-C12555500.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SPHfqKRDdHI/AAAAAAAAAD4/qTpdgA5FbUw/s200/Safie-One-of-the-Three-Ladies-of-Baghdad-Giclee-Print-C12555500.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256228155521463410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;by : Maria el Fauzy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Diakui atau tidak, isu-isu perempuan beserta fenomena yang menjangkit  belum mendapatkan perhatian proporsional dari pemerintah, terlebih di Indonesia sendiri. Padahal jika kita telusuri, telah banyak berdiri berbagai foundation yang menalangi problematika tersebut, semisal WCC (Woman Crisis Center) dan yang lain. Terbukti dengan adanya peningkatan kriminalitas terhadap perempuan, semuanya adalah wadah budaya kekerasan. Maka secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa ideologi produk zaman pencerahan (Renaissance) telah gagal memberikan jaminan kehidupan aman dan sejahtera bagi manusia. Boleh jadi karena ideology telah terlepas dari ketergantungannya terhadap nilai-nilai spiritual yang transenden dan tak terpikirkan. Sangat ironis memang, dalam masyarakat modern yang dibangun atas prinsip rasionalitas, demokrasi, humanis kekerasan justru merajalela. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Pembahasan ini lebih banyak diminati oleh negara-negara sekuler  dengan kondisi penduduknya yang relative 'kota' (urban phenomenon). Fenomena perkotaan akan lebih kompleks dibandingkan dengan kondisi pedesaan, seiring dengan budaya tawakal, pasrah dan sabar yang terus menerus terpatri dalam kehidupan wanita tradisional. Namun, hal inipun ketika dipandang dari dimensi lain merupakan hal yang positif. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;" id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskursus yang semakin tambah subur ini sejatinya berawal dari makna 'kebebasan' (freedom). Yaitu, kebebasan yang dimiliki setiap manusia tanpa ditilik dari jenis kelamin, strata sosial maupun agama. Propaganda HAM (Hak Asasi Manusia) yang sering didengungkan merupakan pemberian Tuhan, tanpa sedikitpun campur tangan manusia atasnya. Namun, jika pada suatu ketika mengharuskan manusia untuk bergabung adalah sebuah kenyataan. Al- Ghazali dalam "Hujjat al- Islam", tokoh pertama sebelum Imam Syatibi dan Izzuddin bin Abdussalam, mencoba merumuskan ide normatife secara lebih eksplisit mengenai lima perlindungan hak dasar manusia; yaitu perlindungan dalam beragama, berpikir, masalah keturunan, harta dan pribadinya. Perwujudan dalam hal ini mengakomodasi kepentingan semua pihak yang sama-sama sebagai makhluk Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengangkat terma ini, maka tidak akan lepas dari realitas kekuatan social, ekonomi, politik, agama dan tradisi dalam sebuah negara atau regional tertentu. Wanita Barat akan sangat berbeda kulturnya dibandingkan wanita Asia yang cenderung berpegang teguh terhadap tradisi dan religi. Apalagi peran sebuah agama, yang diakui memberikan persenan lebih terhadap kontinuitas dan aktivitas wanita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Barat, problematika gender lebih bersifat metropolis artinya kedudukan wanita harus sama dengan lelaki dalam segala dimensi kehidupan, terlebih yang berhubungan dengan gaji, pekerjaan dan kedudukan public, pun dapat dikatakan lebih angkuh dan radikal dibandingkan terma-terma gender yang diusung di Timur, khususnya Asia. Secara essensial, propaganda yang didengungkan kaum feminis menyangkut perihal yang bersangkutan dengan wanita, maka sudah menjadi kewajiban kaum feminis untuk tetap memperjuangkan ketika kehidupan pribadi perempuan diusik dengan mengatasnamakan kekuasaan, hak dan kewajiban. Berangkat dari hal ini, maka seluruh pemikiran dan system apapun yang melegitimasi praktik diskriminasi, marginalisasi, misoginis dan penindasan oleh dan terhadap siapapun harus ditolak demi agama dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mainstreaming yang bergerak maju mundur mengenai perempuan tidak dapat begitu saja lepas dari norma-norma agama. Korelasi yang dibangun antara keduanya dapat menimbulkan kesalahan persepsi apabila tidak diteliti dan dikaji ulang. Hasil interpretasi teologis yang berbias gender dapat dikatakan juga sebagai factor terciptanya budaya patriarkhi, hal ini telah tercatat oleh sejarah peradaban manusia sejak masa lampau. Artikulasi kekuasaan hierarkis laki-laki terhadap perempuan dianggap sebagai keputusan Tuhan yang tidak bisa diganti, sehingga mau tidak mau, atas nama agama, wanita dapat diperlakukan secara tidak adil. Argumentasi yang paling sering didengungkan adalah dalil Qur'an yang berbunyi " Kaum laki-laki adalah Qawwamuun atas perempuan…" [QS. Al-Nisa' 4:34]. Semua mufassir masa klasik maupun modern mengartikannya sebagai pemimpin, penanggung jawab, penguasa, pelindung, dan yang sejenisnya. Tugas ini diamanatkan kepada laki-laki karena dianggap memiliki kelebihan dibandingkan perempuan. Dengan demikian, hierarki kekuasaan laki-laki atas perempuan telah mendapat legitimasi teologis.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari konteks, ayat ini menjelaskan hierarki laki-laki atas perempuan hanya dalam lingkup domestic (rumah tangga), namun sebagian ulama menggeneralisasikannya dalam lingkup yang lebih luas, dalam urusan social dan politik. Konsekuensi pandangan ini sangat jelas ketika teologi patriarkat terus berkembang dan menjadi istilah bagi semua system kekeluargaan maupun social, yaitu bahwa peran-peran wanita dalam dunia public dan wilayah domestic menjadi tersubordinasi oleh laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam system 'negara' nya, laki-laki dipandang mempunyai hak preogratif atas anak-anak secara khusus istrinya. Ia juga memiliki kekuasaan untuk mengatur segala hal yang ada di dalamnya, dan secara eksklusif ia juga dibenarkan melakukan tindakan-tindakan represif, jika memang diperlukan untuk menjaga stabilitas keluargannya. Asumsi semacam ini juga mendapat legitimasi dari Al- Qur'an, yaitu " perempuan-perempuan (istri-istri) yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka berilah nasehat yang baik dan biarkan mereka di tempat tidur dan pukullah…" (QS Al- Nisa' 34). Nusyuz oleh ahli tafsir diartikan sebagai kedurhakaan dan ketidaktaatan istri terhadap suaminya. Kondisi seperti ini dianggap sebagai gangguan terhadap stabilitas kaluarga yang jika dibiarkan akan dapat merusak integritas rumah tangga mereka. Kedurhakaan di sini dapat pula diartikan dengan ketidaktaatan istri, terutama menyangkut hak-hak reproduksi perempuan. Hadist Nabi antara lain menyatakan, "Jika suami mengajak istrinya berhubungan seks, lalu menolaknya dan oleh karena itu suami menjadi marah, maka ia akan mendapat laknat dari malaikat sampai pagi". Mayoritas hadist ini dimaknai secara tekstual, apa adanya, tanpa mengkajinya secara substansial dan kontekstual. Maka dapat dipastikan bahwa posisi kemerdekaan istri menjadi terancam. Ini juga berarti secara teologis pemaksaan dan kekerasan mendapatkan legitimasinya. Apakah jika demikian, akankah para suami tetap berkemauan tanpa memikirkan kesehatan dan psikologi istri saat itu? Seharusnya ihwal ini lebih penting untuk dipertimbangkan dan dipikirkan, karena bagaimanapun kesehatan ibu juga akan berimbas kepada keturunan dalam keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak, bahkan hingga saat ini penafsiran ayat baik al- Qur'an ataupun hadist yang berbias gender. Pengupayaan yang dilakukan kaum wanita Indonesia terhadap sesamanya mulai digalakkan, yaitu mencoba mengkaji ulang dan meneliti ayat-ayat tersebut kemudian mulai mensosialisasikannya, khususnya di pesantren-pesantren tradisional. Terpatrinya doktrin patriarkhi di daerah-daerah, di sebabkan oleh stereotip miring atas penafsiran kitab klasik sebut saja ' Uqud al- Lujjaiyn, karya Muhammad Ibnu Umar Al- Banteny al- Jawy. Kitab ini sarat akan ketidak adilan jender dalam hubungan antara suami dan istri, maka dengan ini, ideology patriarchal semakin terlembagakan. Metode ta'liq wa takhrij atas hadist-hadist Nabi juga mulai digerakkan, bahkan ditemukan sekitar 26 hadist dla'if, 36 hadist maudlu'i dari sekitar 120 hadist yang ada didalam Kitab ini. Dan dapat dipastikan bahwasannya hadist-hadist tersebut sangat mustahil dijadikan argumentasi atas ketidak otentikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian diatas tampak jelas bahwa persoalan paling substansial mengangkat kekerasan terhadap wanita adalah adanya pemahaman teologis yang menganggap bahwa kekuasaan laki-laki atas perempuan merupakan keputusan Tuhan yang tidak dapat diubah. Atau dalam bahasa lain, hierarki kekuasaan laki-laki yang dianggap atau diyakini bersifat kodrat, fitrah, dan bukan karena alas an sosiologis ataupun cultural yang tentu saja kontekstual dan bisa dirubah. Karena keyakinan seperti ini dengan sendirinya merupakan melanggenga system diskriminasi terhadap makhluk yang bernama perempuan. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-3592643715172276780?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/3592643715172276780/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=3592643715172276780' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/3592643715172276780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/3592643715172276780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2008/10/dilema-wanita-timur.html' title='Dilema Wanita Timur'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SPHfqKRDdHI/AAAAAAAAAD4/qTpdgA5FbUw/s72-c/Safie-One-of-the-Three-Ladies-of-Baghdad-Giclee-Print-C12555500.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-8402126870178998291</id><published>2008-10-11T06:39:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T07:12:40.125-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Woman Affair'/><title type='text'>Sejarah Wanita Timur; Perspektif Budaya dan Agama</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Tidak hanya peradaban tertua yang dilahirkan Mesir, namun seiring dengan lajunya berbagai peradaban yang singgah, kota ini pun turut melahirkan aroma feminisme dengan usia hampir seratus tahun. Berarti selama beberapa tahun yang lalu sebenarnya Mesir sudah mengenal peranan dan partisipasi perempuan  dalam lingkup domestic (rumah tangga) dan public. Berbagai gerakan tersebut telah berhasil memunculkan kesadaran dari terkungkungnya perempuan Arab, yang dahulunya terikat dengan aturan produk budaya 'harem'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sejatinya konsep harem dalam perspektif Fatimah Mernissi tercakup dua hal, yang pertama berbentuk imperial (kerajaan), dan kedua; domestic (tingkat biasa). Harem imperial ini telah lenyap oleh Perang Dunia I ketika kerajaan Otoman runtuh. Factor lain yang menunjang adalah masuknya budaya sekulerisasi dan globalisasi yang dibawa kaum urban Eropa. Kuatnya pengaruh budaya asing tersebut sangat berarti dalam perubahan kultur harem yang sudah lama mengakar di Arab, khususnya Mesir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan harem model domestic merupakan kawasan tertutup atau rumah bertembok anggun (bukan istana) yang didiami oleh sebuah keluarga besar dengan maksud mencegah para perempuannya untuk berinteraksi dengan dunia luar. Dalam harem domestic inilah Fatimah dibesarkan, sekaligus mengakui bahwa pengekangan dan penindasan telah tumbuh subur sejak dalam dunia kecilnya (baca=kanak-kanak). Meskipun harem imperial banyak dipraktekkan oleh Arab Islam klasik, namun kultur tersebut juga merupakan hasil akulturasi budaya dari masyarakat Byzantium, Kristen Suriah, Mesopotamia, Persia dan masyarakat Islam kawasan mediterania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat kontradiktif memang, di satu sisi masyarakat Arab ingin menggemborkan paradigma kebebasan perempuan dalam interaksi social dan pendidikan oleh Muhammad Abduh dan Qasim Amin, namun di lain hal  sejarah mengkisahkan tradisi Arab yang tidak ramah terhadap perempuan. Sebuah catatan tua menuturkan ketika Abbasiyah berekspansi dan berhasil menaklukkan beberapa kawasan, istana kerajaan mulai diramaikan beratus-ratus jawari (budak), yang membawa budaya dan eksotisme dari masing-masing daerahnya. Harun al-Rasyid, khalifah dinasti ini dikatakan memiliki seribu jawari. Harem-harem itu menjadi tempat kemewahan dan kecantikan dari wanita di seluruh dunia. Sebenarnya pada masa awal dinasti Abbasiyah, kaum wanita dapat menikmati kebebasan yang sama dengan kaum wanita pada dinasti Umayyah, namun menjelang akhir abad ke-10, pada Dinasti Buwayhi, sistem pemingitan dan pemisahan yang ketat sudah menjadi fenomena umum. Pada masa ini juga degradasi moralitas seksual dan praktik perseliran serta hidup berfoya-foya dalam suatu kemewahaan  merupakan sebuah tradisi. Posisi perempuan sangatlah hina, dan menukik tajam seperti yang disebutkan dalam kisah seribu satu malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah menjadi tradisi bagi para gubernur dan jenderal untuk mengirim hadiah, termasuk didalamnya para gadis yang direkrut secara suka rela atau paksa dari penduduk daerah jajahan. Menurut hukum, seorang muslim tidak harus menikahi budaknya. Bahkan sang khalifah boleh melakukan hubungan seksual dan mempunyai anak-anak dengannya tanpa menikah, dan ini sepenuhnya sah. Yang mengejutkan dari teks semacam ini adalah bahwa negeri-negeri Muslim, yang Nabi dan al-Qur`annya mengajarkan untuk menghapus perbudakan, ternyata justru menjadi pendukung dan pembelanya. Maka bisa dipastikan, bahwa harem tetaplah sebuah produk institusi budaya patriarkhi yang menindas perempuan. Sekalipun, harem model domestik, akan tetap ada seiring dengan masih hidupnya "kepercayaan teologis" yang berakar pada faktor kultural untuk menjaga sekaligus memudahkan proses pemantauan istri dan anak-anak perempuan dari jangkauan luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sangat menarik dalam literatur sejarah adalah, ternyata banyak di antara perempuan Arab terdahulu bergelar sulthonah atau ratu, yang banyak memberikan kemajuan-kemajuan berarti dalam mengurusi permasalahan negara dari segi sosial, politik, dan ekonomi serta merencanakan strategi peperangan. Di antaranya yang termasyhur adalah Sulthonah Radhiyyah, yang memegang kekuasaan di Delhi pada tahun 634 H./ 1236 M. Tidak jauh dari Punjab, yang merupakan fief (tanah yang dikuasai dari seorang tuan tanah feodal) Nawaz Syarif, yang kemudian menjadi Perdana Menteri Pakistan. Ratu lain yang menyandang gelar Sulthonah adalah Syajarat al-Durr, seorang penguasa Mesir, yang meraih kekuasaan di Kairo pada 648 H./ 1250 M. sebagaimana pemimpin militer lainnya, melalui keunggulan strateginya. Dia memberikan kemenangan bagi kaum Muslim yang diingat baik oleh bangsa Prancis, karena dia mengalahkan pasukan mereka dalam Perang Salib dan menangkap raja mereka, Louis IX.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khaizuran, ibu dari khalifah Harun al- Rasyid juga merupakan wanita hebat dinasti Abbasiah, meskipun telah menodai kultur harem kerajaan karena menyentuh kawasan publik. Dia mengatur, memimpin dan berkuasa dibawah tiga kekhalifahan, yaitu al- Mahdi (suaminya), al- Hadi dan Harun al- Rasyid. Para sejarawan pun mengakui atas kelihaian Khaizuran dalam membuat kebijakan politik. Pada masa ini pula Islam berada di puncak sebagai imperium agama dan militer. Karena perannya, imperium ini terus berekspansi dan menaklukkan bangsa-bangsa lain. Nah, cerita semacam inilah yang tidak patut dilupakan, bahwa dulunya, seorang wanita juga dapat berjaya di wilayah publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mesir, dampak pembaharuan yang diusung Abduh rupanya telah melahirkan suatu cabang sekuler modernisme, terma inilah yang menjadi wacana feminis Arab pada periode selanjutnya. Jika ditilik ulang, concern yang dimaksud Abduh dan Qasim Amin adalah seputar pendidikan dan interaksi sosial kemasyarakatan bagi perempuan. Karena hal tersebut  diyakini sebagai suatu hak pemberian Tuhan. Perjuangan kembali diteruskan oleh Huda Sya'rawi pada tahun tahun 1923, dia termasuk salah satu pendiri Persatuan Feminis Mesir  (Feminist Union in Egypt) untuk memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan, serta ikut andil dalam usaha reformasi undang-undang yang berkaitan dengan pernikahan dan perceraian. Dia juga menyerukan hak suara bagi perempuan yang pada akhirnya dapat dirasakan mulai tahun 1956. Beberapa sekolahan bagi perempuan mulai didirikan, dan pada tahun 1928 perempuan Mesir mendapatkan kesempatan untuk meneruskan studi di perguruan tinggi. Nama lain yang sangat berpengaruh adalah Nabawiyah Musa, dia lahir di Zagazig 1886. Selain sebagai wanita yang berpendidikan, dia juga seorang pendidik. Dan juga penulis produktif di berbagai surat kabar kenamaan Mesir. Rezim sosialis Gamal Abdul Nasser juga turut memberikan dampak naiknya tingkat pendidikan perempuan secara dramatis, yaitu dengan kebijakannya yang membebaskan pendidikan bagi seluruh warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilakukan komparasi antara Barat dan Timur, maka kesimpulan yang ada adalah, bahwa sikap feminis Barat terlihat lebih angkuh dan radikal dibandingkan perjuangan feminis Timur. Bisa dikarenakan tarik ulur gerak perempuan tidak begitu saja lepas dari norma-norma agama, korelasi yang dibangun antara keduanya dapat menimbulkan kesalahan persepsi apabila tidak diteliti dan dikaji ulang. Tawaran Mernissi dalam hal ini adalah mengkaji ulang ayat-ayat teologis tersebut, serta menelusuri jejak sanad, riwayat dan melakukan kajian semantik. Sikap inilah yang seharusnya diambil sebelum mengklaim pemikiran seseorang, karena betapapun itu merupakan hasil pemikiran seorang tokoh yang perlu diapresiasi dengan pisau analisa yang steril terbebas dari karat-karat ideologi dan kepentingan kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa upaya fifty-fifty (pria-wanita) yang diusung feminis Barat sejatinya merupakan sebuah gagasan yang utopis. Dari segi nature (alami) maupun nuture (konstruksi masyarakat) tujuan tersebut tidak akan menuai hasil meskipun sedikit memaksakan. Karena Barat dalam hal ini selalu memandang wanita harus dipersamakan dengan pria dalam segala hal, tanpa ada perbedaan. Namun, ketika diskursus ini di kaji dengan menggunakan psiko-analisis maka akan ditemukan semacam kontradiksi. Bahwa propaganda yang diusung kaum feminis secara tidak langsung telah  menjajah wanita lain, karena dituntut untuk go publik. Padahal merupakan sebuah fakta ketika ternyata ada sebagian perempuan yang merasa diperlakukan adil disaat dia di sibukkan dengan urusan rumah tangga, anak dan suami. Hal semacam inilah yang biasa disebut dengan 'contradictio interminis'. Sebuah konsep yang menginginkan kebebasan individu, justru dalam prakteknya dapat membuat individi tidak bebas dan tertindas. Maka, kesetaraan yang adil dan sesuai dengan konteks masing-masing individu itulah yang lebih urgent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:courier new;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-8402126870178998291?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/8402126870178998291/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=8402126870178998291' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/8402126870178998291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/8402126870178998291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2008/10/sejarah-wanita-timur-perspektif-budaya.html' title='Sejarah Wanita Timur; Perspektif Budaya dan Agama'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-3442023602519476488</id><published>2008-10-08T09:44:00.000-07:00</published><updated>2008-10-08T10:03:04.087-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Stories'/><title type='text'>" Orang Besar "</title><content type='html'>Monday, in the middle night…&lt;br /&gt;6 Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, aku tidak begitu kagum dan terpana dengan "orang besar". Pikirku mereka sama saja dengan aku yang saat ini  masih berproses untuk menjadi "besar". Aku terlihat cuek, ketika kunjungan-kunjungan orang besar itu mendadak ramai ke lingkunganku, maklum masa-masa kampanye. Namun, lagi-lagi pikiranku tak berubah, mereka layaknya orang biasa seperti aku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kunjungan mantan presiden Megawati ketika itupun tidak membuatku berhasrat untuk sedikit merubah pikiran. Kemudian aku bertanya dalam hati, kenapa aku sungguh tidak apresiatif terhadap mereka?? "Ah, apresiatif gak harus bgitu", gumamku dalam hati. Trus, kenapa pula aku tidak seperti kebanyakan temanku yang rela berjubel hanya sekedar untuk melihat tokoh itu dari kejauhan?? Bahkan harus berjuang untuk melihat mobil yang dikendarai orang besar itu. Aku hanya tersenyum kecil melihat ulah teman-temanku yang "nggumun" nya minta ampun.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya aku terlibat pembicaraan dengan beberapa kawan. Terlihat dari raut dan perkataan mereka sebuah kebanggaan yang amat sangat karena telah diberi kesempatan untuk sekedar bersalaman tangan dengan Bu Mega. Akupun sama sekali belum menangkap efek kehadiran orang besar itu dimata sahabat-sahabatku, yang ternyata telah banyak merangsang CITA dan MIMPI mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil kuraba, ternyata dan ternyata, mayoritas dari mereka terpesona dengan kehadiran rombongan itu. Ada yang mengaku tiba-tiba ingin jadi protokoler presiden, kemudian ingin menjadi juru bicara presiden, bahkan ada yang berhasrat untuk menjadi fotografer negara, dan tak ketinggalan banyak juga teman-temanku yang bermimpi untuk menjadi birokrat dan pejabat tinggi. Otakku mulai berpikir dan mengamati, ternyata kehadiran rombongan "orang besar" itu tidak bisa dianggap remeh !! Bagaimana bisa dianggap remeh, lawong sahabatku saja -bahkan sampai saat ini- cuma gara-gara melihat rombongan itu beberapa tahun yang lalu tak bisa tidur nyenyak, sampai suatu saat nanti dia akan dapat meraih posisi elegan, yaitu  Mentri Peranan Wanita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ada yang mengatakan ga ngefek dengan kehadiran tokoh dan orang besar, layaknya pikiranku, namun toh ratusan temanku cukup menghargainya. Itukah yang biasa mereka sebut sebagai figur?? Aku bertanya-tanya. Kemudian, apa yang bisa sang figur itu berikan untuk kehidupanku nantinya?? Berpengaruh banyak kah?? Ah, lagi-lagi aku merasakan kebodohan yang amat sangat, sampai-sampai sesosok figur pun aku tak mampu mendeskripsikannya. Aku mulai sadar, pantes…selama hampir 18 tahun aku sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk menjadi "seseorang" yang "besar". Aku hanya ngikut arus, disuruh belajar ya belajar, disuruh maen ya maen, benar-benar MISKIN KEPRIBADIAN !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktunya untuk berubah. Berawal dari keisenganku untuk ikut-ikutan teman yang mempunyai banyak CITA, aku pun tak tinggal diam. Setiap hampir "orang besar" aku idolakan. Setiap melihat orang berhasil aku terkesima. Tanpa mempedulikan bidang dan sektor yang mereka geluti. Pokoknya asal kelihatan wibawa, elegan, kaya, dan berpendidikan, akupun nggumun dibuatnya. Ah aku bingung, kenapa ketika aku mulai mendapatkan figur yang terlampaui banyak, justru aku yang kebingungan. Ngikuti caranya si A, ternyata lain dari cara si B. Kemudian lain lagi dengan proses yang diajarkan si C. Parahnya, diantara ketiga dan bahkan semuanya tak satupun yang sejoli dengan karakter dan kecenderunganku. Misalnya saja si A, yang banyak mengajarkan banyak hal tentang kiat-kiat sukses menjadi ekonom. Tapi apalah daya, aku sedikitpun sama sekali tidak hobi berbisnis. Kemudian si B mengajarkan sukses untuk menjadi seorang sastrawan. Akupun hanya mendengus panjang, bagaimana mau jadi sastrawan, imajinasiku saja pas-pas an, blum lagi hatiku sejujurnya kurang sreg dan nyaman, lebih tepatnya kurang suka dengan kecenderungan seperti itu. Ah pusing…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun akhirnya, aku mencoba cari jawaban. Ku kumpulkan kutipan-kutipan dari beberapa pakar petuah. Yah, terkadang benar apa yang mereka katakan. " Ambillah satu diantara beberapa kecenderunganmu yang kamu anggap paling nyaman, kemudian gelutilah. Urusan jadi orang besar atau tidak, itu hanya menunggu giliran. Jadi santai saja. Tapi, patutnya kamu berdo'a, semoga giliranmu nanti dapat kamu raih sebelum kau tertidur lama di alam sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya juga yah, kenapa aku harus ikut sana ikut sini tanpa mempertimbangkan apa yang sesungguhnya ada dalam diriku. Benar-benar bodoh…! Ufh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentang "orang besar" itu, sejatinya kehadiran mereka tidak dapat dinafikan. Karena aku-pun mengidolakan satu diantara ratusan "orang besar" itu. Cukup menjadikannya sebagai pemacu laju perjalananku, tanpa sedikitpun ruang milikku terusik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by : Maria el Fauzy&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-3442023602519476488?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/3442023602519476488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=3442023602519476488' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/3442023602519476488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/3442023602519476488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2008/10/orang-besar.html' title='&quot; Orang Besar &quot;'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-3001857277795087686</id><published>2008-10-07T07:12:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T10:17:03.144-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Catatan'/><title type='text'>Pasar Ideologi Mahasiswa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SPoZ7DNHekI/AAAAAAAAAEQ/xrCH2wTcyXU/s1600-h/mahasiswa4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SPoZ7DNHekI/AAAAAAAAAEQ/xrCH2wTcyXU/s200/mahasiswa4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258544017171774018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;by : Maria el Fauzy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Ideologi sebagai peranakan ilmu sosial telah dinyatakan sebagai pemeran utama dalam stabilitas sosial politik sebuah negara. Lebih jauh lagi, ia dianggap sebagai penentu bagaimana seseorang atau sebuah komunitas dalam upayanya menghadapi persoalan dan kemudian menyikapinya. Istilah ideologi sudah tidak asing ditelinga masyarakat, khususnya mahasiswa. Terhitung sejak dipakainya istilah ideologi oleh Destutt de Tracy pada masa Napoleon Bonaparte akhir abad 18, wacana ini mulai pesat dikembangkan. Dalam perkembangannya ideologi justru banyak menimbulkan fakta-fakta non humanis. Terlebih ketika tiga ideologi raksasa dunia ( baca; sosialisme-komunisme, fasisme, dan kapitalisme) mulai menggaung besar di beberapa kawasan Eropa. Contoh paling tragis adalah fasisme Jerman dengan anti-semitisnya yang berhasil membantai ribuan warga Yahudi.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: courier new;" id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari pemaknaan ideologi, serta keterpilihannya sebagai motor konstalasi sosial politik negri, keterlibatan aksi dan ideologi gerakan mahasiswa patut dipertimbangkan, terutama oleh mereka pemangku kebijakan negara. Tercatat, dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia mahasiswa terlihat sangat gesit dalam melakukan perubahan. Sebagai pengenyam pendidikan tertinggi, sudah sepatutnya kepekaan terhadap problematika masyarakat tertanam dalam diri seorang mahasiswa. Selain dari pada itu, kegiatan kampus yang banyak melatih untuk melakukan kajian,  pengamatan, serta penelitian-penelitian fenomena sekitar cukup dijadikan alasan terhadap progresivitas mahasiswa yang semakin menggelora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diamati, corak ideologi mahasiswa yang ramai bergaung di Indonesia adalah bernuansa Islam, hal ini wajar mengingat mayoritas warga Indonesia meyakini Islam sebagai agama mereka. Telah berjajar sederetan nama organisasi pergerakan mahasiswa Islam yang mengawali pusat kegiatannya di kampus maupun extra kampus, sebut saja PMII, HMI, KAMMI, IMM, HMI MPO dsb. Dan masing-masing dari pergerakan tersebut tak lepas dari ideologi yang melatar belakanginya, disertai dengan karakteristik yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ideologi tersebut tidak jauh beda dengan varian ideologi yang berkembang di masyarakat Indonesia atau yang biasa disebut ormas. Ideologi mahasiswa ini bisa dikatakan sebagai wadah lain yang dikhususkan untuk kaum muda. Tujuannya, agar kader mudanya dapat bebas bergerak, menuju langkah-langkah progresif, dinamis serta dapat menggagas hal-hal baru, dengan catatan tidak menyalahi aturan dari organisasi masyarakat yang dianutinya. Terlebih karena mahasiswa memiliki aura idealisme yang begitu kental, sehingga paradigma akan kebesarannya dianggap begitu nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pengamatan yang dilakukan terhadap keberagaman ideologi mahasiswa rupanya telah menciptakan sebuah kesimpulan, bahwasanya pangkal dari perbedaan tersebut dapat ditemukan dalam ranah teologi. Terlihat jelas dalam upaya sebagian dari mereka dengan menggodok kembali formulasi-formulasi aqidah ulama klasik dengan tujuan untuk merelevankan konsep-konsep keagamaan dengan kondisi kekinian. Beberapa diantaranya mengusung aliran neo modernisme yang mayoritas dikiblatkan kepada mendiang Nurcholis Madjid, ada juga yang bersikap lebih terbuka, toleran, bahkan radikal dengan berusaha mengubah tatanan teologi yang sudah mapan, katakanlah PMII yang mulai gencar mencari jawaban lain sebagai cadangan teologi Aswaja, dan terakhir adalah model-model puritan yang dengan serentak menggalakkan aksi-aksi anarkis. Biasanya teologi yang mereka pakai adalah konsep Islam kaffah, yang dipercayai mampu menjawab problematika masyarakat di era yang semakin plural. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berkutat dengan wacana pemikiran, ada beberapa diantaranya justru terjebak dalam aksi-aksi pergerakan serta amal. Sehingga krisis wacana mulai jelas terlihat. Hal ini disebabkan tradisi ilmiah yang berkembang serta para pakar dalam organisasi tersebut hanya mengulas sebatas persoalan-persoalan hukum Islam (fiqhiyyah), dan hal inipun diakui secara gamblang oleh Prof. Azyumardi Azra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lupa, bidikan menonjol lainnya adalah gesekan-gesekan yang terjadi antara pergerakan mahasiswa dengan konstalasi politik domestik. Dapat dikatakan bahwa partai merupakan kendaraan utama guna menuju kursi pemerintahan yang sarat akan kepentingan. Dalam tubuh Islam sendiri terdapat dua corak utama dalam ber-ideologi, yaitu kubu tradisionalis dan modernis. Tumbuh kembangnya organisasi kemahasiswaan sejatinya tidak jauh dari bayang-bayang ideologi ini. Yang kemudian diambil alih oleh partai saat-saat menjelang pemilu. Misalnya, PMII yang banyak berafiliasi kepada PKB atau PPP, kemudian IMM dan HMI yang berafilisi kepada PAN, tak ketinggalan KAMMI yang mayoritas berafiliasi kepada PKS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dibandingkan dengan wacana kemahasiswaan yang ada di Mesir, nampaknya geliat mahasiswa Indonesia Mesir tidak terlalu bergejolak. Karena beberapa alasan, mayoritas pergerakannya hanya berada di posisi mengekor kepada sang induk. Aktivitas mahasiswa banyak didominasi dengan kegiatan-kegiatan berbasis literatur. Bahkan jarang sekali yang mempropagandakan isu-isu partai, meskipun  ada beberapa yang masih terlihat gagah mendengungkan isu ke-partai-an. Bisa jadi stereotip miring terhadap politik di kancah Masisir masih terelakan. Atau, mereka lebih sepakat bahwa kesempatan belajar di Mesir merupakan kesempatan emas, sehingga lebih elegan dan bermanfaat jika waktu yang diluangkan lebih dominan untuk melakukan pembacaan literatur keagamaan yang nantinya dapat menjadi kontribusi wacana untuk masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun menariknya, meskipun perbedaan ideologi menjadi pembeda antara satu dan yang lainnya, perpecahan dan konflik antar pergerakan mahasiswa ini semakin jarang ditemukan. Justru yang sering ber-konflik adalah induk ideologi serta partai yang dikendarainya. Mungkin karena 'idealis' kaum muda yang sama-sama menginginkan perubahan ideal, sehingga mau tidak mau mereka pun harus tunduk terhadap sikap perdamaian. Tanpa berarti membeda-bedakan antara idealisme kaum muda dan tua.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-3001857277795087686?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/3001857277795087686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=3001857277795087686' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/3001857277795087686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/3001857277795087686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2008/10/pasar-ideologi-mahasiswa.html' title='Pasar Ideologi Mahasiswa'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SPoZ7DNHekI/AAAAAAAAAEQ/xrCH2wTcyXU/s72-c/mahasiswa4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-8407715357448425281</id><published>2008-09-17T00:52:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T10:11:54.364-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Amazing Journey'/><title type='text'>Menelusuri Situs-situs Peninggalan Mamalik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SPoYPs2BbPI/AAAAAAAAAEI/y3WeqDg96OE/s1600-h/sultan-hassan-mosque01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SPoYPs2BbPI/AAAAAAAAAEI/y3WeqDg96OE/s200/sultan-hassan-mosque01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258542172923325682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Oleh : Maria Ulfa Fauzy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Banyak hal yang harus dieksplorasi lebih lanjut dalam menguak sejarah peradaban Islam, baik berupa manuskrip, tradisi, atau bangunan-bangunan kokoh nan klasik. Bukti sejarah inilah yang nantinya justru banyak berkisah tentang berbagai peradaban masa silam, meskipun ada beberapa diantaranya yang hanya meninggalkan sebuah kisah.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Dalam catatan sejarah, Mesir termasuk salah satu penyimpan varian peradaban eksotik dunia. Dimulai sejak zaman Pharaonic 3200 SM, kemudian periode Hellenistic yang dimulai ketika Iskandar Agung berhasil mengalahkan Persia 332 SM. Dilanjutkan era Romawi 30 SM, dan dekade peradaban Islam yang diprakarsai oleh Amru bin Ash 640 M.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sejarah peradaban Islam mencatat, Mesir termasuk salah satu kawasan yang sempat dihinggapi oleh beberapa dinasti kenamaan. Sebut saja dinasti Tholouniyah, didirikan oleh Ahmad bin Thouloun pada tahun 868-905 M. Kemudian dinasti Ikhshidiyah 935-969 M, Fathimiyah 969-1171 M, Ayyubiyah 1171-1250 M, Mamalik 1250-1517 M, Turki Usmani 1517-1805 M. Sampai akhirnya Napoleon Bonaparte berhasil menduduki Mesir tahun 1797 yang dikenal dengan ekspedisi Prancis, dan dilanjutkan oleh pemerintahan Muhammad Ali Pasha 1805-1953 M yang akrab disebut sebagai Bapak Mesir modern. Maka dapat dikatakan, bahwa Mesir merupakan salah satu pusat peradaban Islam yang mampu bertahan dan terhindar dari keterputusan peradaban. Berbeda halnya dengan pusat kota lain, misalnya Bagdad yang pernah hancur ditangan Mongol, dan Andalus hancur ditangan Imperium Barat yang diprakarsai oleh Ratu Issabell dan Raja Ferdinant. &lt;/span&gt; &lt;span id="fullpost"  style="font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum jauh menelusuri situs peninggalan dinasti Mamalik, lebih dahulu kita telusuri historitas awal munculnya dinasti ini. Syajar al-Durr, seorang janda al-Shalih (w 1249 M) dari dinasti Ayyubiyah, yang kemudian menyandang gelar sultanah selama hampir delapan puluh hari inilah peletak awal fondasi kekuasaan Mamluk. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya penguasa wanita muslim di kawasan Afrika Utara dan Asia Barat, sekaligus diabadikan namanya dalam kepingan mata uang dan pada sholat Jum'at. Ia memutuskan untuk menikah lagi dengan Izzudin Aybak, Sultan Mamluk pertama (1250-1257 M) yang justru terbunuh ditangan sang ratu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta pemerintahan dinasti Mamluk dinyatakan oleh para sejarawan sebagai bentuk penguasaan yang carut marut, karena dinasti ini terbagi menjadi dua kekuasaan besar yaitu Mamluk Bahri dan Mamluk Burj. Mamluk Bahri awalnya adalah pengawal-pengawal yang dibeli oleh khalifah al-Shalih dari dinasti Ayyubiyah, mereka berasal dari Turki dan Mongol. Namun selang beberapa tahun, para pengawal tersebut dengan berbagai macam strategi akhirnya mampu merobohkan kekuasaan Sultan. Mamluk Burj juga terbentuk dari persekongkolan para budak yang diimpor kemudian, dan diprakarsai oleh Qallawun, raja Mamluk Bahri ( 1279-1290 M). Mereka berasal dari Sirkasius, serta ditempatkan di menara-menara benteng. Maka dengan inilah kekuasaan tersebut lebih dikenal dengan sebutan burj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasa terakhir Dinasti Mamluk Bahri adalah seorang sultan kecil cicit al-Nashir, al-Shalih Hajji ibn Sya'ban (1381-1382 M). Dalam pemerintahannya  banyak diselingi oleh sultan-sultan lain, terakhir di pegang oleh Barquq dari Sirkasius. Namun sebelumnya, ada Baybar II (1308-1309 M) yang juga sempat mendapat kedudukan penting ketika rezim al-Nashir, ia juga dikatakan sebagai budak dari Qallawun awalnya. Dari kekuatan inilah, akhirnya Mamluk Burj dapat secara langsung bertengger diatas bangku kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan sejarah, dinasti ini mampu melahirkan beberapa sarjana Islam kenamaan. Baik sebagai keturunan asli Mesir atau imigran dari Syria dan daerah lainnya. Karena bagaimanapun pasca runtuhnya Bagdad 1258 M, Hulagu Khan terus melakukan ekspansi ke beberapa kawasan sekitarnya, yang mengharuskan warga setempat melarikan diri untuk mencari perlindungan. Dan dari sebab inilah warga asing banyak yang berbondong-bondong memasuki kawasan Mesir sekitar abad pertengahan. Dari kalangan antropolog misalnya dapat kita temukan Sang Maestro besar Ibnu Khaldun (1406) yang menjabat sebagai hakim tinggi pada masa Sultan Barquq, kemudian al-Maqrizi 1364-1442 sebagai keturunan Baklabak, serta Abu al-Fida, ibn Taghri Birdi dan al-Suyuthi. Dalam bidang teologi dan hadist, terdapat Ibnu Taymiyah, al-Thufi, Izzuddin bin Abdi Salam, Ibnu Hajar al-Asqalani (1372-1449). Dan masih banyak lagi ulama kenamaan lainnya yang terlahir pada era ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana terlampir dalam manuskrip kuno tentang kesejarahan Mamluk, bahwa konstalasi konflik dalam negri inilah yang banyak mempengaruhi aroma kemunduran Mamalik, meskipun beberapa faktor eksternal lainnya juga turut mendalangi hal tersebut. Gaya hidup tinggi yang tercermin ketika Sultan al-Nashir berkuasa membuat kondisi negara bertambah ruwet. Puncaknya, wabah "Kematian Hitam" yang semakin menjangkit wilayah Kairo, menjadikan dinasti ini semakin tak kuasa menopang laju kekuasaan asing yang mulai mendepak Mamalik dari kursi kekuasaan Mesir. Dan digantikan oleh kekuatan baru yang berdiri tegak di Bosporus, yaitu Turki Usmani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya Arsitektur Mamalik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peninggalan yang paling mengesankan pada periode ini adalah bangunan-bangunan arsitektural dan artistik. Bahkan disematkan oleh para sejarawan, di era ini pulalah arsitektur Muslim mencapai ekspresi yang paling kaya ornament. Terbukti pada sejumlah masjid, madrasah, museum yang didirikan oleh Qollawun, al-Nashir, dan al-Hasan. Awalnya, ciri khas yang mendominasi adalah model-model arsitektur periode Nurriyah dan Ayyubiyah. Kemudian mendapat pengaruh baru dari orang Suriah-Mesopotamia pada abad 13, tepatnya ketika Mesir menjadi tempat berlindung para pengrajin dan ahli seni dari Mosul, Bagdad dan Damaskus pasca invasi Mongol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat jelas kita saksikan, Masjid al-Hasan (1348-1351 M), yang berada persis dibelakang benteng Sholahuddin dan Masjid Muhammad Ali Pasha, berdiri kokoh di sana. Tepatnya berada dikawasan Sayyidah Aisyah, kemudian sedikit berjalan kearah utara kurang lebih 300 meter. Lokasinya berjejeran dengan Masjid Rifa'i yang dibangun sekitar enam abad kemudian, tepatnya 1869 M. Didalam Masjid Rifa'i terdapat makam Raja Faruq, raja terakhir Mesir yang direvolusi 1952, dan juga makam syah Iran yang digulingkan 1979. Oleh karena memiliki kemegahan yang hampir serupa, masyarakat sering menyebutnya dengan 'Masjid Kembar'. Didalam masjid Sultan Hasan, terdapat empat madrasah yang dahulunya digunakan untuk pengajaran empat madzhab fiqh. Termasuk didalamnya huruf-huruf bergaya Kufi turut mewarnai indahnya dinding-dinding masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu-batu beragam yang berasal dari Romawi dan Byzantium juga menjadi ciri istimewa arsitektur periode ini. Hal lain yang mengagumkan adalah pengembangan stalaktif-pendentif (bahasa arab: muqornas) dan rancangan kubah yang mampu menahan cahaya, termasuk juga untuk penerangan, semakin terlihat megah dengan segala dekorasinya. Dan hal tersebut cukup tercermin dari bangunan Masjid Mu'ayyad, yang terletak di jalan Ahmad Mahir berdampingan dengan Bab Zuwayla, dan dikenal dengan Masjid Merah (Red Mosque). Masjid ini dibangun oleh Sultan Muayyad 1415-1420. Pada pintu masuknya terdapat hiasan warna merah ditambah permata, diatasnya terdapat hiasan pahatan dan lengkungan skalaktit. Dan dibagian dalam masjid terdapat makam Sultan Muayyad dan putranya, yang ditutupi batu marmer warna-warni berbentuk pola geometri. Sejatinya, kebiasaan untuk menghubungkan bangunan makam sang pendiri masjid, bermula pada tahun 1085 M oleh Badr al-Jamali. Bangunan makam yang menyatu dengan masjid di bukit Muqattam hasil rancangan Badr itulah yang kemudian menjadi semakin menjamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit berbalik arah menuju jalanan Bab al-Futuh dan Bab Nasr, maka kita akan dapatkan Masjid Barquq sebagai salah satu peninggalan Mamalik. Konon, disinilah dahulunya Ibnu Khaldun melakukan proses belajar mengajar semasa hidupnya di Mesir. Masjid Barquq didirikan 1386 M, sekaligus dengan madrasahnya. Ibnu Khaldun banyak berkisah tentang Qollawun, bahwa dia dianggap sebagai Sultan yang banyak melakukan renovasi dalam skala besar. Ia telah membangun rumah sakit yang tersambung dengan masjid dan sekolah yang terletak dijalanan sempit nan eksotik, tepatnya berdekatan dengan Masjid Barquq. Disitu pulalah Qollawun membangun sebuah komplek kuburan bangsawan yang besar dan indah dengan mozaik dan jejak-jejak arabesque yang cantik. Dan yang paling terkenal dari peninggalannya adalah, rumah sakit muslim pertama yang masih ada hingga saat ini. Ia terinspirasi membangun mustasyfa ini ketika Qollawun berbaring sakit di Rumah Sakit Nuri di Damaskus, sehingga ia bertekad untuk segera membangunnya di Kairo. Dalam catatan Maqrizi, Rumah Sakit ini meliputi beberapa ruang khusus pasien dengan penyakit yang berbeda-beda, misalnya, radang mata, disentri, demam dsb. Dan dilengkapi laboratorium, apotik, kamar operasi, dapur dan ruang penyimpanan. Hampir setiap tahunnya mendapatkan subsidi dari pemerintah sebesar satu juta dirham. Sultan sendiri diyakini memiliki kemampuan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, sehingga jubahnya yang berada di museum tersebut disentuh dan dipegang-pegang oleh beberapa masyarakat yang meyakini kuasa penyembuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beralih pada peninggalan periode Mamluk Burj, seperti misalnya masjid Qayt-bay, Sabil Kutab al-Ghawri dan Masjid Barsbay. Dibawah kekuasaan Mamluk Burj, seni tatah semakin banyak diminati, sebagaimana terlihat jelas pada pintu dan mimbar masjid Qayt-bay. Bahwa kerajinan mosaik serta ukiran gading dan pelapisan gaya koptik yang banyak menghiasi masjid ini sejatinya sudah banyak dikenali sejak masa pra Islam. Masjid Qayt-bay terletak di pedalaman kawasan Duwaiqoh atau biasa disebut dengan kawasan pekuburan Duwea. Lebih dekat ketika kita melakukan perjalanan melewati ruas utama Sholah Salim, tepatnya berada di depan gedung Masyikhah al-Azhar, bilangan Darrasah. Masjid ini dihiasi oleh dua warna yang sesuai merah dan putih, kubahnya juga lain dari pada yang lain berhiaskan motif dedaunan dan bunga. Namun, yang paling terkenal peninggalannya adalah, benteng pertahanan yang didirikan di kawasan Alexandria. Sebelum berdirinya benteng tersebut, telah kokoh berdiri disitu sebuah mercusuar yang termasuk keajaiban dunia, dibangun pada tahun 280 M, dan mengalami kehancuran total ketika gempa dasyat melanda kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Baybars juga terletak dikawasan Duwea. Mungkin banyak yang menganggap bahwa kawasan ini hanya terdiri dari pekuburan masyarakat semata. Namun, jika kita telisik lebih lanjut ternyata banyak peninggalan-peninggalan dinasti terdahulu yang berdiri kokoh disana. Masjid ini nampak lain dari masjid Qayt-bay. Arsitekturnya terpengaruh model-model masjid Ibnu Thulun, Hakim Bi Amrillah dan al-Azhar, yaitu bagian tengah yang dibiarkan langsung menengadah ke awan dan tanpa diberi atap. Khas seperti ini juga tercerminkan dalam bangunan-bangunan masjid di Mekah dan Madinah. Tidak hanya masjid saja, namun Baybars membangun madrasah dan beberapa bagian pemakaman yang bersambungan sekaligus dengan masjid. Warna merah putih juga menjadi ciri khas masjid ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, Kairo sungguh menyimpan beragam peninggalan klasik. Sebuah daerah yang justru dekat dengan kita malah banyak terlupakan. Tidak hanya Islam yang sempat meninggalkan sejarahnya, ada di sana bangunan gereja eksotik lainnya peninggalan Kristen Koptik yang terletak di Kairo bagian Barat yaitu Margirgis. Dari varian bangunan inilah kita semakin mengetahui proses akulturasi peradaban yang saling bertautan. Dan kita juga semakin mengetahui bahwa dahulunya, Islam, Romawi, Hellenistic dan Pharaoh pernah mempunyai glorifikasi masa lalu yang tidak sepatutnya kita hilangkan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-8407715357448425281?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/8407715357448425281/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=8407715357448425281' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/8407715357448425281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/8407715357448425281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2008/09/sebuah-kesadaran-sejarah.html' title='Menelusuri Situs-situs Peninggalan Mamalik'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SPoYPs2BbPI/AAAAAAAAAEI/y3WeqDg96OE/s72-c/sultan-hassan-mosque01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-253144397424818416</id><published>2008-09-17T00:41:00.000-07:00</published><updated>2008-09-17T00:47:14.871-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Stories'/><title type='text'>Become Exhausted</title><content type='html'>Freitag, am 12 September im Jahre 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata hari ini aku penat !! Yah, hal itu tanpa kusadari sudah menjangkit jiwa, raga bahkan seluruh darahku. Bagaimana aku harus bangkit? Haruskah ku menunggu sampai akhirnya Dia memberikanku sebuah pelajaran yang tak terlupakan? Aku takut. Aku tak berani beresiko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, ku harus melangkah. Bukan saatnya berbicara Cita. Dan bukan saatnya pula untuk berbicara Cinta. Sekali lagi aku muak dengan dua kata itu. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaranku tiba-tiba hadir. Kutemui air mataku larut dalam angan-angan. Aku lemah. Dan sangat lemah. Terkadang aku berpikir sangat egois. Aku hanya membayangkan kata-kata 'kuat', dan sok menjadi kuat walaupun sebenarnya aku rapuh. Kemudian Aku membatin, merenung, dan berkontemplasi atas 'Aku'. Sampai akhirnya aku pun sepakat, bahwa  ternyata aku semakin rapuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah wanita diciptakan 'lemah'?? aku pun berpikir, sebenarnya tidak. Namun kenyataannya, mayoritas dari mereka mengaku lemah. Kembali aku merasa sok jagoan. Hingga suatu saat aku akan merasakannya, "ah naudzubillah", batinku. Terus terang, aku sangat benci dikasihani. Termasuk kau (siapapun kau), jika suatu saat nanti kau akan mengasihaniku. Aku tidak akan menerimanya. I'm sure…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just for my heart…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-253144397424818416?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/253144397424818416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=253144397424818416' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/253144397424818416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/253144397424818416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2008/09/become-exhausted.html' title='Become Exhausted'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-2543313761088885704</id><published>2008-09-11T07:19:00.000-07:00</published><updated>2008-09-11T07:53:43.374-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Der Artikel'/><title type='text'>Telaah Metodologi Tafsir Pasca Abduh</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SMkvbWg4E6I/AAAAAAAAADg/_EQQE9k8fzU/s1600-h/SCHOLARS.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SMkvbWg4E6I/AAAAAAAAADg/_EQQE9k8fzU/s200/SCHOLARS.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244775387996099490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Maria EL Fauzie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertengahan abad ke-19 umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik dan militer tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial budaya. Tantangan ini memberikan pengaruh yang sangat besar dalam pandangan hidup serta pemikiran sebagian besar umat Islam. Mereka melihat kekuatan Barat dan kemajuan ilmu pengetahuannya yang semakin meroket sehingga menimbulkan perasaan rendah diri atau inferiority complex. Berbagai macam cara dilakukan untuk berusaha mengadakan kompensasi atau melarikan diri, salah satunya adalah mengingat kejayaan dan peninggalan-peninggalan Islam yang kemudian melahirkan apa yang disebut dengan adab al-fikri wa al-tamjid (sastra kebanggaan dan kejayaan). Pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran masyarakat Islam sangat besar dalam menafsirkan al-Qur'an. Berbagai corak penafsiran tumbuh subur dengan berbagai latar belakangnya, adalah corak sastra budaya yang timbul akibat banyaknya imigran non Arab yang memeluk agama Islam serta akibat orang Arab sendiri yang masih lemah di bidang sastra. Kemudian corak filsafat dan teologi akibat dari penerjemahan kitab-kitab filsafat dan teologi yang banyak mempengaruhi penafsiran teks al-Qur'an. Corak ilmu pengetahuan juga berkembang bebas akibat kemajuan ilmu-ilmu dan usaha penafsir untuk memahami serta menafsirkan al-Qur'an sejalan dengan perkembangan ilmu. Adapun corak-corak lain yang meramaikan model penafsiran saat itu seperti fiqh dan tasawuf. Sebetulnya berbagai corak tersebut semakin menambah khazanah tafsir, tapi di balik itu semua tersimpan bahaya laten yakni manipulasi pemaknaan teks. Teks al-Qur'an akan di bawa dan di permainkan sejauh keinginan penafsir. Ini terjadi dalam sejarah Islam terutama konteks konflik antara kaum Mu'tazilah dengan kaum anti Mu'tazilah. Kemudian bermula pada masa Syaikh Muhammad Abduh (1849- 1905) corak- corak tersebut mulai berkurang dan perhatian lebih banyak terfokus pada corak sastra budaya kemasyarakatan.&lt;br /&gt; &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, pergulatan dalam ranah kajian tafsir kontemporer menuntut adanya tafsir yang membebaskan. Tidak hanya tafsir yang terkekang dan terdominasi oleh golongan tertentu, tetapi yang menampung aspirasi-aspirasi kelompok lain yang saat ini tersubordinatkan. Ini dapat dilihat dengan maraknya kemunculan tafsir yang menggunakan berbagai macam pendekatan-pendekatan baru yang bertujuan menggoyangkan model tafsir konvensional, seperti hermeneutik, pendekatan feminisme, pendekatan sastra, pendekatan kontekstual atau posmodernis. Karena tafsir konvensional di anggap seringkali mendominasi, hegemonik, anti konteks, mengkungkung kebebasan, dan bahkan menindas. Dengan tujuan mencapai pemaknaan tunggal para ulama Islam menuntut  model  penafsiran yang seragam. Akibatnya tafsir menjadi asosial, ahumanis, terpusat pada teks sehingga mengabaikan unsur- unsur di luar teks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaah kritis terhadap teks-teks suci adalah problematika umat Islam bukan hanya ulama tafsir dan merupakan problem signifikan yang harus ditemukan solusi konkritnya. Karena al-Qur'an sebagai kitab petunjuk (hudan) memiliki posisi sentral dalam kehidupan manusia. Bukan saja sebagai landasan bagi pengembangan berbagai ilmu-ilmu keislaman tapi merupakan inspirator sekaligus pemandu gerakan-gerakan umat Islam selama empat belas abad dalam sejarah umat manusia. Hal ini bisa dilihat dari bermunculnya gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Wahabi di Saudi Arabia, Jam'at Islami di Pakistan, NU dan Muhammadiyah ataupun gerakan Islam lainnya di berbagai belahan dunia. Dialektika antara teks al-Qur'an dengan kebudayaan manusia akan selalu berkembang sehingga tidak terjadi stagnansi penafsiran serta tidak akan menjadi teks mati yang tidak berarti apa- apa dalam kancah kehidupan manusia yang pada akhirnya visi transformatifnya akan selalu hidup dan fleksible dengan kondisi umat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammed Arkoun menegaskan bahwa tradisi akan mati, kering dan mandeg jika tidak dilakukan penafsiran ulang terhadap teks-teks suci sejalan dengan dinamika sosial. Al-Qur'an sebagai teks telah banyak melahirkan tradisi pemikiran, pergerakan bahkan prilaku keagamaan yang tentu saja tidak mudah untuk mengabaikannya. Oleh karena itu banyak metode-metode penafsiran yang di tawarkan dalam upaya yang patut di banggakan sebagai usaha mendinamisasikan al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasr Hamid Abu Zayd, seorang intelektual asal Mesir berpendapat bahwa al-Qur'an adalah "produk budaya" artinya teks al-Qur'an terbentuk dalam realitas dan budaya,  namun al-Qur'an juga merubah budaya ( muntij li al-tsaqafah). Realitas dan budaya tidak bisa dipisahkan dari bahasa, oleh sebab itu al-Qur'an juga termasuk teks bahasa. Sehingga dari bahasa al-Qur'an pun juga sebagai teks historis dan manusiawi meskipun pada hakekatnya al-Qur'an adalah kalam Illahi. Semenjak turunnya al-Qur'an kepada Nabi Muhammad, teks illahi sudah berubah menjadi teks manusiawi. Teks bahasa sastra yang di ajukan Nasr dalam metodologinya mengkaji al-Qur'an adalah suatu pendekatan yang patut diaplikasikan menurut Arkoun. Kalam illahi wujud dalam bahasa manusia, karena jika tidak maka kalam illahi itu tidak akan dimengerti. Salah satu penyebab pemikiran islam mengalami stagnansi adalah penekanan yang terlalu berlebihan kepada dimensi illahi. Sekalipun asal muasalnya dari Tuhan, namun Nasr dan Schleiermacher berpendapat study al-Qur'an tidak diperlukan metode khusus, karena hanya sebagian orang saja yang mempunyai kemampuan untuk memahaminya. Bahkan Nasr menyalahkan mayoritas mufassir yang selalu menafsirkan al-Qur'an dengan muatan metafisis Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit mengadopsi metode pembacaan ulang dan kontemporer terhadap al-Kitab oleh Syahrur, bahwa setiap kata tidak akan bisa menggantikan makna dan fungsi kata lain secara sempurna, karena setiap kata memang secara khusus diciptakan untuk menunjukkan sebuah benda atau sebuah makna, tidak lebih. Ini sesuai dengan pernyataan Tsa'lab: "Apa yang diduga dalam kajian bahasa sebagai sinonim sebenarnya adalah kata yang mempunyai arti yang berbeda", kamus yang dipilihnya pun "Maqayis al-Lughah" karya Ibnu Faris sebagai referensi utama dalam mencari perbedaan makna kata-kata yang dikajinya, dan bukan kamus-kamus lain. Teori Abu Ali Farisi mencakup konsep-konsep bahwasanya bahasa adalah sebuah sistem dan fenomena sosial sehingga struktur bahasa saling berkaitan dengan fungsi komunikatif yang diperankannya. Adapun bahasa berkaitan erat dengan pemikiran, sebagaimana kaedah pembahasan di dalam ilmu linguistik adalah bahasa merupakan suara yang menunjukkan makna tertentu sebagai hasil dari pikiran manusia, sekaligus alat yang digunakan bersosialisasi dalam masyarakat. Pemikiran manusia selalu berkembang seiring dengan berkembangnya akal, oleh karena itu tidak ada suatu kata yang mempunyai makna persis tapi memainkan perannya tersendiri sesuai dengan kebutuhan penggunaannya. Lain halnya dengan apa yang dikemukakan Schleiermacher, seorang protestant yang pernah menjadi Rektor di Universitas Berlin 1815-1816. Menurutnya sebuah teks dapat dipahami dengan melakukan penafsiran bahasa dan psikologi (grammatical and psychological interpretation). Penafsiran kata bahasa berfungsi untuk mengidentifikasikan secara jelas makna istilah bahasa yang digunakan dalam al-Qur'an, sedangkan penafsiran psikologi berfungsi untuk mengidentifikasikan motif pengarang dalam suatu waktu dari kehidupannya ketika menulis teks. Untuk penafsiran tata bahasa, Schleiermacher mengembangkan kaidah- kaidah penafsiran. Dia mengatakan sebuah teks akan ditentukan maknanya jika dikaitkan dengan bahasa yang dikomunikasikan oleh pengarang kepada publik yang orisinal. Selain itu, makna dari setiap kata harus ditentukan dengan konteks keberadaan kata tersebut. Jika Schleiermacher memfokuskan kepada penafsiran sebagai aktifitas para penafsir, yang merupakan persoalan metodologis, maka Gadamer mengabaikan hal tersebut dan menegaskan bahwa pemahaman adalah persoalan ontologis. Gadamer menegaskan pula makna bukanlah dihasilkan oleh interioritas individu tetapi dari wawasan-wawasan sejarah yang saling terkait yang mengkondisikan secara individu. Pemahaman bukanlah salah satu daya psikologis yang dimiliki manusia, namun pemahaman adalah kita. Ada sedikitnya dua metode yang ditegaskan Gadamer, pertama sikap reduktif ketika dengan seenaknya memasukkan konsep kita sendiri dengan berlebihan ke dalam ruang lingkup budaya, sehingga menafikan kekhususan maknanya ; kedua sikap self effacement ketika kita menafikan kepentingan kita sendiri dengan berusaha masuk ke dalam kaca mata orang lain. Berbagai interpretasi penafsiran setidaknya telah mendominasi kancah intelektual muslim hanya dengan tujuan menyamakan visi dalam memahamkan al-Qur'an sebagai teks suci umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Abduh pernah berkata, "Seharusnya, telaah terhadap al-Qur'an di posisikan sebagai pemahaman yang kontekstual. al-Qur'an harus dipahami sebagaimana orang- orang pada masa ia diturunkan memahaminya; baik dari segi kata, atau prosa kesusastraan. Ucapan ini sedikit banyak menggugah nurani Khalafullah terhadap kajian sastra al-Qur'an. Disertasi Khalafullah yang berjudul Al-Fann al-Qashashiy fi al-Qur'an al-Karim memicu respon kontroversial dari berbagai kalangan yang dianggap merobohkan bangunan keyakinan umat Islam terhadap kisah-kisah al-Qur'an sebagai kesahihan sejarah. Ketika mayoritas umat Islam meyakini bahwa kisah dalam al-Qur'an adalah sejarah, Khalafullah dengan berani mengatakan sebaliknya. Kisah-kisah tersebut digunakan al-Qur'an untuk menyampaikan nilai-nilai tertentu, baik nilai sosial, psikologis, agama maupun etika. Jadi saat menyebut kisah-kisah tersebut al-Qur'an tidak sedang menceritakan sejarah masa lalu. Metode yang diterapkan Khalafullah dalam menafsiri kisah al-Qur'an adalah metode sastra yang mempunyai tahapan, yaitu pembahasan kata, pemahaman makna, dan penarikan sebuah hikmah atau pesan yang tersimpan. Para ahli balaghah dan kritikus sastra terdahulu ternyata kurang peduli dengan kisah sebagai salah satu bentuk aliran dalam sastra. Konklusi itulah yang ditemukan Khalafullah dalam penelitiannya terhadap sastra klasik Arab. Para mufassir mendefinisikan kisah sebagai kumpulan kata-kata yang mengandung unsur petunjuk terhadap agama dan mengajak terhadap kebaikan;sebuah definisi yang sangat moralis dan agamis. Kisah dalam al-Qur'an, menurut Khalafullah harus ditempatkan dalam posisi ini. Ia adalah karya sastra yang tentu saja mengikuti alur dan struktur sastra.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang dalam mengurai gaya penafsiran intelektual muslim, kita dapat memetik ide-ide segar yang kemudian bisa kita terapkan dalam memahami teks, karena setiap individu berhak melakukan "kencan bebas" dengan teks-teks suci. Klaim kebenaran pemahaman oleh setiap manusia dalam menginterpretasikan teks adalah sekelumit metode yang digunakan Ali Harb dalam penafsiran al-Qur'an. Dia juga berasumsi bahwasanya kebenaran hakiki sebenarnya tidak selalu hadir dalam persepsi manusia karena kebenaran akan selalu berada di tempat di antara dua tempat (manzilah baina manzilatain). Kebenaran pada hakekatnya adalah interpretasi dan reinterpretasi. Setiap individu dan setiap generasi memiliki interpretasinya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, setiap individu, golongan dan setiap generasi memiliki nilai kebenarannya sendiri yang berbeda satu dengan yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Abduh sang pembaharu Islam menawarkan ide-ide brilian progresif untuk melawan konservatisme penafsiran pada saat teks al-Qur'an terkungkung dalam naungan yang mati dan stagnan. Metode-metode penafsirannya pun bergaya dinamis disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang semakin berkembang. Dalam al- Manarnya Abduh lebih mengedepankan penafsiran yang tidak melulu dilihat dari tekstualitas tapi juga harus menilik kepada kontekstualitas turunnya ayat. Gaya tafsirannya Abduh jauh berbeda dengan kebanyakan ulama tafsir pada saat itu yang banyak keluar dari makna teks, bahkan Abduh dengan tegas mengatakan bahwa menafsirkan teks al-Qur'an harusnya dengan al-Qur'an itu sendiri karena unsur kesinambungan dalam teks adalah satu dari sekian hal yang mendapatkan pembenaran dari beberapa ulama tafsir. Dengan mengadopsi teori aksiomanya Decrates, Abduh semakin gencar dalam mensiasati keterangan-keterangan dalam menafsirkan teks. Segala sesuatu yang sifatnya tidak pasti (dzanni) akan segera dihempaskan dari konseptualitas penafsirannya dan lebih memprioritaskan khabar pasti (qath'i). Hal yang paling signifikan dalam tafsirannya Abduh yaitu model pembacaan yang menitikberatkan pada ruh (spirit) teks, karena makna tidak dengan sendirinya tampak dari ungkapan aslinya. Kerancuan dan terselipnya makna dari kedzahirian inilah yang membutuhkan kedetailan dalam mengungkap, menafsirkan, membebaskan bahkan mena'wilkannya. Dengan kata lain teks membutuhkan teks yang menjelaskannya. Yang demikian ini menurut Ali Harb bukan membantu menjabarkan isi teks, tapi justru menutup teks dari muatan isinya "melupakan sesuatu yang telah ada atau menutup sesuatu yang telah terbuka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangkat interpretasi ulang terhadap teks al-Qur'an lewat pendekatan feminis juga bukan hal yang sulit ditemukan pada era kontemporer. Kuatnya kesan dominasi dan budaya patriarkhi di dalam berbagai khazanah ilmu-ilmu Islam seperti tafsir, fiqh yang selama ini diyakini telah memberikan porsi besar kepada kaum laki-laki telah menginspirasi beberapa feminis muslim sebut saja Dr. Amina Wadud, Fatimah Mernisi serta Dr. Aisyah Abdurrahman "Binti Syathi'" untuk lebih giat memperjuangkan keberadaan kaum hawa. Fakta membuktikan bahwa kewenangan dalam menafsirkan teks suci pada tataran praktis secara eksklusif dikuasai oleh kaum laki-laki. Kenyataan ini ikut menginfiltrasi sejumlah teks yang sedianya di peruntukkan untuk feminitas wanita dengan susupan-susupan subjektif dari pandangan maskulin si penafsir. Pengalaman laki-laki akhirnya dipaksakan untuk memahami kewanitaan. Celakanya, metode semacam ini sudah terlembagakan selama berabad-abad. Oleh karena itu Amina berpendapat bahwa objektivitas sebuah penafsiran tidak pernah mencapai level yang absolut, dominasi kaum laki-laki akan selalu beriringan di dalam muatan tafsirnya. Sistem inilah yang sering di istilahkan sebagai tafsir maskulin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan hal yang sangat kompleks dimana corak penafsiran dengan segala metodologinya semakin menghiasi bahkan mewarnai wacana keintelektualan dunia Islam, analisis kristis yang terus menerus menghujami khazanah penafsiran diharapkan lebih bisa dipertanggung jawabkan. Tidak hanya berputar pada analisa-analisa yang tak berbuntut pada solusi konkrit. Peran yang dimainkan oleh para intelektual Islam dalam pembacaan teks memang sangat vital, yaitu agar teks menjadi produktif dalam menghasilkan makna yang bersepakat. Maka sangat tidak cukup bagi pembaca dalam berinteraksi dengannya hanya sekedar memaknai, menjelaskan maksudnya atau mena'wilkan maknanya, tapi juga harus mempertanyakan aksiomanya, menggali dan mendekonstruksi lapisan-lapisan arkeologisnya, mengungkap mekanismenya serta menelanjangi makna-makna yang tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urgenitas penafsiran teks al-Qur'an perlu adanya wilayah batasan. Apa yang perlu dan diperbolehkan untuk di tafsirkan dan mana yang tidak perlu. Adalah suatu kebenaran bahwa setiap manusia berhak untuk memahami al-Qur'an untuk dirinya sendiri tapi tidak semua manusia dengan segala kemampuannya dapat menafsirkan hal-hal ghaib yang ada pada al-Qur'an, sehingga terjadilah apa yang disebut dengan pemaksaan diri dalam memahami konteks al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis ingin sedikit menjelaskan definisi dari pada tafsir dan ta'wil itu sendiri sebelum terjadi tumpang tindih pemahaman lebih lanjut. Adalah tafsir yang bertujuan menyibak maksud penulis dan makna sebuah wacana. Biasanya tafsir digunakan oleh para penganut salafisme dalam mengklaim dirinya sebagai pemilik kebenaran, tidak hanya penganut agama atau madzhab tapi juga penganut ideologi. Tafsir adalah salah satu bentuk strategi penjagaan terhadap eksistensi teks. Celakanya, sebagian perkataan penafsir tidak selalu sama persis dengan teks yang ditafsirkannya, padahal dia mengklaim bahwa yang dilakukannya adalah menjelaskan maksud teks tersebut. Adapun ta'wil adalah memalingkan kata ke salah satu makna yang mungkin, yang sebenarnya bukan makna yang dimaksud. Bisa dikatakan ta'wil adalah bentuk pemaksaan terhadap teks. Berangkat dari pandangan ini setidaknya dapat sedikit membantu kerancuan dalam menafsirkan ataupun mena'wilkan teks suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai corak, metodologi ataupun pendekatan-pendekatan yang telah di usung para mufassir kontemporer saat ini menurut hemat penulis belum menemukan celah perkembangan secara fungsional dalam upayanya merekonstruksi kembali penafsiran dari teks al-Qur'an, karena hanyalah sebagian surat ataupun ayat saja yang mulai ditafsirkan lagi tanpa mengupayakan wujud tafsiran yang sempurna. Para kaum intelektual Islam mencoba mengkaji ulang dalam takaran tertentu sehingga secara keseluruhan memang belum terealisasikan. Yang pada akhirnya saat ini kita belum menemukan tafsiran sempurna dari metode-metode brilian yang dikeluarkan ahli tafsir pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini ilmu al-Qur'an oleh sebagian umat Islam dianggap sudah kelewat matang, sehingga tidak diperlukan lagi upaya untuk sekedar mengkaji ulang atau menambahkan atas apa yang ditinggalkan oleh ulama terdahulu. Matangnya ilmu-ilmu al-Qur'an tersebut ditandai dengan ditulisnya Al-Itqan oleh Suyuthi (849-911) melengkapi Al-Burhan yang ditulis sebelumnya oleh Zarkasyi (744-794). Dan setelah itu umat Islam tidak menambahkan sesuatu yang baru. Seolah segala sesuatu yang dibahas oleh Al-Burhan dan Al-Itqan telah selesai tanpa harus ada pembahasan lebih lanjut sesudahnya, kecuali hanya sekedar menyederhanakan agar lebih mudah dipahami. Tentunya bukan merupakan sebuah kesalahan untuk merujuk kepada keduanya mengingat referensi yang mereka pakai tidak sampai kepada kita, tapi bahwa apa yang mereka tinggalkan tidak mencukupi kebutuhan kita sekarang. Fenomena yang ada, perkembangan ilmu tafsir belum menemukan titik temunya hanya berkutat pada lontaran-lontaran wacana dan ide saja. Tapi justru dari wacanalah berkembangnya ilmu tafsir akan "melompat lebih tinggi".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-2543313761088885704?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/2543313761088885704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=2543313761088885704' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/2543313761088885704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/2543313761088885704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2008/09/transformasi-politik-meneguhkan-nilai.html' title='Telaah Metodologi Tafsir Pasca Abduh'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SMkvbWg4E6I/AAAAAAAAADg/_EQQE9k8fzU/s72-c/SCHOLARS.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-2684983623641150742</id><published>2008-09-10T07:38:00.000-07:00</published><updated>2008-09-10T07:40:40.401-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Stories'/><title type='text'>A Dreamy World</title><content type='html'>Aku semakin tau arti Cita dan Cinta. Ia layaknya jantung dalam organ tubuh yang selalu mengiringi tiap detak nafas manusia. Yah pastinya, you can't live without it!! Karena Cita aku hidup. Dan karena Cinta hidupku semakin berarti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, akhir akhir ini aku selalu dirundung rasa gelisah. Sebuah kegelisahan yang menurutku sangat beralasan. Ia adalah 'Cita' yang sejak lama turut mewarnai gelora hidup dan matiku. Namun saat ini ia berontak, seketika ingin diwujudkan. Aku pun tak habis pikir, kenapa tiba-tiba ia mendominasi langkah-langkah akhirku kali ini. Kuperas otakku dalam-dalam, dan ku mulai berpikir dan bertanya, What next and what must I do? Aku pun tercengang lama. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kenapa seh 'Cita' itu egois ? tanpa mau tau apa yang nanti bakal terjadi dalam hidupku dikemudian hari? Apa yang bisa kamu perbuat wahai 'Cita' jika akhirnya nanti aku akan berhadapan dengan realita hidup yang membuatmu BERHENTI, MENDEG dan TAK TERCAPAI. Aku yakin engkau pasti menertawakanku…cause I lose it !! oke, akan aku terima. Apapun perlakuanmu terhadapku akan kuterima dengan senyuman meskipun agak pahit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apa kau kira aku akan MENGALAH ?? kurasa kau lebih tau akan sifat dan watakku. Separuh hatiku ternyata lebih memihak mu. Ia cenderung ingin melangkah jauh, dan kemudian menggapai mu. Tak peduli dengan realita apapun. Sekali lagi, ternyata ia lebih tangguh dari yang aku kira. Kemudian, ia pelan-pelan membuat langkah jitu, dengan maksud suatu saat jika kesempatan itu datang, dan Tuhan mulai memperlihatkan senyumanNya untukku, kita akan bekerjasama layaknya sepasang partnership. Wahai 'Cita', just wait me for a while, I suppose I'll catch you as soon as I can, with all my effort. Keep Fighting…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi, sungguh aku merindukanmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-2684983623641150742?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/2684983623641150742/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=2684983623641150742' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/2684983623641150742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/2684983623641150742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2008/09/dreamy-world.html' title='A Dreamy World'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-5664325826007788580</id><published>2008-09-10T07:35:00.000-07:00</published><updated>2008-09-10T07:37:45.799-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Catatan'/><title type='text'>Tanah Impian</title><content type='html'>Entah berapa lama lagi Madinah sebagai sample Negara Ideal akan terus didengungkan. Kurang lebih 14 abad, dia selalu menduduki tingkat teratas, yang, bisa jadi posisi itu tak akan pernah tergantikan. Apakah hanya karena Yatsrib saat itu dipimpin oleh seorang Nabi? Jawabannya, bisa demikian dan bisa tidak. Namun secara aklamasi, kepemimpinan Muhammad saat itu terlihat mempesona, dengan menghadirkan seluruh komponen masyarakat Yatsrib secara individual guna mencapai cita universal. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beranjak ke Spanyol, sebuah daratan eksotik yang banyak menyimpan kekayaan agung dalam catatan sejarah Islam. Bumi ini ternyata juga sempat menduduki urutan kedua dari contoh Negara Ideal, tepatnya di Kordova selama periode Umayyah 929 M. Persematan tersebut tentu beralasan. Abdurrahman al-Dakhil mengawalinya dengan penjagaan ketat akan konstalasi politik luar dan dalam negri, serta menyamarkan berbagai kecemburuan sosial yang sangat pelik antara dua elemen masyarakat Kristen dan Islam. Sehingga pada tataran selanjutnya, penaklukan Islam atas Spanyol ini telah berhasil menghancurkan hegemoni kelas atas yang memiliki hak-hak istimewa, memperbaiki kondisi kelas bawah, dan mengembalikan hak property tuan tanah Kristen yang sebelumnya tidak diakui ketika bangsa Gotik Barat berkuasa.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, apakah cukup dengan persyaratan tersebut sehingga dapat diposisikan sebagai Negara Ideal? Survey membuktikan, tidak. Ada hal lain yang oleh para pakar dijadikan sebagai objek lirikan mereka. Yaitu ilmu pengetahuan. Bahkan ia (baca; keilmuan) mampu mengangkat semua elemen kemasyarakatan kesebuah negara yang berperadaban dan dicita-citakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya Bagdad, Kordova mampu menumbuhkan kembali intelektualitas masyarakatnya. Sumbangan keilmuan Kordova dapat dikatakan setara dengan Bagdad. Pun, upaya pencapaian dan penghargaan yang diberikan seluruh komponen pemerintahan terhadap proses keilmuan. Sebagai perantara dengan beberapa penambahan dan transmisi khazanah Yunani klasik, bahkan ia mampu menjadi motivator utama lahirnya pencerahan di Eropa Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glorifikasi masa lalu terkadang juga perlu diangkat kembali. Baik itu Madinah, Kordova atau, bahkan Malaysia, yang saat ini paling getol dan dinyatakan berhasil dalam mengusung konsep Civil Society ala Badawi. Civil society sebagai sebuah terma baru, memang cukup menyedot banyak perhatian. Anak didik demokrasi ini lahir dan diciptakan tidak hanya untuk Madinah, Kordova, Eropa atau negri entah berantah yang makmur dan luhur. Namun ia dihadirkan untuk semua nafas manusia yang rindu akan kedamaian, kejujuran, keadilan dan kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedengaran melankolis memang, tetapi jiwa manusia tidak begitu saja dapat terlepas dari segala tetek bengek yang ada dalam nalurinya. Selayaknya Ibnu Khaldun. Darah Spanyol yang mengalir dalam dirinya, serta berbagai factor yang melatar belakanginya, turut andil dalam menelorkan semacam teori-teori rumit yang bakal banyak dilirik oleh sarjana Barat diera selanjutnya. Maka, hubungan manusia dengan manusia akhirnya juga mendapat perhatian layak oleh mereka yang menganggap kedamaian manusia tidak hanya sebagai mimpi utopis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi al-Farabi sebagai penggagas Madinah Fadlilah hanya bisa tertawa lepas disaat konsep usangnya dahulu mulai banyak disentuh, bahkan diporakporandakan oleh mereka para pemerhati manusia. Tuhanpun mungkin juga tersenyum melihat hambanya mulai mandiri, mengutak-atik segala teknisi kehidupannya. Dengan catatan, tidak lupa sedikitpun akan perhatian Tuhan yang telah apik disampaikan oleh mendiang kanjeng Nabi Muhammad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harmonisasi kesehatan akal dan agama selalu saja lari kian kemari, tarik sana sini, tanpa adanya konklusi kemufakatan yang dan akan terjadi. Dinamika social kemudian menjadi layaknya logika aristoteles. Dengan bagaimanapun ia akan tetap bertahan untuk menjadi tajuk utama dalam berdialog. Tiga komponen inilah, (agama, akal dan realita) yang akan terus berjalan, menempuh jarak berjuta-juta mil untuk sekedar sampai kesebuah area kebahagiaan Tuhan dan manusia yang bercita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, American Declaration of Independence mulai ramai dipropagandakan. Atas nama hak asasi dan keadilan manusia ia diposisikan sebagai pembela manusia sejati. Entahlah, mungkin mereka lupa dengan Khutbah al-Wada'  Nabi, yang sejak saat itulah pertama kali konsep hak-hak asasi dikenalkan. Nilai dan ruh Islam ini yang turut mendasari pola tatanan serta system kenegaraan. Berawal dari titik tolak kesucian life, property, and dignity, manusia akan selalu merasa dimanusiakan, tanpa perbedaan geneologis, ras dan agama tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi, civil society serta masyarakat madani seakan menjadi juru kunci kebahagiaan. Mereka sangat yakin, dengan system ini tatanan social masyarakat akan lebih baik. Apalagi jika disokong oleh etika umat yang bersahabat. Disinilah sebenarnya peran agama sebagai pengendali realita global yang semakin menyeruak. Dan pada titik selanjutnya, masyarakat harus siap dengan entitas luar tanpa harus jaga jarak, antipati dan seakan tak bisa bergabung dengan keberagaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, cita-cita adiluhung itu akankah tercapai? Tergantung prediksi, kalau  Tuhan nyata-nyata berkehendak, ya akan terjadi. Namun, prediksi manusia tak segampang itu. Artinya, tidak berarti proses tersebut akan berlangsung kilat. Waktu juga perlu untuk diajak kompromi. Serta konsep-konsep rumit para sosiolog harus terus berasimilasi dengan realita kini. Bukankah Islam tidak ingin tetap berada dalam keterpurukannya? Untuk itulah dibutuhkan juga kesiapan masyarakat Islam untuk membuka mata, melihat apa yang sekarang terjadi di Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah klasik tak perlu lagi diusik. Tak ada satupun makhluk Tuhan yang ingin hidup dalam ketidakadilan. Manifestasi dari sifat adil Tuhan inilah yang harus diisukan kembali, diangkat serta diwacanakan. Pola apapun itu, asal ruh murni manusia dapat dipertanggung jawabkan, sudah cukup untuk menyandang gelar 'sah' dalam sebuah ketetapan. Ataukah masih tetap bersikukuh dengan mempertahankan ideology dan idealisme masing-masing?.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-5664325826007788580?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/5664325826007788580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=5664325826007788580' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/5664325826007788580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/5664325826007788580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2008/09/tanah-impian.html' title='Tanah Impian'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-7684230611961093419</id><published>2008-09-10T07:02:00.000-07:00</published><updated>2008-09-11T08:00:52.400-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Der Artikel'/><title type='text'>Paradigma Penafsiran ala Bintu Syati'</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SMkyehcV0mI/AAAAAAAAADo/AMNWidYC8jk/s1600-h/koran.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SMkyehcV0mI/AAAAAAAAADo/AMNWidYC8jk/s200/koran.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244778741004358242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;By ; Maria El Fauzy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metodologi penafsiran yang semakin marak akhir-akhir ini bisa jadi merupakan wujud ketidakpuasan kaum intelektual terhadap beberapa karya klasik. Hal demikian tidak sepenuhnya salah, karena bagaimanapun suatu kondisi akan selalu berkembang dan terus berjalan tanpa henti. Kompleksitas saat itu jelas berbeda dengan situasi sekarang. Adalah Bintu Syati', termasuk dari beberapa sarjana Islam yang merasakan hal serupa. Menurutnya, anggapan final terhadap literatur klasik sangatlah tidak tepat, banyak hal yang harus diekplorasi dan diuji lebih lanjut. Sample kecilnya adalah israiliyyat, dan hadist-hadist yang harus diuji kembali keabsahan matan dan sanadnya. Pun, beberapa sikap fanatisme madzhab yang selalu melatar belakangi dalam menafsirkan suatu ayat. Perihal ini dapat kita saksikan dengan jelas dalam penafsiran beliau yang dinilai berani mengkritisi ulama klasik, khususnya di Surat Al-Dhuha. Rupanya, dalam langkah selanjutnya Bintu Syati' mulai mencoba untuk tampil objektif dalam perspektif penafsiran Kalam Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas Biografi Bintu Syati'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. Aisyah Abdurrahman yang lebih dikenal dengan sebutan Bintu Syati' termasuk satu diantara beberapa interpreteur perempuan yang banyak memberikan kontribusi pemikirannya terutama dalam problematika penafsiran. Beliau dilahirkan di Dimyath, sebuah kawasan delta selatan sungai Nil, tepatnya pertengahan November 1913. Konon, Julukan Bintu Syati' (gadis tepi pantai) digunakan ketika beberapa artikelnya mulai mewarnai surat kabar Mesir. Alasan utamanya adalah ketakutan beliau terhadap sang ayah. Aisyah Abdurrahman dilahirkan dan dibesarkan ketika kondisi lingkungan sama sekali tidak mendukung terhadap aktivitas perempuan, apalagi sampai dikenal masyarakat luas. Terlebih sang ayah adalah seorang ulama tradisional yang sangat berpegang teguh terhadap tradisi keluarga ketika itu, sehingga sepak terjang Bintu Syati' tidak sepenuhnya bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat belajar yang tinggi, sekitar tahun 1939 beliau telah menyandang gelar sarjana Sastra Arab, Fakultas Adab Universitas Kairo, sekaligus berhasil menyelesaikan Magister di tahun 1941 dengan predicate Summa Cumlaude. Setelah menyelesaikan program Magister, Bintu Syati' dipinang oleh dosennya sendiri di bangku kuliah, DR. Amin Khulli,  yang juga dikenal sebagai sarjana Islam berdedikasi tinggi sekaligus kaum intelektual yang banyak berkecimpung dalam problematika pendidikan. Tak jauh dari Bintu Syati', suaminya pun adalah seorang mufassir kenamaan Mesir, dan telah mentransferkan beberapa ilmunya dalam karya-karya beliau. Baru sekitar tahun 1950 Bintu Syati' berhasil meraih program Doktoral bersama DR. Thaha Husein sebagai penguji tesisnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirasah Qur'aniyah telah lama beliau geluti semenjak masa kanak-kanak, hal itulah yang setidaknya mendorong Bintu Syati' untuk mencoba mengkaji lebih dalam tentang al-Qur'an. Kemampuan dalam sastra Arab sudah menjadi identitas beliau, maka tak heran jika pendekatan bahasa-lah yang ia pilih untuk pertama kalinya guna menggali al-Qur'an sebagai harta karun peradaban Islam yang tak kunjung habis untuk diekplorasi. Kelihaian Bintu Syati' di bidang ini terlihat jelas dalam  masterpiecenya " Al- I'jaz Al- Bayani ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan terhadap dedikasi wanita kenamaan ini, dalam bidang Tafsir khususnya, tidak hanya didapatkan dari Mesir saja, namun hampir seluruh kawasan Timur Tengah mengakui keintelektualan  beliau. Terbukti dari beberapa karyanya yang mulai membahana serta turut meramaikan beberapa kajian tafsir. Tahun 1998, Bintu Syati' telah meninggalkan segalanya, namun nama dan karya beliau masih terekam rapi dalam khazanah keilmuan Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bargaining Methode (Sebuah Penawaran) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya mampu melontarkan kritikan, namun Bintu Syati' mencoba menawarkan sebuah metode, yaitu al-Manhaj al-Istiqra'i (metode induksi) yang kemudian ia pilih sebagai pisau analisanya dalam kajian tafsir. Selain dari pada itu, keterpengaruhannya terhadap pola pandang Amin Khuli juga turut mewarnai ritme penafsiran beliau, terlebih dalam menafsirkan Surat Al-Ashr dan perspektif Hurriyaat al-'Aqidah (freedom of believe). Keduanya termasuk dari beberapa mufassir yang turut menolak metode tafsir scientific, misalnya dalam (S. al-'Alaq: 2), yang membincangkan penciptaan manusia dari berupa gumpalan darah. Menurut Bintu Syati' hal ini sangat jauh hubungannya jika dikaitkan dengan siyaq al-kalam ayat sesudah dan sebelumnya. Terlebih, ayat tersebut diturunkan bukan sebagai penjelasan dan pengarahan tentang susunan embriologi, tetapi lebih kepada dalil-dalil keagungan Tuhan, yang lebih tepat jika dikatakan sebagai hikmah penciptaan. Bukan seperti penjelasan al-Suyuthi dan Ghazali, bahwa al-Qur'an menyimpan segala macam ilmu pengetahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang patut dikaji dalam teori Bintu Syati' adalah, kesinambungan antara ayat dan surat (irtibath), termasuk beberapa contoh yang juga beliau hadirkan. Selanjutnya, mengenai asbab al-nuzul yang diistilahkan Bintu Syati' sebagai maa haula al-Qur'an. Tetapi, ada beberapa hal menarik lainnya, yaitu ketika Bintu Syati' secara tiba-tiba merubah haluan dari gaya tafsir ke ta'wil (hermenetik). Maka tak heran, jika dalam karya selanjutnya "al-Qur'an wa al-Qadlaya al-Insan" beliau menjelaskan dan mendefinisikan antara tafsir dan ta'wil. Bahwa Tafsir merupakan penjelasan dan pemaknaan al-Qur'an yang dilihat dari teks, baik berupa sinonim atau antonimnya. Tafsir semacam ini hakekatnya sudah banyak dipraktekkan pada periode pertama. Dan ta'wil, lebih kepada pembebasan ayat, artinya makna yang terkandung tidak melulu berkaitan dengan makna lafadz, serta sangat tergantung dengan subjektivitas si mufassir.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penekanan selanjutnya yang dibidik Bintu Syati' yaitu tentang israiliyyat. Merupakan sebuah fakta, bahwa historisasi al-Qur'an sangat banyak terpengaruh dari riwayat-riwayat ahl al-Kitab yang tak lepas dari kultur keyakinan masyarakat ketika itu, terutama dalam Taurat dan Injil. Imam Tabari (310/923) dalam Jami' al-Bayan menyuguhkan beberapa israiliyyat yang banyak dijadikan referensi penafsiran, bahkan dikutip oleh beberapa mufassir. Begitu pula yang dilakukan beberapa mufassir lainnya, semisal al-Zamakhsyari (538/1144), Abu al-Hayyan (754/1344), al-Razi (606/1210), Muhammad Abduh (1905). Berita israiliyat yang mereka suguhkan sangat berbeda, terutama kisah kaum 'Ad dan Tsamud yang kontroversial. Keterikatan yang seakan-akan tidak mungkin lepas, menyebabkan beberapa kisah harus tunduk dengan berita orang-orang Yahudi dan Israel. Bintu Syati' dalam hal ini mempunyai statement menarik, bahwa berita israiliyyat sesungguhnya telah banyak mewarnai penafsiran al-Qur'an. Bagaimanapun opini tersebut harus dilawan, melihat dari kontradiksi kisah yang dibawa mufassir klasik. Serta keterkaitan antara teks dan berita-berita tersebut yang dinilai jauh. Maka berawal dari situlah, kemudian Bintu Syati' dengan sangat lugas mengkritisi para mufassir terdahulu dalam metode penafsiran terutama israiliyyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan para mutakallimin dalam menangkap makna al-Qur'an juga menjadi sasaran empuk Bintu Syati'. Menurutnya, perdebatan tersebut akan menghasilkan penafsiran ayat yang nihil objektivitas, artinya, dilatar belakangi oleh berbagai faktor dan kepentingan madzhab. Terlebih, pola pikir si mufassir juga banyak diwarnai dengan keyakinan dan aqidah mereka yang sudah melekat. Sehingga, pada titik selanjutnya, ayat al-Qur'an dijadikan argumentasi untuk menguatkan kepentingan dan posisi mereka, baik yang pro rasionalitas maupun yang tidak. Bintu Syati' mengambil sample dengan gaya al-Zamakhsyari sebagai mu'tazili, tepatnya pada (S. Yunus; 108), (S. al-Najm; 39-42) yang mencerminkan pemikiran dasar kaum mu'tazilah, terutama mengenai human free will (qadariyah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pendekatan yang digunakan dalam tafsir tidak serta merta menuai kritikan Bintu Syati', kecuali beberapa point saja yang dianggap memang kurang tepat. Giliran selanjutnya adalah model Tafsir bi al-Ra'yi. Lagi-lagi Bintu Syati' kritis terhadap beberapa karya ulama klasik yang bermetodekan filosofis atau isyari. Pada hakekatnya, pengetahuan dan keintelektualan seseorang adalah berstrata, seperti yang dikatakan al-Thabathaba'i seorang Syi'i kontemporer. Maka sangat mustahil jika seseorang yang lebih rendah kapasitas keintelektualannya menyampaikan beberapa ilmu dari seseorang yang berstrata pengetahuan lebih tinggi. Pun, metode seperti ini sesungguhnya bermula sejak periode awal Islam, yaitu ketika Ibnu 'Abbas menafsirkan (S. al-Nasr) yang diartikan sebagai berita wafatnya Nabi. Artinya, intuisi yang digunakan sebagai piranti pembedah ayat al-Qur'an benar-benar melalui pengalaman spiritual sang mufassir, dan sifatnya personal. Seperti yang dihadirkan para sufi, Ibnu 'Arabi, al-Ghazali, Qusayri dsb. Termasuk dalam hal ini adalah pendekatan melalui perspektif filsafat, semisal al-Razi, Ibnu Sina dan Mula Sadra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya Bintu Syati' percaya bahwa ayat-ayat al-Qur'an hanya bermakna tunggal, yaitu persis ketika bangsa Arab dahulu memahaminya dari Muhammad. Dari sini memang tampak jelas, bahwa Bintu Syati' tidak dapat menerima begitu saja berbagai metode penafsiran apalagi yang jauh dari siyaq al-kalam -nya. Seperti, jika dalam tafsir isyari, al-Dhuha dan al-Layli yang diartikan sebagai siang dan malam, pria dan wanita, atau wajah dan rambut Muhammad. Kemudian penafsiran al-Razi tentang al-'asr  yang dimaknai sebagai waktu. Begitulah, Bintu Syati' yang sangat selektif serta berani melakukan beberapa manufer terhadap penafsiran yang dianggapnya kurang tepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintas Pendekatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objektivitas merupakan sebuah mimpi yang selalu didambakan Bintu Syati' dalam upayanya membedah Kalam Tuhan. Sikap yang diambilnya-pun terkadang elastis, terlebih ketika beliau menilai bahwa al-Qur'an tidak dapat ditafsirkan dengan hanya mengandalkan satu metode saja (induktiv). Untuk itu, Bintu Syati mulai melangkah dan menggunakan tawaran hermenetik sebagai salah satu media penafsiran. Menurutnya, metode ta'wil memang dibutuhkan, terutama dalam rangka menghubungkan teks itu sendiri dengan konteks (siyaq al-kalam). Yang selanjutnya berkembang menjadi sebuah metode baru objective comprehension (al-tanawul al-maudlu'i). Yaitu mengumpulkan seluruh ayat al-Qur'an yang mempunyai keterikatan tertentu dengan sebuah tema pembahasan, maka dengan sendirinya ayat-ayat tersebut akan berbicara tentang apa dan bagaimana, serta sebab utama ayat tersebut diturunkan. Jelas jauh berbeda dengan metode maudlu'i yang hanya membahas per-surat saja. Keuntungan yang didapatkan dari methode baru ala Bintu Syati' ini dapat berupa pengembalian makna asli sebuah ayat (al-ma'ani al-ashiila dan al-mabadi' al-Qur'an al-ashiila ), seperti yang diistilahkan al-Syatibi dengan Murad Allah, yang pada akhirnya keterpengaruhan dengan faktor eksternal dapat dihindari. Keuntungan lainnya yaitu, dapat memberikan penjelasan retorika pembahasan sesuai dengan tema al-Qur'an, sehingga dari sini lafadz al-Qur'an dapat dimengerti sebagai lafadz yang multimakna. Artinya, sebuah lafadz tidak dapat digunakan untuk menafsirkan ayat lain dengan arti yang sama.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengaplikasikan methode tersebut, Bintu Syati' menguraikan beberapa point yang harus dipenuhi sebagai pengantar. Pertama, memaknai lafadz secara leksikografis. Hal ini sangat membantu mufassir dalam pencarian artikulasi lafadz dalam bentuknya yang tekstualis. Kedua, mengumpulkan semua ayat yang berkaitan dengan sebuah tema. Ketiga, yaitu dengan mengklasifikasikan ayat tersebut kedalam rumusan yang lebih spesifik, yaitu siyaq al-khash dan siyaq al-'aam, seperti yang diistilahkan Bintu Syati'. Dalam penggunaan sebuah metode, pastinya mufassir mempunyai maksud tertentu untuk sampai kepada bidikan dan sasaran penafsiran. Begitu halnya Bintu Syati', dengan metode ini diharapkan mampu menguraikan beberapa diskursus yang terkandung dalam al-Qur'an, selanjutnya dapat mengeksplorasi lebih jauh artikulasi makna yang menghubungkan lafadz dengan surat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan hermenetika yang banyak dijumpai dalam penafsiran beliau merupakan sebuah pilihan. Meskipun sebelumnya, Bintu Syati' termasuk mufassir yang menolak beberapa ta'wilan, dengan catatan hal tersebut memang jauh dari konteks ayat. Menurutnya, hermenetika berpotensi untuk menggapai makna yang terdapat pada al-ahruf al-muqatha'ah, serta dapat memfungsikan kembali peran faa'il di dalam kalimat yang majhul (pasive voice). Karena didalam al-Qur'an banyak sekali ditemukan ayat-ayat tanpa fa'il, seperti hilangnya fa'il dalam perbincangan kiamat yang terdapat pada (QS. Al-Haaqah; 13-14), (QS Al-Naba'; 18-20) serta (QS. Al-Fajr; 21). Selain dari pada itu, muncul dugaan bahwa hermenetik-lah yang mencetuskan anti sinonimitas dalam lafadz al-Qur'an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya sinonimitas merupakan terma lampau yang juga banyak dibahas sarjana bahasa, yang termasyhur adalah Ibnu Faris dan Ibnu Jinny dengan anti sinonimitas-nya. Bahwa dalam memahami al-Qur'an pemisahan lafadz sangat penting, tidak berarti kesamaan lafadz mempunyai kesamaan arti. Banyak kemungkinan terjadinya perbedaan makna di setiap ayat dengan lafadz yang sama. Disinilah Bintu Syati' mulai membedakan beragamnya lafadz yang mempunyai sinonimitas. Aspek-aspek kultural dalam hal inipun juga cukup berperan, yaitu dengan perbedaan lahjah dan bahasa disetiap kabilah Arab yang berimbas pada sebuah penafsiran teks suci yang berbahasa Arab. Namun, beberapa ulama klasik pun juga ada yang pro dengan sinonimitas, sebut saja Fakhru Razi, al- Taaj al-Subki dan Suyuti. Sebagai sample, Bintu Syati' membedakan antara lafadz Al-Ru'ya dan Al-Hulm, yang secara leksikografis kedua lafadz itu adalah sepadan, namun berbeda halnya ketika diterapkan dalam  al-Qur'an. Al-Hulm digunakan dalam al-Qur'an sebanyak tiga kali dalam bentuk jama' yang ditafsirkan sebagai mimpi-mimpi kacau atau sulit ditafsirkan. Sedangkan al-Ru'ya yang digunakan sebanyak tujuh kali dalam al-Qur'an diartikan sebagai mimpi-mimpi yang benar dan nyata, dan dalam bentuk mufrad, hal ini menandakan bahwa ru'ya sejatinya adalah yang nyata, jelas dan murni tanpa tercampur dengan prasangka dan anggapan. Menurut Bintu Syati', sebenarnya masih banyak lagi beberapa lafadz yang harus dikaji ulang maknanya, seperti al-na'y wa al-bu'd, anasa wa absara, tasada'a wa tahattama, al-khusyu' wa al-khudlu', al-khasya wa al-khawf, zawj wa imra'a, ashtat wa shatta, al-ins wa al-insan, kemudian al-ni'ma wa al-na'iim dan seterusnya, guna meminimalisir kesalahan-kesalahan interpretasi terhadap Al-Qur'an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korelasi Ayat dengan Surat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr al-Nisaibury (309H/921M) merupakan ulama pertama yang memperbincangkan terma ini, yaitu mengenai kesinambungan antara keduanya. Dan sekaligus menjelaskan tentang beberapa alasan letak sebuah ayat, yaitu mengapa ayat tersebut diletakkan sesudah dan sebelum ayat yang lainnya. Hal inipun berlanjut, menuai banyak wacana dan dielaborasi oleh beberapa ulama sesudahnya, semisal al-Razi, Abu Bakar bin al-Zubair (708/1308), al-Biqaa'i (885/1480). Sesungguhnya, perihal ini dapat dibaca secara abstrak, bahwa tak lain tujuannya adalah untuk mencapai kesatuan makna. Dengan ini, maka dari kesimpulan yang sempit dapat berkembang menjadi sebuah kesimpulan yang sifatnya lebih melebar, atau justru sebaliknya. Dalam gaya bahasa lain, al-Zarkasyi mendefinisikan al-irtibath sebagai sebuah diskursus yang menentukan beragam aspek dibalik sebuah ayat dan surat, yang bisa dicapai dengan daya rasio ('aqli), materi (hissi), imaginasi (khayali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintu Syati' dalam teori ini lebih mengekor kepada Ibnu Asyur dan al-Farahi, bahwa sejatinya dalam satu surat terdapat satu pokok pikiran atau tema besar. Hal itu dapat dibuktikan dari 14 Surat yang telah ditafsirkan Bintu Syati', yang mayoritasnya adalah Makkiyah. Nampak jelas, seperti statement beliau sendiri, bahwa memang terdapat kesamaan tema (wahdat al-maudlu') dari beberapa surat. Dengan mengambil sample (S. Al-'Adiyat), Bintu Syati menyatakan, kesamaan tema yang diangkat pada surat tersebut adalah kejadian tentang Hari Akhir. Seluruh ayatnya-pun saling berkaitan dan tak lepas dari tema. Dalam awal surat tersebut dijelaskan, mengenai keadaan mengerikan yang datang secara tiba-tiba, dan bagaimana kondisi manusia saat itu, sampai pada suatu kondisi dimana manusia diadili sesuai dengan perbuatannya. Begitu juga, Bintu Syati' mewacanakan kembali keterikatan ayat yang terdapat dalam Surat Al-Fajr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun lagi-lagi, Bintu Syati' tidak sejalan sepenuhnya dengan al-Biqaa'i, al-Nisaibury dan mufassir lainnya. Karena ia lebih selektif, terutama dalam melihat urutan kronologi di setiap peristiwa. Maka dari itu, Bintu Syati' tidak hanya menyangkut-pautkan beberapa ayat tanpa memperhitungkan kembali dekade dan urutan ayat tersebut. Seperti misalnya, ketika al-Nisaibury menyatakan bahwa terdapat korelasi antara Surat al-Takatsur dan Surat al-Qari'ah, dilihat dari pembahasannya sebagai bentuk peringatan terhadap Hari Kiamat. Hal ini disangkal oleh Bintu Syati', bahwasanya tidak ada satu ayatpun yang berkorelasi. Sekali lagi argument yang beliau hadirkan adalah ketidakselarasan waktu diturunkannya kedua ayat tersebut. Bahkan Surat al-Takatsur diturunkan jauh setelah Surat al-Qari'ah. Setidaknya, hal itulah yang membuat Bintu Syati' seakan-akan perhitungan dengan  kajian Tafsir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asbab al-Nuzul dalam Perspektif Bintu Syati'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat karangan penting karya al-Suyuthi Lubab al-Nuqul Fi Asbab al-Nuzul setidaknya telah menguatkan analisa kita bahwa betapa pentingnya disiplin ini dalam ilmu Tafsir. Statement yang sama diungkapkan pula oleh Bintu Syati', menurutnya asbab al-nuzul merupakan media penting yang harus dikuasai mufassir. Karena akan banyak membantu dalam menafsirkan ayat. Terma ini tidak akan lepas dari istilah-istilah seperti, maa nazala ibtidaa'an (ayat-ayat yang turun secara langsung) atau maa nazala 'aqib waqi' aw su'aalan ( ayat-ayat yang turun setelah terjadinya peristiwa atau melalui pertanyaan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang hal ini perlu diperhitungkan, namun Bintu Syati' yang notabene mempunyai basic filologi sebagai pisau analisanya, juga tidak terburu-buru mengaitkan suatu ayat dengan asbab al-nuzul. Artinya, bukan berarti jika tidak ada sebab, maka ayat tersebut tidak akan turun Terlihat jelas dalam hal ini, Bintu Syati' sebagai Asy'arian. Bahwasanya hukum kausalitas tidaklah sepenuhnya berlaku. Kehati-hatian Bintu Syati' dalam menggunakan terma ini terlihat kembali ketika beliau menafsirkan beberapa ayat yang sebabnya kontradiktif, yaitu menjelaskan sebuah kejadian tanpa bukti atau sama sekali berbeda. Sebagai contoh, ketika mendiskusikan Surat 93: 3, beliau memberitakan selaras dengan penafsiran al-Razi, Abu al-Hayyan dan al-Naisabury, bahwa turunnya ayat tersebut terjadi ketika anjing Hasan dan Husein, cucu Nabi, masuk kedalam rumah Nabi Muhammad. Maka Jibril berkata; bahwasanya kita (malaikat) tidak akan memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing dan gambar. Dari cerita tersebut, Bintu Syati' menyimpulkan, bahwa hal itu tidaklah masuk akal. Menurut catatan sejarah, bahwa hasan dan Husein dilahirkan 3 atau 4 tahun sesudah hijrah, sedangkan Surat 93 tersebut termasuk wahyu periode pertama, artinya beberapa tahun sebelum hijrah. Hal inilah yang dirasa sangat berlawanan dan krusial, antara argumen yang satu dengan yang lainnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat tepat jika dikatakan Bintu Syati' atau Aisyah Abdurrahaman merupakan seorang interpreteur yang berhasil membawa pembaharuan dalam dunia Tafsir. Beliau dengan sangat berani mengkritisi karya beberapa ulama dahulu, serta mampu memaparkan berbagai argumentasinya sebagai wujud dari sebuah pembelaan. Dari berbagai metodologi Bintu Syati' berusaha tampil maksimal, sampailah pada akhirnya kepada mekanisme ta'wil. Apapun pendekatan yang dipakai, sejatinya hanyalah sebuah piranti untuk membongkar Kalam Tuhan yang masih menjadi sebuah pertanyaan besar bagi umat Islam khususnya. Kemampuan manusia yang serba terbatas menurut beliau tidaklah mampu menemukan kebenaran haqiqi, hal seperti itulah yang patut disadari. Terlebih al-Qur'an mencakup berita-berita ghaib serta kisah-kisah terdahulu yang cukup sulit untuk dijangkau. Hal inilah yang menurut Bintu Syati' sebagai kebenaran nisbi, bukan sebagai kebenaran mutlak.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelusuri pemikiran dan jejak Bintu Syati' ketika berkencan dengan ayat-ayat Tuhan dibutuhkan nuansa kesastraan yang tinggi, karena bahasa dan retorika penyampaiannya tak lepas dari aroma sastra yang sangat kental. Langkah selanjutnya, bagaimanapun pemikiran seorang tokoh layak diapresiasi, tentunya dengan melepaskan karat-karat ideologi untuk selalu bersikap objektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-7684230611961093419?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/7684230611961093419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=7684230611961093419' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/7684230611961093419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/7684230611961093419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2008/09/paradigma-penafsiran-ala-bintu-syati-by.html' title='Paradigma Penafsiran ala Bintu Syati&apos;'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SMkyehcV0mI/AAAAAAAAADo/AMNWidYC8jk/s72-c/koran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-3470679353950476800</id><published>2008-09-10T06:49:00.000-07:00</published><updated>2008-09-10T07:00:48.506-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Der Artikel'/><title type='text'>Menilik Historisitas Mantik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SMfSkDnrQ3I/AAAAAAAAACc/wKz77ZwHFbI/s1600-h/1481727140_e3d9bc02d0.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SMfSkDnrQ3I/AAAAAAAAACc/wKz77ZwHFbI/s320/1481727140_e3d9bc02d0.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244391807985075058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;By; Maria el Fauzy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Cogito, Ergo Sum"&lt;br /&gt;(Aku berpikir, karena itu aku ada )&lt;br /&gt;-- René Descartes --&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prolog&lt;br /&gt;Bagi bangsa Yunani -dan bahkan bangsa di seluruh dunia-, Aristoteles adalah ikon rasionalitas. Dia adalah peletak dasar cara berpikir yang tersusun dalam premis-premis, dan kemudian ditarik sebuah konklusi. Apa yang dilakukan Aristoteles ini disebut logika. Bangsa Yunani yang dahulu diliputi dengan dunia mitos, seakan tercengang dan terhipnotis dengan karya Aristoteles. Posisi Aristoteles sebagai guru Alexander (putra raja Macedonia, Philip) dan guru filsafat di sekolah yang didirikannya di Athena, the Lyceum, menjadikan pemikirannya banyak dikenal di tengah-tengah masyarakat Yunani. Sampai pada tingkatan tertentu, logika Aristoteles mendapatkan tempat yang sangat prestis khususnya dalam dunia pengetahuan. Logika Aristoteles telah mampu merapikan 'muntahan ide' Plato yang terabadikan dalam "dialog"nya. Pemikiran-pemikirannya mampu menghegemoni rasionalitas bangsa Yunani, bahkan seolah-olah menutup bayang-banyang dua filsuf besar sebelumya, Socrates dan Plato. Maka, tak berlebihan jika orang Yunani menganggap Aristoteles sebagai Tuhan dan Dewa rasionalitas. Jargon rasionalitasnya mampu meluluhkan ilmuwan pada zamannya demi mengungkap hakekat sebuah kebenaran. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Rasionalitas dalam ilmu akan selalu diagungkan seperti halnya demokrasi dalam politik. Logika akan terus berkembang dan mengambil peran yang sangat relevan terhadap segala perkembangan yang ‘tidak mutlak’, terlebih ketika menemukan hal baru yang butuh penalaran. Dalam teorinya, Aristoteles selalu melakukan pendekatan rasional. Hal ini tercermin dari setiap karyanya. Bahkan alam semesta, menurutnya, tidak dikendalikan oleh hal-hal yang serba kebetulan. Gerakan alam semesta ini tunduk pada hukum-hukum rasional. Pengamatan empiris dan landasan-landasan logis harus dimanfaatkan dalam mempertanyakan setiap aspek dunia secara sistematis. Dengan ‘dogma’ inilah budaya Eropa mulai bergerak dari hal-hal yang beraromakan mistik dan takhayul menuju rasio. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perumusan logika oleh Aristoteles dan dijadikannya sebagai dasar ilmu pengetahuan secara epistemologi bertujuan untuk mengetahui dan mengenal cara manusia mencapai pengetahuan tentang kenyataan alam semesta -baik sepenuhnya atau tidak- serta mengungkap kebenaran. Akal menjadi sebuah neraca, karena akallah yang paling relevan untuk membedakan antara manusia dengan segala potensi yang dimilikinya dari makhluk lain. “ Wa Ja’ala Lakum al-Sam’a wa al-Abshâr wa al-Af`idah” ( QS: 67 Ayat 23). Oleh Ibnu Khaldun kata "af`idah" bermakna akal untuk berfikir yang terbagi dalam tiga tingkatan. Pertama, akal yang memahami esensi di luar diri manusia secara alami. Mayoritas aktifitas akal di sini adalah konsepsi (tashawwur), yaitu yang membedakan apa yang bermanfaat dan apa yang membawa petaka. Kedua, akal yang menelorkan gagasan dan karya dalam konteks interaksi sosial. Aktvitas akal di sini adalah sebagai legalitas (tashdiq) yang dihasilkan dari eksperimen. Sehingga akal di sini disebut sebagai akal empirik. Dan ketiga, akal yang menelorkan ilmu dan asumsi di luar indera, lepas dari eksperimen empirik atau yang biasa disebut “akal nazhari”. Di sini konsepsi (tashawwur) dan legalitas (tashdiq) berkolaborasi untuk menghasilkan konklusi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi logika sebagai ilmu untuk meneliti hukum-hukum berpikir dengan tepat harus mempunyai titik pembenaran tentang kebenaran itu sendiri. Maka ahli mantik dalam hal ini mencapai sebuah konklusi, yaitu ketika sebuah pernyataan sesuai dengan kenyataannya maka itu benar dan pernyataan yang didasarkan pada koherensi  logis adalah benar, karena kekuatan pikir kita sebatas kebenaran yang kita ketahui. Pikiran yang tidak didasarkan pada kebenaran tidak memiliki kekuatan. Jika aklamasi mengarah kepada logika adalah representasi dari segala kebenaran pengetahuan, maka akan timbul pertanyaan ‘ke-independensian’ logika, apakah termasuk dari bagian sebuah pengetahuan atau hanya sebagai ‘kacung’ ilmu pengetahuan? Stoicisme  mengklasifikasikan ilmu menjadi tiga tema besar, yaitu metafisika, dialektika dan etika. Dan dialektika adalah logika. Maka mereka lebih cenderung memasukkan logika sebagai bagian dari Filsafat. Berbeda dengan Ibnu Sina (1037 M.) dalam bukunya al-Isyârât wa al-Tanbîhât yang memisahkan logika sebagai ilmu independen sekaligus sebagai pengantar.   Dalam hal ini, Al-Farabi (950 M.) juga berpendapat bahwa mantik adalah Ra'îs al-‘Ulum yang independen. Keterpengaruhan mantik arab dengan neo-platonisme dan Aristoteles sangat jelas jika dilihat dalam hal ini, karena essensi dari pada logika itu sendiri adalah ketetapan hukum untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui.  Dan sejatinya tidak ditemukan perbedaan yang mendalam, hanya dari sisi pandangnya saja yang membuat seakan berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun mengklasifikasikan ilmu menjadi dua; pertama ilmu murni-independen ('ulûm maqshûdah bi al-dzât) seperti ilmu syari’at yang mencakup ilmu tafsir, hadits, fikih dan kalam, dan ilmu filsafat yang mencakup fisika dan ketuhanan. Kedua, ilmu pengantar (âliyah-wasîlah) bagi ilmu-ilmu murni-independen, seperti ilmu bahasa Arab dan ilmu hitung sebagai pengantar ilmu-ilmu syari'ah, dan mantik sebagai pengantar filsafat.  Pengkajian terhadap ilmu pengantar hendaknya hanya sebatas kapasitasnya sebagai sebuah alat bagi ilmu independen. Karena jika tidak demikian, ilmu alat atau pengantar tersebut akan keluar dari arah dan tujuan awal, dan bisa mengaburkan pengkajian ilmu-ilmu independen. Pembahasan panjang lebar terhadap ilmu pengantar inilah yang banyak dilakukan oleh ulama khalaf.  Dalam perkembangan selanjutnya, hanya ilmu independenlah yang dapat disebut sebagai ilmu. Sedangkan ilmu perantara bukan disebut ilmu. Terlepas dari ilmu atau bukan, bisa dikatakan tujuan sebenarnya mantik atau logika bukanlah sebagai peletak hukum berpikir melainkan berpikir untuk memperoleh kebenaran, yang salah atau yang benar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika dan Perkembangannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia ilmu, argumen dipakai sebagai penguat gagasan. Setiap argumen dapat diuji keabsahannya dengan logika. Maka, untuk mewujudkan argumen yang baik dan benar perlu menguasai logika. Dalam pembacaan ini, penulis sedikitnya telah menggunakan perumusan logika yang diusung Aristoteles sebagai pencipta bentuk-bentuk pengungkapan dan penjelasan baru yang berupa dialektita atau logika. Karena korelasi sebuah pernyataan dan jawaban yang logis akan dapat dibuktikan dengan rumusan tersebut. Kesalahan penyimpulan ditemukan ketika tidak menggunakan hukum, prinsip dan metode berpikir.  Berangkat dari upaya pencarian kebenaran tersebut ilmuwan Yunani seperti Socrates, Plato dan Aristoteles semakin gencar untuk merumuskan perangkat metode berpikir yang rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika dalam perkembangannya mengalami berbagai fase. Bentuk logika formal yang ada dewasa ini adalah perwujudan kolaborasi antara pakar klasik dan modern. Tapi pionir logika formal yang sebenarnya adalah Aristoteles, meskipun dalam pengertian yang berbeda dengan logika formal modern. Pada hakekatnya logika tidak terpisah dari materi, yang pada awalnya merupakan sebuah pemahaman sehingga akan mewujudkan ‘thing’ (sesuatu). Tetapi pakar modern mengawali dari sesuatu sehingga akan muncul pemahaman.  Makna awal logika Yunani adalah kalam yang kemudian dimaknai sebagai akal, pikiran dan burhan. Baru sekitar abad ke-2 M bangsa Arab mengadopsinya dan diterjemahkan sebatas segi bahasa yaitu kalam dan talaffud tanpa menghubungkannya dengan makna sebenarnya yang digunakan di Yunani ketika itu.  Susunan logika Aristoteles yang sudah tertata rapi disertai peninggalan karya-karyanya dalam jumlah yang banyak dapat dikatakan sebagai salah satu faktor berkembangnya logika Aristoteles ke dunia Arab. Sejarahpun mencatat, banyak karya Aristoteles telah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Syria, Arab, Persia dan India. Maka tak heran jika metode Aristoteles sangat ‘heboh’ merasuki hampir di segala cabang ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada enam tema besar dalam mantik Aristoteles yaitu, "Categoria Seu Praediecamenta" (al-Maqqûlât), "Perihermenias Seu de Interpretatione" (al-‘Ibârah), "Analytica Priora" (al-Tahlîlât al-Ulâ), "Analytica Posteriora" (al- Tahlîlât al-Tsâniyyah), "Topica, Seu De Locis Communis" (al-Jadal), "De Sophisticis Elenchis" (al-Safsathâ’i). Seiring dengan perkembangan mantik di dunia Arab, logika banyak mengalami perubahan,  yaitu dari yang enam menjadi sembilan; ‘Isagog’ (madkhal), ‘Retorika’ (al- Khithâbah), ‘Potikia’ (al- Syi’r). Sembilan tema besar itulah yang banyak berkembang di dunia Arab. Bahkan al-Khawarizmi dalam bukunya " Mafâtîh al-‘Ulûm" juga mengklasifikasikan mantik ke dalam sembilan tema tersebut.  Lain halnya dengan al-Farabi dalam “Ihshâ` al-‘Ulûm” yang tidak mengkategorikan ‘isagog’ (madkhal) sebagai bagian dari mantik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mengisahkan tentang perkembangan ilmu berawal dari penerjemahan gede-gedean yang diprakarsai Khalifah Al-Ma’mun (masa penerjemahan terhadap karya pemikir Yunani dimulai pada masa Khalifah al-Mansur) dari Dinasti Abbasiyah. Ketika itu, Al-Ma’mun bermimpi bertemu dengan Aristoteles. Perbincangan mereka mengarah bahwa sumber kebenaran adalah akal. Segera Al-Ma’mun mengirim delegasi ke Roma guna mempelajari ilmu yang banyak berkembang dan tersimpan,  kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Yahya bin Khalid bin Barmak adalah ‘Sang Hero’ pada masa itu, karena dia telah berhasil membujuk bahkan membebaskan karya para intelektual Yunani dari genggaman Romawi. Hal yang ditakutkan oleh Raja Romawi dari karya para intelektual Yunani adalah ketika buku-buku tersebut dikonsumsi oleh rakyatnya dan mulai tersebar maka agama Nasrani kemungkinan besar akan ditinggalkan, dan kembali pada agama Yunani.  Ilmu asing yang diadopsi Arab diklasifikasikan oleh Khawarizmi berjumlah sembilan cabang ilmu, dan mantik adalah salah satu di antaranya. Adalah Ayyub bin al-Qasim al-Raqi yang menerjemahkan Isagog dari bahasa Suryani ke Arab  yang pada awalnya telah diadopsi dari Madrasah Iskandaria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pindahnya Madrasah Alexandria ke Syria membawa banyak pengaruh dalam dunia pengetahuan. Penertiban dan penyusunan ketika itu menjadikan logika sebagai pedoman dan ilmu dasar dalam bidang astronomi, kedokteran dan kalam yang berkembang pesat di Arab sekitar abad IX-XI M. Sarjana Islam mulai proaktif dalam mengembangkan ilmu yang bernafaskan sains, termasuk Ibnu Sina (1037 M.), seorang filsuf muslim yang juga dokter dan Abu Bakar al-Razi yang mengawali pembukuan ilmu kedokteran dan farmasi. Ibnu Rusyd (1198 M.) kemudian ikut andil dalam mengkolaborasikan logika Aristoteles dengan ilmu Islam termasuk filsafat dan nahwu.  Al-Ghazali juga mulai mengkolaborasikan mantik dengan ilmu kalam pada periode selanjutnya. Maka jika kita telisik kembali dalam perjalanan sejarah, lewat orang-orang muslimlah dunia modern sekarang ini mendapatkan cahaya dan kekuatannya. Pengembangan metode eksperimen dari Timur mempunyai pengaruh penting dalam pola berpikir manusia sehingga mengembangkan metode ilmiah yang menggabungkan cara berpikir baik secara deduktif dan induktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasionalitas Eropa Klasik-Modern&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan logika Barat berawal dari masalah teosentris yang sangat berbalik arah dengan perkembangan mantik di Arab-Islam. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman kristiani menghasilkan banyak pemikir dan filsuf penting. Mereka sebagian besar berasal dari dua ordo baru yang lahir dalam abad pertengahan, yaitu Dominikan dan Fransiskan. Aliran ini dinamai sebagai filsafat Skolastik (dari kata Latin "scholasticus" yang berarti "guru"). Tema-tema pokok dari ajaran mereka antara lain hubungan iman-akal budi, eksistensi dan hakekat Tuhan, antropologi, etika dan politik. Mereka berusaha untuk memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Dan pada masa ini filsafat diajarkan di sekolah-sekolah biara serta universitas mengikuti kurikulum tetap yang bersifat internasional. Berbeda dengan apa yang ditawarkan dunia Islam, sebagaimana pendapat Ibnu Rusyd (1198 M.) bahwa filsafat dan agama mempunyai persamaan, yaitu sama-sama melaporkan prinsip-prinsip wujud tertinggi dan mempunyai tujuan puncak yaitu kebahagiaan manusia. Dalam tataran ini Siger de Brabant menyatakan bahwa agama lebih benar dari pada akal, karena betapapun itu, akal hanyalah akal, yang tidak dapat melampaui posisi agama.  Adapun filsafat, laporannya lebih bersifat persuatif sedangkan agama lebih ke imajinatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh rasionalitas Aristoteles terhadap peradaban Eropa secara periodik terbagi tiga, yaitu pada permulaan abad Masehi (sekitar abad ke-2 dan ke-3 M.), kemudian pada pertengahan abad (sekitar abad ke-13 hingga abad ke-16 M.) dan akhir abad ke-19 M. Yang perlu ditekankan di sini, bahwa otoritas gereja pada pertengahan abad sangat menghegemoni hampir semua wilayah Eropa dengan mengusung etika rasional sebagai titik tolak pemikiran. Sehingga wahyu Tuhan seakan dipaksakan untuk memasuki wilayah akal. Nah, hal inilah yang menimbulkan perpecahan dalam gereja. Mulai abad ke-12 M, gereja mulai menerjemahkan karya sarjana Muslim yang berpusat di Spanyol dan Napoli. Orang Yahudi ketika itu banyak mempelopori penerjemahan kitab kedokteran, logika, matematika, astronomi dan filsafat. Buku filsafat pertama yang diterjemahkan adalah al-Syifa’ karya Ibnu Sina (1037 M.) yang sangat melegenda kemudian mulai melebarkan sayap terhadap karya Al-Farabi dan Al- Kindi.  Pengadopsian karya-karya tersebut didukung dengan hadirnya Madrasah Paris yang sedang naik daun sekaligus mendapat ‘restu’ dari Raja Philip dan Agustus. Penyelaman terhadap karya sarjana muslim tidak berjalan mulus bahkan mendapatkan penyangkalan dan pembantahan dari pihak gereja yang masih fundamentalis. Karena banyak berlawanan dengan hasil konsensus gereja, maka secara resmi gereja mengeluarkan pelarangan dan pemboikotan terhadap karya Aristoteles pada tahun 1210 M. Maka, langkah selanjutnya yang diambil adalah menerjemahkan karya Aristoteles langsung dari buku Yunani, dan hal itulah yang banyak membantu Thomas Aquinas dalam pembaruan gereja.  Di sinilah awal permulaan terbaginya madrasah Eropa menjadi empat pusat keilmuwan, yaitu madrasah Agustine, Dominika, Rasional Latin dan Oxford.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakekatnya relasi mantik dan filsafat tidak akan terpisahkan, karena ‘berfilsafat’ harus menggunakan akal sehat dengan melepas subjektifitas. Sedangkan agama dasar utamannya adalah kekuatan iman, bukan akal. Pergolakan iman Kristiani banyak tercabik-cabik dalam pertengahan abad pertama, yaitu dengan munculnya asumsi gereja yang menyatakan tidak adanya filsafat dalam agama karena itu sangat mustahil. Melihat tujuan utama agama nasrani adalah “fikratul khallash”, yang menurut sebagian tokoh gereja tidak ada sangkut-pautnya dengan filsafat. Dalam tataran ini, Ludwig Feurbach sependapat dengan keputusan gereja. Berbeda dengan pemikiran Agustine yang banyak menghubungkan wilayah agama dan rasionalitas. Dalam bukunya “De Civitate Dei” dikatakan bahwa filsafat Kristen adalah cinta akan kebenaran, dan kebenaran merupakan ‘kalimah’ yang menyatu dalam tubuh al-Masih. Maka dalam argumen selanjutnya, Agustine tidak mengakui otoritas wahyu, karena nasrani adalah agama yang rasional. Agustine sedikit menjelaskan korelasi antara rasionalitas dan iman, bahwa fungsi akal mendahului iman (Ratio antecedit fidem) guna menjelaskan nilai-nilai kebenaran dalam akidah, sedangkan tujuan iman mendahului akal (Credo ut intelligam) hukumnya wajib agar akal digunakan untuk memikirkan akidah. Dan dari sini dapat ditarik benang merah bahwa tujuan hakiki filsafat adalah bukan berpikir untuk berakidah, melainkan berakidah untuk berpikir.   Hal ini sangat berlawanan dengan pernyataan Thomas Aquinas (1274 M.), bahwa berpikir merupakan titik pemberangkatan untuk berakidah. Pemisahan rasionalitas dengan agama juga menjadi bahasan utama oleh Dr. Zaki Najib Mahmud, sejatinya agama berangkat dari wahyu disertai nash-nash ilahiyah yang terjaga, maka ketika membahas ‘rasionalitas agama’ lebih ditujukan kepada proses penalaran yang berangkat dari agama.  Nash agama selalu bersifat tunggal, tetapi nash yang berangkat dari penalaran agama akan bervarian selaras dengan perbedaan segi pandangan akal terhadap agama. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Pergulatan sejarah mengisahkan zaman Renaissance adalah yang menjembatani perkembangan rasionalitas dari abad pertengahan ke era modern sekitar tahun 1400-1600 M. dengan tokoh utama Francis Bacon (1562-1626 M.), Nicollo Machiavelli (1469-1527 M.). Mereka mulai menguak kebudayaan klasik Yunani-Romawi kuno yang dihidupkan kembali dalam kesusastraan, seni dan filsafat. Jargon utamanya adalah “Antroposentris” ala mereka, pusat perhatian pemikiran tidak lagi wilayah kosmos, melainkan manusia. Mulai sekarang manusialah yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Descartes sebagai filsuf, matematikawan dan ilmuwan Prancis abad pertengahan (1596-1650 M.) memberikan sebuah elaborasi pernyataan yang berlawanan filsafat klasik tetapi justru mengembangkan. Sebuah pertanyaan klasik “apakah asal-muasal pengetahuan manusia itu?”  diselaraskan dengan pertanyaan “bagaimana saya tahu?” adalah hepotesa aktif yang menuntut akal untuk proaktif dalam melihat sesuatu. Pengaruh besar yang dicetuskan Descartes adalah pemahaman tentang fisik alam semesta, bahwa seluruh alam -selain Tuhan dan jiwa manusia- bekerja secara mekanis. Oleh karena itu semua peristiwa alami dapat dijelaskan dari sebab musabab mekanis. Atas dasar inilah dia menolak pandangan astrologi, magis dan takhayul, yang berarti juga menolak penjelasan teologis. Dia berpendapat seharusnya para ilmuwan menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat semu dan harus menjabarkan dunia secara matematis. Dia menyusun suatu sistem filsafat dengan metode matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan baru muncul lagi di abad ke-18 M., yang biasa disebut masa enlightment atau Aufklarung, yang mulai menciptakan suatu sintesis dari rasionalisme dan empirisme. Tokoh utamanya adalah John Locke (1632-1704 M.), di Prancis Jean Jacque Rousseau (1712-1778 M.) dan di Jerman ada Immanuel Kant (1724-1804 M.). Atas dasar rasionalisme, empirisme dan idealisme, Barat sampai saat ini mempunyai banyak aliran filsafat, yang kebanyakan hanya berkutat pada satu negara dan kebudayaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalar Arab- Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat banyak versi kapan mulainya penerjemahan dari Yunani ke Arab. Ada yang mengatakan bahwa penerjemahan itu terjadi pada masa kekuasaan Daulah Bani Umayah, ada juga yang berpendapat pada awal Daulah Abbasiyah. Al-Syahrastani sepakat bahwa mantik lebih dulu memasuki wilayah Arab sebelum zaman penerjemahan, yang berarti sebelum abad ke-8 M. Proses penerjemahan terhadap karya filsuf Yunani didukung oleh upaya ekspansi umat Islam ke beberapa wilayah asing. Namun, mantik dalam masa ini belum menemukan perkembangan pesat, bisa jadi keadaan sosial masyarakatnya memang belum butuh atau aksi pencekalan oleh ulama salaf yang begitu menghegemoni.  Sebagian dari ahli sejarah mengatakan, bahwa ilmu mantik mulai masuk ke dalam pemikiran Arab pada abad ke-7 M ketika masa penerjemahan Khalifah Ma'mun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Deboura, belum tersebarnya mantik secara meluas disebabkan karena hilangnya beberapa dokumentasi terjemahan buku-buku mantik sebelum abad ke-8 M. Tetapi pendapat ini banyak disangkal oleh sejarawan lain, karena justru pada masa sebelumnya telah muncul ilmu nahwu yang banyak berdialog dengan mantik. Bahkan ulama nahwu dari Basrah ketika itu mendapatkan julukan ahli mantik, karena dalam metodenya banyak menggunakan rasio. Hal tersebut sangat didukung oleh kondisi sosial politik Basrah yang terus berkecamuk, sehingga aksi perlawanan dan pertentangan dari tiap kelompok tak dapat dihindari. Akibatnya, mantik digunakan sebagai senjata perlawanan untuk adu argumentasi. Nah, hal ini sangat berbeda dengan ulama Nahwu Kufah yang cenderung kurang rasionalistik.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat al-Qadli al-Sha'id al-Andalusi (1070 M./462 H.) dijelaskan, bahwa Ibnu Muqaffa' (760 M./142 H.) diyakini sebagai penerjemah awal ilmu mantik. Ia telah menerjemahkan tiga buku karya Aristoteles yaitu, Categorias, Pario Hermenais, Analytica, serta Eisagoge karya Porphyry. Hunain bin Ishaq, salah satu ahli bahasa, juga berpartisipasi dalam menerjemahkan berbagai disiplin ilmu Yunani ke dalam bahasa Arab. Bahkan Ishaq juga ikut menerjemahkan dari bahasa Suryani. Dalam buku Thatawwur Mantiq al-Araby dijelaskan, sekitar tahun 800 M. adalah awal penerjemahan buku-buku Yunani, hingga wafatnya murid dan kerabat Hunain bin Ishaq, karena mereka banyak membantu proses penerjemahan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organon adalah kitab pertama yang diterjemahkan ke Arab. Orang-orang Nasrani ketika itu juga banyak membantu dalam proses penerjemahan, yang secara tidak langsung pemikiran Aristoteles berkembang biak tidak hanya dalam kedokteran, astronomi dan matematika melainkan mulai menyentuh wilayah teologi Kristen. Maka, dari sini mulai terjadi perbedaan dalam penertiban ilmu antara filsafat Suryani dan Nasrani. Sejak saat itu, mantik menjadi pemeran utama dalam ilmu kedokteran dan mulai berkembang dalam bahasa Arab sekitar abad ke-9 hingga abad ke-11 M. yang diprakarsai oleh Yahya bin Musawiyah, spesialis penerjemah ilmu kedokteran dari Yunani ke Arab. Apalagi didukung dengan hadirnya madrasah di Jundisapur (Persia) yang mengawali pelatihan penerjemahan dari teks Yunani pada awal abad pertama yang akhirnya berpindah ke Bagdad.  Maka tak bisa dipungkiri lagi, bahwa dari sinilah lahir sarjana muslim yang berkompetensi tinggi untuk mengenalkan mantik  dalam ilmu keislaman, sebut saja Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Razi, Al-Ghazali dst. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari ilmu kedokteran, astronomi serta kimia, Al-Kindi mulai memberanikan diri untuk menerjemahkan filsafat Yunani yang sekaligus mendapat persetujuan dari Khalifah al-Ma’mun (850-873 M). Kemudian mantik mulai berdialektika dan mempengaruhi disiplin ilmu Islam lainnya, termasuk nahwu. Mantik dalam hal ini digunakan sebagai rumusan metode dalam pengambilan hukum gramatikal bahasa, terlebih lagi dalam hal silogisme. Pada saat yang bersamaan, ilmu kalam juga mulai merayap dan terus berkembang di tangan Qadariyah, baru diwariskan ke Mu'tazilah sebagai titisan golongan rasionalis.  Pertemuan umat Kristen dengan logika menuntut cendekiawan muslim untuk lebih giat mempelajari mantik sebagai upaya dalam menjaga teologi Islam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya logika Aristoteles telah hidup dalam budaya Arab kurang lebih satu setengah abad. Penolakan terhadap filsafat termasuk logika Yunani baru terjadi pada masa Imam al-Asy'ari abad keempat Hijriah. Menurut beberapa penulis, penolakan yang sesungguhnya baru terjadi pada masa al-Ghazali yang menulis bukunya Tahâfut al-Falâsifah pada pertengahan kedua abad kelima Hijriah. Penolakan tersebut didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan teologis. Tetapi ada faktor-faktor positif yang terdapat pada logika Yunani sehingga dapat diterima di dunia Islam, di antaranya akurasi logika dan ilmu-ilmu matematika yang memberikan kontribusi luar biasa dalam peradaban Islam. Akibatnya, filsuf dan teolog muslim mempercayai akurasi dan kebenaran logika, bahkan sampai memasuki wilayah ketuhanan (metafisika). Kekaguman akan logika terjadi karena, dulunya, Islam yang hanya mengenal segi-segi intuisi dan perasaan dalam mempertahankan akidah, kemudian mulai beranjak menggunakan mantik dalam menguatkan sendi-sendi akidah Islam sebagaimana disinggung al-Ghazali dalam bukunya, Al-Munqidz min al-Dhalâl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika Aristoteles memberikan perubahan besar dalam dinamika sosial masyarakat Arab, terlebih dalam urusan administrasi negara serta dalam sistem politik sekalipun. Mantik, pada masa itu juga digunakan sebagai piranti tata letak kota, karena Islam sebagai negara sangat membutuhkan sistem baru untuk maju. Tak hanya itu, ide-ide materialisme yang diusung Aristoteles juga berperan dalam problematika pimikiran Arab-Islam, meskipun kontradiksi dalam hal ini tidak dapat dinafikan. Peran logika Aristoteles dapat disimpulkan dalam tiga hal; yaitu sebagai perangkat praktis dan media berargumen yang marak dalam berbagai perdebatan ideologi. Selanjutnya, mantik digunakan sebagai salah satu langkah kesuksesan pola pikir Arab-Islam, sehingga dengan mantik peran akal menjadi primer demi mencapai tingkat keyakinan. Dan terakhir, bahwa logika dijadikan sebagai media (wasîlah) untuk menyatukan berbagai ideologi dan pimikiran menuju hakekat Satu Yang Mutlak, yaitu sumber kebenaran dan pengetahuan.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan mantik Arab mengalami sedikit goncangan dari ulama klasik. Bantahan dan sanggahan terhadap al-Kindi kala itu tak dapat dihindari. Karena menurut mereka belajar filsafat sama halnya belajar sesuatu yang menyesatkan. Parahnya, mereka mengklaim bahwa mempelajari filsafat dan mantik adalah bagian dari perbuatan setan. Imam al-Syafi’i banyak mengeluarkan hadist-hadist larangan terhadap pembacaan logika dan filsafat. Salah satunya berbunyi “akan dianggap bodoh lagi diperdebatkan bagi mereka yang mulai meninggalkan bahasa Arab dan berganti mempelajari filsafat Aristoteles”.  Padahal dalam fikih, Imam Syafi'i banyak menggunakan metode eksplorasi (istiqrâ`) untuk mengambil istinbath hukum. Ada pula riwayat yang berbunyi “barang siapa yang mempelajari logika, maka disamakan dengan kaum zindiq”.  Sejatinya, masih banyak lagi nash- nash hadist lainnya yang menyatakan pelarangan terhadap mantik dan filsafat, seperti yang sudah dikemas oleh Syeikh Islam Ismail Harawi dalam periwayatannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecaman dan penolakan terhadap mantik berawal ketika Al-Mutawakkil mulai menduduki kekhalifahan Abbasiyah (846 M/232 H). Penentang terbesar terhadap pemikiran Yunani adalah golongan teolog Asy'ariyah terutama Al-Ghazali (1059-1111 M). Perlawanan tersebut meluas dari wilayah timur hingga barat. Namun barat Islam lebih terpengaruh akan hal ini karena mayoritas bermadzhab Maliki yang tidak lain adalah salafi. Mantik dan filsafat terus dikecam oleh doktrin ke-salafan, sampai pada akhirnya muncul Ibnu Rusyd pemikir besar Islam yang berani melawan mainstream tersebut dengan bukunya Tahâfut al-Tahâfut. Yang juga menjadi komentator atas aliran Aristoteles –selain Ibnu Sina dan Ibn Rusyd- adalah Suhrawardi dengan magnum opusnya "Hikmat al-Isyraq", yang berisikan kritikan terhadap aliran Paripatetik dan filsafat materialisme yang dianut oleh aliran Stoicisme.  Meskipun demikian, perlawanan terus berlanjut bahkan sampai puncaknya pada abad ke-13 dan ke-14 M. Apalagi setelah terbunuhnya filsuf muslim Sahruwardi pada akhir abad ke-12 M., muncul dua penentang papan atas yaitu, Ibnu Sholah (1244 M.) dan Ibnu Taimiyah (1328 M.). Adapun Ibnu Taimiyah melakukan pemboikotan terhadap buku-buku filsafat dan mantik, serta melontarkan predikat 'kafir' terhadap Ibnu Sina dalam bukunya "Majmu'ah Rasâ`il al-Kubrâ" (terbitan Kairo, hal 138). Pada masa inilah, pengikisan mantik mulai terlihat. Muncul setelahnya, abad ke-14 M. Imam Al-Dzahabi yang juga melakukan perlawanan terhadap perjalanan filsafat dan mantik Yunani.  Hal-hal seperti itulah yang dilakukan ulama salaf guna membendung fitnah dalam pentakwilan teks-teks suci al-Qur’an dan Hadist.  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Dalam tataran praktis, asal-muasal masuknya mantik ke dunia Arab melalui jalur kedokteran, dan berakhir ketika mencapai puncak relasinya dengan ilmu kalam oleh Ghazali (al-Iqtishâd fi al-I’tiqâd). Menurut Ibnu Taimiyah, sarjana muslim pertama yang banyak berbicara logika serta menghubungkannya dengan ilmu Islam lain adalah al-Ghazali,  maka tak heran jika ketika masuk abad ke-10 M., mantik sudah tidak dalam bentuknya yang dulu (ala Yunani), melainkan mulai disusupi nilai-nilai keislaman. Dialektika mantik dengan disiplin ilmu Islam lainnya semakin tampak, bahkan ketika nahwu dikatakan sebagai ‘mantiknya’ bahasa, maka mantik juga merupakan ‘bahasanya’ akal. Singkatnya, logika berperan sebagai timbangan untuk memutuskan yang baik dan buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah runtuhnya Baghdad abad ke-11 M., Andalusia dijadikan sebagai pusat peradaban keilmuwan kedua. Demikian pula yang terjadi dalam mantik, berakhirnya madrasah Bagdad menjadikan mantik lebih dewasa, artinya yang dipakai saat itu bukan lagi metode Aristoteles melainkan diktat khusus karya Ibnu Sina. Terlihat dari abad-abad selanjutnya sekitar ke-13 dan ke-14 M., karya Ibnu Sina lebih membumi dari pada karya Aristoteles. Di sisi lain, sekitar 970-1030 M. muncul jamaah Ikhawan al-Shafa dengan basis terbesarnya di Basrah. Dalam logika, mereka mengikuti metode Aristoteles tetapi lebih condong kepada Neoplatonisme, terlebih dalam pengertian tentang pitagoras. Banyak buku mantik yang telah dihasilkan oleh para pendahulu mereka, khususnya al-Farabi dalam mengkolaborasikan mantik Yunani dengan pemikiran Arab Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan mantik mulai tersebar di Andalusia dan Persia dari abad ke-12 hingga abad ke-13 M. dengan style baru yang mulai terbebaskan dari filsafat. Ketika mantik dianggap hanya dibutuhkan dalam filsafat, Al-Ghazali memberikan inovasi baru yaitu membawa mantik secara perlahan memasuki wilayah kalam, nahwu, fiqh, ushul fiqh dan ilmu sosial. Karena logika adalah perantara dalam segala hal, tidak hanya problem-problem teologis dan filsafat saja.  Sejak itu Al-Ghazali melegitimasi umat muslim untuk mempelajari logika dalam kapasitasnya sebagai kewajiban komunal (fardhu kifâyah). Terlebih lagi, buku-buku mantik karya Ibnu Rusyd dan karya Fakhruddin al-Razi menjadi pedoman penting dalam kajian mantik sekaligus menjadi rujukan bagi para sarjana muslim abad ini. Upaya Ibnu Rusyd dalam mengeleminasi logika Yunani ternyata menuai hasil yang tidak mengecewakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi Mantik dengan Disiplin Ilmu Islam Lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghazali menyatakan bahwa teologi retoris sangat kering jika hanya berkutat dengan logika tanpa menyentuh epistem demonstratif, sehingga butuh sebuah upaya harmonisasi demi mencapai teologi yang mampu menghilangkan skeptisisme. Mantik dalam pandangan al-Ghazali terbagi dua, yaitu mantik Aristoteles yang mencakup segala pengetahuan kecuali teologis, dan mantik “kasyfi” yang hanya mencakup masalah ketuhanan. Tapi menurut Ibnu Khaldun, logika empirik (mantiq hissi) juga dapat diklasifikasikan sebagai bagian dari mantik, yang mendasari problematika kemasyarakatan.  Dalam relasinya dengan ilmu kalam, al-Ghazali lebih mengunggulkan metode analogi (qiyâs) daripada eksplorasi (istiqrâ’) karena dianggap tidak dapat membenarkan teori ketuhanan, terwujud dari ketidakseragaman antara dunia metafisis dan realita.  Syahdan, ilmu Kalam yang diusung al-Ghazali bukan dalam artian harfiahnya (yaitu: pembicaraan), melainkan dalam pengertian pembicaraan yang bernalar dan menggunakan logika. Maka ciri khas ilmu kalam adalah rasionalitas atau logika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspansi ilmu mantik dalam tataran teoritis tidak mengalami perkembangan signifikan pada abad ke-13 hingga abad ke-14 M. Masa setelah hadirnya Ibnu Rusyd dapat dikatakan sebagai masa melangsungkan kembali kritikan-kritikan beserta ulasannya dari golongan rasionalis sebut saja Al-Iji, Al-Thusi dan Sa'aduddin Al-Taftazani. Dalam beberapa kurun waktu selanjutnya merupakan masa kritikan terhadap pemakaian metode pikiran dalam memahami soal-soal akidah, salah satunya adalah Ibnu Taymiyah, Ibnu Sholah, Ibnu Hazm, dan Ibnu Al- Qaym. Nah, baru ketika beranjak ke abad selanjutnya perkembangan mantik berupa penertiban materi yang sengaja diselaraskan oleh al-Tustari di kedua madrasah abad pertengahan. Al-Taftazani dan Al-Jurjani juga turut andil dalam memperjelas mantik. Maka standarisasi mantik telah sempurna sekitar abad ke-15 M. sampai sekarang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laju perkembangan rasionalitas dalam kancah keilmuwan terlebih di Arab Islam sangat pesat. Pola pikir tiap sekte dan aliran selalu mengatasnamakan akal. Model penalaran al-Asy’ari dapat dikategorikan sebagai ‘orthodox style’, karena lebih setia dengan teks suci agama dibandingkan dengan mu’tazilah dan filsuf. Meskipun masih dalam lingkaran Islam, tapi penalaran yang dipakai mu’tazilah dan filsuf kebanyakan produk Yunani, sehingga mulai melakukan pendekatan ta’wil atau interpretasi metaforis terhadap kalam Tuhan, yang mereka anggap “mutasyabihât”. Nah, hal ini disebabkan kuatnya peranan unsur mantik serta dialektika. Maka sistem ini dinamakan ilmu kalam atau teologi rasional. Sebenarnya tidak hanya mu’tazilah dan filsuf saja yang mengedepankan nalar, tapi al-Asy’ari pun menggunakan argumen dan dialektika logis meskipun dalam tataran sekunder.  Metodologi alAsy’ari yang aristotelian dengan ciri rasional-deduktif rupanya paling mendapatkan simpatisan, terutama sekali ketika dua abad kemudian Al-Ghazali muncul dengan membawa kekuatan argumennya yang luar biasa. Bisa disebut bahwa madzhab ini sebagai jalan tengah dari berbagai ekstremitas. Praktis, semua titik-titik penting keagamaaan mereka dukung dengan argumen dan dialektik yang logis, bahkan menjadi inspirator orisinil bagi pemikiran keislaman. Sebagaimana pembahasan dalam teologi, pusat argumentasi kalam al-Asy’ari berada pada upayanya untuk membuktikan adanya Tuhan yang menciptakan seluruh jagad raya dari ketiadaan (ex nihilo) serta pembuktian adanya hari akhir dan malaikat.  Konsep ‘kasb’  termasuk salah satu teori yang diyakini pengikut al-Asy’ari, karena pengolahan argumentasinya dinilai sangat logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian fikih berkembang pada saat peralihan zaman Umawiyah ke zaman Abbasiah, yaitu berdirinya “school of thought” oleh Abu Hanifah (699-767 M.) yang terbentuk dalam lingkungan Irak. Kekuatan politik untuk menjabarkan penalaran ajaran Islam sangatlah riil, terlihat dari ekspansi yang berimbas juga pada kodifikasi penalaran dalam setiap ilmu. Analogi yang banyak digunakan madzhab ini adalah qiyas dan pertimbangan kebaikan umum (istihsan). Kemudian Syafi’i meneruskan tema aliran pemikiran gurunya Anas Ibnu Malik dan mulai mengembangkannya. Dalam tataran ini, Syafi’i sangat berjasa dengan teori yang dirumuskannya, sebagai dasar teoritis Sunnah dan pembentukan analogi atau qiyas sebagai metode rasional untuk mengembangkan hukum itu. Sementara itu konsensus ulama (ijma’) juga diterima Syafi’i sebagai bentuk kebiasaan masyarakat. Maka, titik tolak fikih berkat Syafi’i ada empat yaitu Kitab Suci, hadist Nabi SAW, ijma’ dan qiyas.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam disiplin ilmu nahwu, mantik dengan analogi-nya sangat berperan penting. Kecenderungan pemakaian qiyas seiringan dengan munculnya gramatika dan kaedah bahasa, terutama oleh para ulama bahasa yang ada di Bashrah. Mereka lebih memilih mengkiaskan dengan metode sima'i terhadap dalil fasih yang mereka pakai untuk ber-istinbath. Ketelitian dalam mengambil argumen merupakan ciri khas mereka, berbeda halnya dengan ahli nahwu Kufah. Untuk menetapkan qiyas mereka tidak sepenuhnya selektif terhadap dalil-dalil yang akan dipakai, hal ini bisa dikarenakan keterpengaruhan pemikiran mereka dengan corak filsafat Persia yang lebih mengutamakan logika akal dari pada dalil. Adapun faktor lainnya, yaitu keterbatasan sumber-sumber dalil di samping letak geografisnya yang jauh dari pusat keilmuan dan peradaban. Tidak hanya model qiyas yang digunakan ahlu nahwu dalam pengambilan hukum, karena ternyata teori illat atau apologi juga banyak difungsikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diruntut dari awal perkembangan mantik, sudah berapa cabang keilmuan yang telah disisipi kekuasaan logika? Bahkan sampai kepada pengetahuan yang bertendensi iluminasi atau intuisi sekalipun, hal ini membuktikan bahwa peran akal beserta rumus-rumusnya akan selalu dibutuhkan meskipun ada beberapa hal yang dapat berjalan tanpanya. Tasawuf sebagai disiplin ilmu irasional, dalam beberapa halnya-pun menggunakan teori dan asas logika. Politik, sosial, kedokteran, aritmatika, dan masih banyak disiplin ilmu lain yang pasti membutuhkan aturan berpikir untuk mencapai sebuah kebenaran yang dituju. Namun, kebenaran ilmu pengetahuan sifatnya relatif, sedangkan agama kebenaran yang dituju adalah sebuah kebenaran mutlak.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Itulah sekelumit proses berpikir manusia, sebuah perjalanan panjang dalam rangka merelevansikan diri terhadap peradaban manusia yang tak kunjung usai. Bahwa rasional sejatinya irasional, karena bertolak dari sebuah pengandaian yang tidak dapat terpenuhi. Yaitu, segala sesuatu pastinya dapat dimengerti seseorang. Sikap rasionalis mencerminkan seseorang suka akan tantangan. Dikatakan seperti itu, sebab dia harus benar-benar memperhatikan, memeriksa dan menjawabnya. Berbeda dengan irasionalis, yang menolak tantangan semata- mata karena keyakinan. Lawan rasionalisme adalah fedeisme, yaitu sebuah sikap yang membatasi diri pada iman, akal dan wahyu Tuhan, dan sekaligus menganggap penggunaan nalar manusia tidaklah perlu. Sekalipun, mereka juga tidak menyadari bahwa kemampuan manusia untuk bernalar merupakan ciptaan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sebuah historitas, mungkin kita akan sedikit mengetahui bahwa hantaman dan pengikisan mantik pada abad pertengahan adalah problematika terbesar, yang bahkan sama sekali tidak terpikirkan oleh Aristo sendiri sebagai pencetak awal logika. Dan yang patut dihargai adalah upaya akselarasi-akselarasi oleh ulama Islam sebelum di bawa ke Barat, yang setidaknya menjadikan metode ini mulai diterima. Bisa jadi perihal tersebut juga sedikit melegakan Aristoteles, bahwa ternyata masih ada pembela-pembela intelektual terhadap karyanya yang terseok-seok melawan arus peradaban terutama oleh para agamawan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleksitas yang dipresentasikan akal akan bertaut kelindan sampai suatu masa yang tak terbatas, boleh jadi akan menuju pada sebuah kesempurnaan misteri, bahkan sebaliknya. Tetapi apapun itu, akal tetaplah akal, yang telah menyumbangkan peradaban besar dari sejengkal langkah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dieu Nous Benisse...........   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-3470679353950476800?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/3470679353950476800/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=3470679353950476800' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/3470679353950476800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/3470679353950476800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2008/09/menilik-historisitas-mantik.html' title='Menilik Historisitas Mantik'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_7Amug7-yRmg/SMfSkDnrQ3I/AAAAAAAAACc/wKz77ZwHFbI/s72-c/1481727140_e3d9bc02d0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5920149803170511624.post-98872505418437133</id><published>2008-09-10T06:30:00.000-07:00</published><updated>2008-09-10T06:37:41.052-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Catatan'/><title type='text'>Arus Balik</title><content type='html'>Peradaban Hellenistik belum hilang. Sebaliknya, dia masih megah terdengar di sela-sela benturan peradaban dunia. Seakan peninggalannya pun tak ikut hanyut bersama puing-puing sejarah. Pada umurnya yang dini beberapa cendekia hebat terlahir dari rahim Yunani, sebagai tuhan keilmuan, segerumulan perdebatan yang sama sekali tak jauh dari pusaran metafisika. Seandainya tak lahir seorang Aristo, Plato ataupun Socrates, Yunani pasti akan mati.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang, Tuhan sangat adil. Dunia Timur tidak diperintahkan hanya untuk diam, menunggu dan berdecak kagum terhadap keagungan Barat yang semakin menggejolak. Kemudian Tuhan-pun menciptakan Persia dan Sasania sebagai simbol kejayaan Timur. Katakanlah sebagai negara tandingan. Sedikit bergeser ke selatan, muncul budaya India yang turut membesarkan nama Asia Tengah. Ada alur apalagi yang tercatat dalam skenario Tuhan kali itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekah, 612 M. Sebuah titik tolak peradaban raksasa akan segera menyeruak ke dalam pentas dunia. Selama kurang lebih sembilan abad, peradaban yang biasa disebut dengan “mohammedian” (pengikut Muhammad), unggul. Serta merta ia dapat menguasai sebagian besar peta dunia. Ekspansi mulai digalakkan. Tak ayal, akulturasi tak dapat ditepiskan. Yang Barat menjadi ketimur-timuran, dan yang Timur pun ikut menjadi kebarat-baratan. Hal yang lumrah dalam ekosistem peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa itu lalu datang, Sang khalifah menggalakkan penerjemahan skala besar melalui jalur transformasi budaya Haran dan Antokia pada awal abad 10 M. Entahlah, beberapa cendekia mungkin lupa menyebutkan dua area transformer tersebut. Mereka sekedar menyerukan bahwa kegemilangan budaya dan keilmuan Bagdad diadopsi begitu saja dari Alexandria. Joep Hameer, dalam artikelnya yang berjudul “ From Alexandria to Bagdad…”(Leiden Press) hendak mengemukakan kepada jamak sebuah penawaran menarik mengenai motivasi dibalik keterpilihan Haran dan Antokia sebagai penyambung budaya ilmiah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya skenario Tuhan berbicara, tiga peradaban besar itu lambat laun saling bergesekan. Keterpengaruhan diantara mereka tak dapat dihentikan, layaknya air ia pun terus mengalir tanpa bisa dikungkung dengan apapun. Keterpengaruhan budaya, tradisi bahkan agama mendadak ramai. Terlebih dalam diskursus keilmuan, yang niscaya mendapatkan suntikan dari negri lain. Termasuk Islam. Pertanyaan frontal mulai datang bertubi-tubi baik dari kalangan orientalis dan yang lainnya. Mereka menilai sebagian disiplin ilmu Islam hanyalah plagiasi semata. Tudingan yang sangat menohok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, mari kita lupakan sejenak menyoal plagiasi. Toh, dalam dunia intelektual al-Ta’tsir wa al-Ta’atsur dinilai wajar, asal masih dalam batas norma keilmiahan. Dalam hal ini, sejatinya penulis pun mengakui fenomena tersebut, karena bagaimanapun ia termasuk dalam lika-liku proses. Ironis, saat sebagian kepala manusia hanya dapat memahaminya sebagai sebuah intimidasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persematan plagiasi terngiang jelas dalam diskursus filsafat. Filsafat Islam tidak orisinil…! Kira-kira statement itulah yang keluar dari Cara Devo, orientalis asal Prancis. Ternyata ia lupa akan kolaborasi indah antara filsafat dan syari’ah yang dicetuskan Averous ketika di Andalus dahulu, bahkan sampai mengantarkan Barat kesebuah pencerahan zaman. Bukankah karya itu berasal dari sarjana Muslim yang telah berhasil mewarnai filsafat klasik dengan aroma Islam sehingga nampak lain?? Maka sepenuhnya bisa dikatakan bahwa Islam punyai identitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak cukup itu, hujatan lain pelan-pelan masuk ke ranah Ilmu Kalam. Sebagian orientalis mengungkapkan bahwa mayoritas teori-teori ulama Islam (Baca; Ghazali dan al-Baaqilani) terpengaruh banyak oleh teori ketuhanan Nasrani. Entahlah, lagi-lagi para pengkaji itu lupa jika Islam mempunyai Al-Qur’an dan Al-Sunnah, yang sangat jelas berbeda dengan alur pemikiran Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, hampir semua diskursus Islam dihujat orisinilitas-nya, baik Akhlak, Tasawuf, Qur’anic Studies dan yang lain. Hingga akhirnya, dialektika mulai menampakkan wujud. Para cendekia muslim kembali mencari bukti, atas tudingan dan klaim plagiasi yang entahlah mungkin saja benar atau malah sebaliknya. Penghakiman kembali menyeruak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut disimak, ketika ilmu Islam mengalami kematangan mulai abad 8 M sampai akhir abad 11 M. Adalah capaian hebat yang pernah dimiliki peradaban Islam hingga saat ini. Lembaran sejarah itu turut bertutur, meskipun pada awalnya sarjana Islam Bagdad banyak memilih keilmuan Yunani sebagai inspirasi, namun proses setelahnya-lah yang kemudian banyak merubah disiplin ilmu Islam sehingga mempunyai ciri khas tersendiri. Kematangan ilmu saat itu yang tidak patut dilupakan. Kritik, pembaharuan, dan rekonstruksi telah nyata terwujud. Membuka relung ke-independensi-an. Tetapkah dikatakan sebagai plagiasi utuh serta minim inovasi?? Apologi kian membahana. Penelitian bertambah semarak. Perebutan indentitas bahkan semakin terelakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktunya untuk memutarbalikkan nasib. Abad pertengahan menjadi saksi kerelaan ilmu Timur untuk dibawa ke Barat. Fenomena yang indah. Pertautan kembali terjadi, mengulang tragedi beberapa abad silam. Beberapa ilmu matang berbondong-bondong diarahkan ke belahan bumi bagian Barat. Jalur Andalus menjadi pilihan. Astrologi, kedokteran, filsafat, telah berpindah dengan mudah. Selanjutnya, budaya saling simak, saling kutip dan saling mengadopsi menjadi wajar adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5920149803170511624-98872505418437133?l=mariaelfauzy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/feeds/98872505418437133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5920149803170511624&amp;postID=98872505418437133' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/98872505418437133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5920149803170511624/posts/default/98872505418437133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariaelfauzy.blogspot.com/2008/09/arus-balik_10.html' title='Arus Balik'/><author><name>Maria el Fauzy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13969872671080548409</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tnYQ1REJb2Y/TshQ31DHHeI/AAAAAAAAAGU/3tQ_RuBdqPY/s220/Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
